Pelajaran Hidup

Saat kau berumur 1 tahun,
dia menyuapi dan memandikanmu
Sebagai balasannya, kau menangis sepanjang malam

Saat kau berumur 2 tahun,
dia mengajarimu bagaimana cara berjalan
Sebagai balasannya, kau kabur saat dia memanggilmu

Saat kau berumur 3 tahun,
dia memasak semua makananmu dengan kasih sayang
Sebagai balasannya, kau buang piring berisi makanan ke lantai

Saat kau berumur 4 tahun,
dia memberimu pensil berwarna
Sebagai balasannya, kau coret-coret dinding rumah dan meja makan

Saat kau berumur 5 tahun,
dia membelikanmu pakaian-pakaian yang mahal dan indah
Sebagai balasannya, kau memakainya untuk bermain di kubangan lumpur dekat rumah

Saat kau berumur 6 tahun,
dia mengantarmu pergi ke sekolah
Sebagai balasannya, kau berteriak : “NGGAK MAU!”
Read the rest of this entry »

Berfikir Positif

Luangkan 5 menit waktu anda untuk membaca kisah nyata dibawah ini, semoga sedikit banyak dapat memberikan manfaat bagi diri Anda…

Suatu ketika di Negara Eropa, seorang kriminal buronan negara berhasil tertangkap. Sang kriminal adalah buronan kelas kakap yang telah melakukan banyak sekali kejahatan, perampokan, pembunuhan, terorisme dan tidaklah terhitung daftarnya.

Pengadilan Negara menjatuhkan vonis hukuman mati kepadanya dan mereka mulai mendiskusikan hukuman apa yang akan mereka berikan kepada sang kriminal. Mereka memilih beberapa alternatif, diantaranya hukuman gantung, hukuman tembak, kursi listrik, ruang beracun,

dll. Read the rest of this entry »

Tuhan Tidak Pernah Tidur

Malam telah larut saat saya meninggalkan kantor. Telah lewat pukul 11 malam. Pekerjaan yang menumpuk, membuat saya harus pulang selarut ini.

Ah, hari yang menjemukan saat itu. Terlebih, setelah beberapa saat berjalan, warna langit tampak memerah. Rintik hujan mulai turun. Lengkap sudah, badan yang lelah ditambah dengan “acara” kehujanan.

Setengah berlari saya mencari tempat berlindung. Untunglah, penjual nasi goreng yang mangkal di pojok jalan, mempunyai tenda sederhana. Lumayan, pikir saya. Segera saya berteduh, menjumpai bapak penjual yang sendirian, ditemani rokok dan lampu petromak yang masih menyala.

Dia menyilahkan saya duduk.

“Disini saja dik, daripada kehujanan…,” begitu katanya saat saya meminta ijin berteduh.

Benar saja, hujan mulai deras, dan kami makin terlihat dalam kesunyian yang pekat.

Karena merasa tak nyaman atas kebaikan bapak penjual dan tendanya, saya berkata, “Tolong bikin mie goreng pak, dimakan di sini saja.” Read the rest of this entry »

Obat Mujizat

Saat itu, menjelang hari raya Idul Fitri. Semua orang berbelanja banyak hal untuk mempersiapkannya. Anik, seorang adis kecil berusia 7 tahun terlihat berlari terengah menuju sebuah apotik. Setibanya di-apotik itu, Anik mengeluarkan uang 10 ribu rupiah didepan kasir & bertanya, “Pak, saya mau beli obat mujizat?” si-penjJaga apotik bingung. “Cari apa, dik?” “Saya mau beli obat mujizat” kata Anik. “Hah? kita nggak jual mujizat, nggak ada obat namanya mujizat…” kata penjaga apotik kebingungan. “Tapi bapak saya bilang ada, kok.” kata Anik memaksa. Ya, itu Bapakmu yg edan.” kata penjaga apotik ketus. Read the rest of this entry »

Anda sedang men-seleksi calon karyawan baru?? Ada segudang pertanyaan yang dapat diajukan untuk mengetahui cara berfikir dan wawasan mereka. Salah satu contoh pertanyaan yang dapat diajukan untuk test bagi calon karyawan sebagai berikut:

Read the rest of this entry »

Kasih Seorang Ayah

Sejak dulu, radio merupakan salah satu-satunya teman yang selalu menemani saya ketika sedang mengerjakan tugas, belajar, maupun bersantai. Tidak pernah bosan rasanya mendengarkan rancangan yang disajikan oleh berbagai stasiun radio.

