Archive for June, 2010

Sebuah Kisah Di musim Dingin

Negeri China pada masa lalu bukanlah negeri yang kaya seperti saat ini. Pada saat itu, masih sangat banyak rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Sepotong kue bagi mereka bisa berarti sebuah nyawa. Inilah kisahnya:
Siu Lan, seorang janda miskin memiliki seorang putri kecil berumur 7 tahun, Lie Mei. Kemiskinan memaksanya untuk membuat sendiri kue-kue dan menjajakannya di pasar untuk biaya hidup berdua. Hidup penuh kekurangan membuat Lie Mei tidak pernah bermanja-manja pada ibunya, seperti anak kecil lain. Suatu ketika dimusim dingin, saat selesai membuat kue, Siu Lan melihat keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Dia berpesan agar Lie Mei menunggu di rumah karena dia akan membeli keranjang kue yang baru. Pulang dari membeli keranjang kue, Siu Lan menemukan pintu rumah tidak terkunci dan Lie Mei tidak ada di rumah. Marahlah Siu Lan.Putrinya benar-benar tidak tahu diri, sudah hidup susah masih juga pergi bermain dengan teman-temannya. Lie Mei tidak menunggu rumah seperti pesannya. Siu Lan menyusun kue kedalam keranjang, dan pergi keluar rumah untuk menjajakannya. Dinginnya salju yang memenuhi jalan tidak menyurutkan niatnya untuk menjual kue. Bagaimana lagi ? Mereka harus dapat uang untuk makan.

Hati Yang Indah

Rumah kami langsung berseberangan dengan pintu masuk RS John Hopkins di Baltimore. Kami tinggal dilantai dasar dan menyewakan kamar-kamar lantai atas pada para pasien yang ke klinik itu.

Suatu petang dimusim panas, ketika aku sedang menyiapkan makan malam, ada orang mengetuk pintu. Saat kubuka, yang kutatap ialah seorang pria dengan wajah yang benar buruk sekali rupanya.
“Lho, dia ini juga hampir cuma setinggi anakku yang berusia 8 tahun,” pikirku ketika aku mengamati tubuh yang bungkuk dan sudah serba keriput ini. Tapi yang mengerikan ialah wajahnya, begitu miring besar sebelah akibat bengkak, merah dan seperti daging mentah., hiiiihh…!
Tapi suaranya begitu lembut menyenangkan ketika ia berkata, “Selamat malam. Saya ini kemari untuk melihat apakah anda punya kamar hanya buat semalam saja. Saya datang berobat dan tiba dari pantai Timur, dan ternyata tidak ada bis lagi sampai esok pagi.”
Ia bilang sudah mencoba mencari kamar sejak tadi siang tanpa hasil, tidak ada seorangpun tampaknya yang punya kamar.
“Aku rasa mungkin karena wajahku… Saya tahu kelihatannya memang mengerikan, tapi dokterku bilang dengan beberapa kali pengobatan lagi…”
Untuk sesaat aku mulai ragu-ragu, tapi kemudian kata-kata selanjutnya menenteramkan dan meyakinkanku: “Oh aku bisa kok tidur dikursi goyang diluar sini, di beranda samping ini. Toh bisku esok pagi-pagi juga sudah berangkat.”

Walt Disney

“Ratusan karya besar ini sebenarnya diilhami oleh satu gagasan kecil. Hanya saja saya tidak berpangku tangan akan gagasan itu, tapi saya mewujudkannya, karena gagasan se-brilian apapun takkan berarti bila tidak diwujudkan. Sebaliknya, sesederhana apa pun ide itu, akan besar bila diwujudkan”
The Story of Walt Disney
Setelah mengalami kebangkrutan dan jadi pengangguran selama berbulan-bulan akhirnya ia mendapat order untuk membuat film animasi untuk anak-anak yang bercerita tentang pentingnya menyikat gigi. Meskipun nilai kontraknya tak terlalu besar namun Walt mengerjakan film ini dengan sungguh2 & penuh konsentrasi. Hasilnya produk ini sangat memuaskan pihak konsumen yang berjanji akan memberinya order tambahan. Namun janji itu tak pernah terwujud, karena sesudah order pertama itu, Walt kembali menganggur. “Selama menganggur itu saya banyak merenung. Banyak orang senang akan karya saya, tapi mengapa kehidupan saya mengenaskan ?” tanya Walt dalam hati. Terus terang, saya tak dapat menerima kenyataan ini. Sesuai dengan bakat dan karya saya, seharusnya saya bisa kaya dgn hasil karya saya.” imbuhnya. Renungan iniah yang membuatnya nekat untuk pergi ke-Hollywood tanpa bekal apa pun kecuali talentanya. Ia nekat berjuang untuk menjadi orang sukses di-Hollywood.

