Dunia ini, penuh Dendam & Permusuhan. Didalam Keluarga, lingkungan sekitar, hingga dunia Bisnis. Semuanya penuh persaingan & saling menjatuhkan. Adakah Cara menghentikannya ???
Pada saat itu udara di luar sangat dingin, sehingga danau2 di sekitar gunung Tay San telah menjadi es semua, walaupun demikian di bawah satu pohon yang rindang duduk bersila seorang pria dengan badan bagian atasnya terbuka, seperti orang lagi kepanasan. Anehnya walaupun di luar udara sangat dingin, namun keluar asap mengepul dari kepala orang itu, seperti asap dari kawah gunung, kalau orang tidak mengetahuinya, pasti akan menduga bahwa orang ini kepalanya sedang kebakaran.
Kenyataannya tidaklah demikian, pendekar ini sedang menjalankan dan mempraktekkan ilmu “Api panas” yang dalam bahasa Mandarin-nya disebut Hot Fai Ya (alias ‘Hot Fire’ hehehe…). Kalau beras mentah digenggam di tangannya dlm jangka waktu 10 menit saja pasti sudah bisa jadi nasi, karena tangannya bisa berfungsi seperti rice cooker untuk menanak nasi.
Puluhan tahun waktu & tenaganya telah ia korbankan untuk mempelajari ilmu ini. Setiap hari ia diharuskan minum darah ular Kobra yang panas minimum 2 liter, makan kambing hidup 1 ekor, dsb, hanya dengan satu tujuan saja ialah untuk membalas dendam terhadap suhengnya (kakak seperguruannya) sendiri, walaupun sebenarnya ia dahulu dihajar oleh suhengnya, ketika ia tertangkap basah karena berzinah dengan perempuan tetangganya. Sekarang tibalah saatnya dimana ia merasa bisa membalas dendam kesumat ini terhadap suheng-nya karena telah mempermalukannya di depan rekan2 seperguruan.
Suhengnya sekarang telah menjadi Hweshio di-pertapaan puncak Gunung Tay San, setelah di cari ber-bulan2 akhirnya ketemu juga. Ia menantang suhengnya untuk ber-duel kembali. Tetapi suhengnya menolak, mengingat ia sekarang sudah tidak mau bertanding lagi dengan menggunakan kekerasan, tetapi karena dipaksa terus akhirnya ia bersedia, tetapi hanya dengan satu persyaratan ialah aturan bertanding harus ditentukan oleh suhengnya.
Besok jam 12 siang (high noon) duel akan diadakan, di atas lapangan batu koral di puncak bersalju gunung Tay San. Aturan Pertandingan yang ditetapkan suhengnya : si pendekar boleh memukul sebanyak tiga kali pada suhengnya, setelah itu suhengnya akan memukul balik sebanyak tiga kali. Sang Pendekar tersenyum sinis, ia yakin bisa memukul mati suhengnya jangankan dengan tiga kali pukulan, dengan satu kali pukulan saja ia bisa merobohkan pohon beringin besar dan membuat semua daun2nya menjadi hangus, apalagi dengan 3 pukulan. “Hahahaha suhengku pasti mati kali ini.” pikirnya.
Ia menarik nafas se-kuat2nya dan seluruh tenaga dikumpulkannya sehingga bergetar bumi di sekitarnya bahkan telah meninggalkan lubang setengah tombak dalamnya, sedemikian kuatnya itu ilmu Hot Fai Ya itu. Pukulan pertama ditujukan ke bagian dada dari suhengnya “Halilintar Membelah Awan !!! Grrrkkk…zap, zap, zap…Duuaaarrrrrrrrrzz…” Bunyinya sangat keras, tetapi ia merasa seperti memukul kapas yg lembut dan ternyata anehnya suhengnya tidak bergeming sedikitpun juga.