Pernah pada satu malam dulu di sebuah stasiun radio, sedang berkumandang rancangan dimana pendengar berbagi pengalaman hidup mereka. Perhatian saya yang pada mulanya tercurah pada tugas-tugas pejabat beralih ketika seorang wanita bercerita tentang ayahnya. Wanita ini adalah anak tunggal dari sebuah keluarga sederhana. Sejak kecil dia sering dimarahi oleh ayahnya.

Di mata si ayah, tak satupun yang dikerjakan olehnya betul. Setiap hari dia berusaha keras untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan ayahnya, namun tetap saja hanya ketidakpuasan si ayah yang didapati.
Read the rest of this entry »

Tempayan Retak

Seorang tukang air di India memiliki dua tempayan besar, masingĀ­-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawanya menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak retak. Tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumahnya, namun tempayan yg retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh. Selama 2 tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa 1, 5 tempayan air ke rumah. Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya,karena dapat menunaikan tugasnya dengan baik. Tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannya. Read the rest of this entry »

Membuka Pintu Hati

Sekelompok orang yang baru saja meninggal mendapatkan diri mereka sedang berdiri antre di depan gerbang akhirat. Sambil menunggu pengadilan Illahi, mereka mulai menanyai diri mereka sendiri mengenai perilaku mereka di dunia.

“Apakah dulu aku menjadi orang tua yang baik?”
“Apakah aku berhasil mencapai sesuatu yang berharga dalam hidupku?”
“Apakah aku rajin beribadah sepanjang malam?”
“Apakah aku cukup berderma kepada fakir miskin?”

Dan, ketika akhirnya mereka sampai di gerbang, semua jiwa itu dihadapkan hanya pada satu pertanyaan, “Seberapa besar kamu dulu mengasihi?” Read the rest of this entry »

Kisah Anak Lelaki 5 Tahun

Di hari terakhir sebelum hari lebaran, aku bergegas pergi ke Supermarket untuk membeli beberapa hadiah lagi yang belum sempat terbeli pada waktu sebelumnya.

Ketika saya melihat kekerumunan orang disana, saya mulai mengeluh pada diri sendiri.

“Kayaknya saya akan selamanya berada disini nih dan padahal saya masih harus pergi kebeberapa tempat lagi…”

Lebaran, benar-benar makin tahun makin menyebalkan. Padahal aku berharap bisa santai-santai, lalu tidur dan bangun sesudahnya…

Namun demikian, aku langkahkan juga kakiku menuju ke bagian mainan anak, dan disana aku mulai melihat-lihat harga, dan bertanya-tanya betul nggak sih anak-anak bermain dengan mainan-mainan semahal ini.

Sembari memcari-cari mainan dibagian itu, aku melihat seorang anak laki kecil sekitar 5 tahunan, merapatkan sebuah boneka kedadanya sendiri.

Dia terus menyentuh rambut boneka itu dengan.. tatapan yang sedih.

Aku jadi bertanya-tanya untuk siapakah boneka itu.

Kemudian si anak lelaki kecil itu memandang kepada seorang wanita tua yang berdiri disebelahnya: “Nek, nenek yakin kalau aku nggak punya cukup uang?”
Read the rest of this entry »

Saya suka menonton serial Ally McBeal, dan dalam salah satu episode-nya diceritakan seorang gadis remaja yang hanya punya waktu 6 minggu untuk hidup karena masalah jantung.

Serena, nama gadis itu, memiliki seorang ayah yang dipenjara seumur hidup karena terbukti membunuh istrinya sendiri — tentunya ibu dari Serena. Tetapi sekarang, hanya jantung sang ayah yang bisa memberi harapan pada Serena untuk tetap hidup.

Yang menjadi kendala adalah masalah hukum. Hukum negara bagian di mana mereka tinggal tidak mengijinkan hal-hal semacam suntik mati, dll, apalagi “membunuh” seorang manusia untuk menyelamatkan manusia lainnya. Pengacara Serena (dari badan hukum di mana Ally bekerja) mengajukan argumen:

Sederhana saja. Si ayah tidak memiliki masa depan. Dia akan menghabiskan seluruh hidupnya di penjara. Dia rela memberikan jantungnya kepada anaknya. Si anak masih remaja. Masa depannya masih panjang. Jadi, biarkan Serena hidup dengan jantung ayahnya…. Ini bukan pembunuhan. Ini adalah masalah seorang ayah ingin menolong anaknya. Read the rest of this entry »