Suatu Pagi di Stasiun

Suatu Pagi Di Emplasemen Stasiun Jatinegar. Kereta Api Bima yang saya tumpangi dari Madiun perlahan-lahan memasuki stasiun Jatinegara. Para penumpang yang akan turun di Jatinegara saya lihat sudah bersiap-siap di depan pintu. Sementara itu, dari jendela, saya lihat beberapa orang porter/buruh angkut berlomba lebih dulu masuk ke kereta yang masih melaju. Mereka berpacu dengan kereta, persis dengan kehidupan mereka yang terus berpacu dengan tekanan kehidupan kota Jakarta. Saat kereta benar-benar berhenti, kesibukan penumpang yang turun dan porter yang berebut menawarkan jasa kian kental terasa. Sementara di luar kereta saya lihat kesibukan kaum urban yang akan menggunakan kereta. Mereka kebanyakan berdiri,karena fasilitas tempat duduk kurang memadai. Sebuah lagu lama PT. KAI yang selalu dan selalu diputar dengan setia.

Terlambat

Rumah sakit ditempat saya bekerja, biasanya sangat sepi pada bulan Januari. Saya berada di ruang suster jaga di lantai tujuh. Saat itu sudah jam 9 malam. Saya sampirkan sthetoscope melingkari leher saya dan menuju kamar 712, kamar terakhir dari lantai 7. Kamar 712 dimasuki pasien baru bernama Tuan Williams, seorang laki laki yang pendiam dan tidak menceritakan tentang keluarganya.
Pada saat saya memasuki kamar, matanya sepertinya ingin tahu siapa yang datang, tetapi akhirnya sayu ketika mengetahui saya yang memasuki kamar tersebut. Saya tekan stethoscope ke dadanya dan mendengarkannya. Cepat, perlahan, kadang kadang tidak beraturan. Ada indikasi bahwa dia menderita sedikit. Ia menderita serangan jantung beberapa jam yang lalu.
Lalu ia berkata, “Suster, maukah kamu..”, lalu ia terdiam, dan dari kelopak matanya mengalir air mata, saya sentuh tangannya menunggu kelanjutan bicaranya, lalu ia mengusap airmatanya dan berkata, “Maukah engkau menelpon anakku dan memberitahukannya bahwa aku terkena serangan jantung.. saya tinggal sendirian, dan dia adalah satu satunya sanak saudara saya.”

Malaikat Pelindung

Suatu ketika ada seorang bayi yang siap untuk dilahirkan. Maka ia bertanya kepada Tuhan, “Ya Tuhan, engkau akan mengirimkan aku ke bumi. Tapi aku takut, aku masih sangat kecil dan tak berdaya. Siapakah nanti yang akan melindungiku disana?”. Tuhanpun menjawab, “Diantara semua malaikat-Ku, Aku akan memilih seseorang yang khusus untukmu, dia akan merawat dan mengasihimu.”
Si kecil bertanya lagi, “Tapi disini disurga ini aku tak berbuat apa-apa, kecuali tersenyum dan bernyanyi. Semua itu sudah cukup untuk membuatku bahagia.” Tuhanpun menjawab, “Taka apa, Malaikatmu itu akan selalu menyenandungkan lagu untukmu dan dia akan membuatmu tersenyum setiap hari. Kamu akan merasakan cinta dan kasih sayang, dan itu semua pasti akan membuatmu bahagia.”