Jurus untuk pukulan kedua telah disiapkannya lagi. Kali ini harus lebih keras lagi dari yg pertama, ketika ia mengumpulkan seluruh tenaganya terdengar bunyi tulang2 kerotokan, karena seluruh tenaga telah disalurkan sepenuhnya ketangan kanannya. Sekarang pukulan dikerahkan dan ditujukan kebawah perut suhengnya. “Cakar Naga Mencengkram Samudera !!! Splatz..Crrrzzzz Blaammmm, Duaarrr, Duarrrr, crrsszz…” rupanya pukulan kali ini cukup keras sehingga membuat suhengnya terpukul mundur satu langkah. Walaupun demikian suhengnya tidak jatuh juga, bahkan kali ini ia merasa seperti memukul salju, selain lembut juga terasa dingin, sehingga tangannya yang tadinya merah membara berubah menjadi biru kedinginan.
Ia mulai bingung karena ia sekarang harus meluncurkan pukulannya yang terakhir, ia komat-kamit membaca mantera. Seluruh pernafasan dan tenaganya dikumpulkan, sehingga muka dan kepalanya menjadi merah membara dan mengeluarkan asap. Demikian panasnya tenaga yg terkumpul itu, sehingga salju2 di sekitar tempatnya berpijak mencair & rambut2nyapun menjadi rontok kepanasan. Ia yakin sekarang ia bisa membunuh suhengnya karena inilah pukulan yg super dan mega ampuh dengan menggunakan jurus “Anjing Panas” alias Hot Dog. Ia meloncat ke-awan & berbalik serta mengarahkan pukulan ke-arah kepala suhengnya dengan keras sekali “Matahari Menghantam Bumi..!!! Ciaaatttt…Ddrrrrrkkkkkk…Ciuuzzz…Ciuuszz Boommmm..Diieennkkk…Dhuuuaaaarrrrrrrg ggkkk” Saking kerasnya sehingga terdengar bunyi Brruaaaa..aak, karena pukulan diluncurkan dari atas kebawah, kaki suhengnya menjadi amblas masuk beberapa jengkal ke tanah bersalju.
Ternyata selain muka pucat tiada reaksi apapun juga yang kelihatan dari suhengnya. Akhirnya ia menyadari bahwa ilmu silat suhengnya ternyata masih jauh diatasnya. Tiba-tiba, timbullah rasa takut akan balasan pukulan dari suhengnya, karena sekarang ganti giliran suhengnya untuk memukul balik sebanyak 3 kali. la menggigil, keringat deras mengucur di dahinya. Ia benar2 ketakutan sekarang. Perlahan2 Suhengnya berjalan ke arahnya & membuat beberapa gerakan aneh. Sang pendekar penuh dendam ini sudah pasrah. la sangat ketakutan akan balasan suhengnya. Ia benar2 telah merasa kalah.
Suhengnya sudah melesat dari arah tenggara dengan kecepatan seperti kilat, dan mendadak suhengnya sudah berhenti tepat di-depannya.
Tiba2, sambil mengelus punggungnya & memberikan senyuman lembut, suhengnya berkata: “Sutee (adik seperguruan), Aku mengampuni & mengasihimu, biarlah saya yg mengaku kalah !” setelah itu tanpa sepatah katapun juga suhengnya dengan tenang pergi meninggalkan sang adik seperguruan yg sdg menggigil ketakutan.
Sang pendekar hanya bisa terbengong-bengong, menyaksikan suhengnya berbesar hati mengalah padanya, padahal jelas2an suhengnya bisa menghabisinya dengan mudah sesuai perjanjian. Tetapi yang si pendekar tidak mengetahuinya, ternyata suhengnya telah mendapatkan luka dalam yang parah sekali, akibat ketiga pukulan2 tersebut bahkan suhengnya butuh waktu 3 hari untuk bisa bangkit kembali dari tempat tidurnya setelah pertarungan itu. Namun, karena begitu Besar Kasih Suheng akan adiknya, maka Ia rela mengakhiri pertandingan ini dengan mengaku kalah & tanpa keinginan membalas dendam & menghukum adiknya, bahkan mengampuni & mengasihinya, supaya adiknya tidak binasa & bisa merubah sifatnya. Walaupun untuk itu ia harus berkorban, tetapi suhengnya telah bisa mengakhiri rasa permusuhan & dendam diantara mereka.
Renungkanlah siapa yg keluar sebagai pemenang dari duel ini?
There’s no Salvation without Forgiven
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.










Leave a Reply