Nenek dan Minyak Goreng

Suatu ketika saya bertemu dengan seorang nenek. Dia, yang yang ringkih dengan kebaya bermotif kembang itu, tampak sedang memegang sebuah kantong plastik. Hitam warnanya, dan tampak lusuh. Saya duduk disebelahnya, di atas sebuah metromini yang menuju ke stasiun KA.
Dia sangat tua, tubuhnya membungkuk, dan kersik di matanya tampak jelas. Matanya selalu berair, keriputnya, mirip dengan aliran sungai, berkelok-kelok.
Hmm…dia tampak tersenyum pada saya. Sayapun balas tersenyum. Dia bertanya, mau kemana. Saya pun menjawab mau kuliah, sambil bertanya, apa isi plastik yang dipegangnya.
Minyak goreng, jawabnya. Ah, rupanya, dia baru saja mendapat jatah pembagian sembako. Pantas, dia tampak letih. Mungkin sudah seharian dia mengantri untuk mendapatkan minyak itu.
Tanpa ditanya, dia kemudian bercerita, bahwa minyak itu, akan dipakai untuk mengoreng tepung buat cucunya. Di saat sore, itulah yang bisa dia berikan buat cucunya. Dia berkata, cucunya sangat senang kalau digorengkan tepung. Sebab, dia tak punya banyak uang untuk membelikan yang lain selain gorengan tepung buatannya. Itupun, tak bisa setiap hari disajikan. Karena, tak setiap hari dia bisa mendapatkan minyak dan tepung gratis.
Degh. Saya terharu. Saya membayangkan betapa rasa itu begitu indah. Seorang nenek yang rela berpanas-panas untuk memberikan apa yang terbaik buat cucunya. Sang nenek, memberikan saya hikmah yang dalam sekali.

Janji Pertemuan Dengan Cinta

Tentang kisah kasih dua sejoli yang belum pernah bertemu selain lewat surat. Saat mereka bertemu pertama kali ternyata apa yang terjadi justru berlainan dengan apa yang mereka bayangkan selama ini.

Jam 6 kurang 6 menit, kata jam bundar besar diatas meja informasi di Stasiun KA Grand Central. Letnan Angkatan Darat bertubuh jangkung & muda usia yang baru datang dari arah rel kereta mengangkat wajahnya yang tebakar matahari & matanya memicing untuk melihat waktu yang tepat. Jantungnya berdebar keras sehingga mengejutkannya karena ia tak dapat mengendalikannya. 6 menit lagi, ia akan bertemu dengan wanita yang telah mengisi tempat istimewa dalam hidupnya selama 1 bulan ini, wanita yang belum pernah ia lihat, tapi yang kata­-kata tertulisnya telah menemani & senantiasa menabahkan hatinya. Ia berdiri sedekat mungkin ke meja informasi.

Read the rest of this entry »

NO ACTION, NOTHING HAPPEN
Tugas kita sebagai manusia BUKANLAH UNTUK BERHASIL
melainkan UNTUK MENCOBA. Karena di dalam mencoba itulah kita menemukan cara untuk berhasil.
Jadi jangan ragu lagi, LAKUKAN ……….

KNOWING IS NOTHING, APPLYING WHAT YOU KNOW IS EVERYTHING…..
Sekedar tahu tidak ada gunanya. Menerapkan yang anda tahu adalah segalanya…. Read the rest of this entry »

Kado Terindah

Jam dinding kamarku menunjukkan pukul sebelas. Suasana di luar kamar sudah sepi. Lampu juga sudah mati semua. Papa baru saja mematikan TV nya dan masuk kamar untuk tidur. Kamar Kezia di sebelah sudah tidak bersuara.
Begitu juga kamar Neil di seberang kamarku, speaker cd player nya yang biasa meneriakkan lagu-lagu pop rock dengan volume maksimal juga sudah beristirahat sejak jam sepuluhan tadi. Aku duduk di kursi meja belajarku, memandang ke luar jendela yang aku buka. Aku masih terjaga dan belum juga mengantuk.
Langit malam ini bersih, dengan bintang yang lumayan banyak. Kuputuskan untuk membuka pintu balkon kamarku dan memandangi bintang-bintang di atas sana.
Aku berdiri dan menengadah ke atas, lalu kuambil teropong bintangku dari lemari dan aku mulai menghitung jumlah bintang yang bisa aku hitung. Satu.., dua.., tiga… Hmm… semuanya ada enam belas. Aku jadi teringat, satu jam lagi aku berumur enam belas tahun.