<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pengharapan.com &#187; adik</title>
	<atom:link href="http://pengharapan.com/tag/adik/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pengharapan.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Feb 2012 12:52:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Seandainya &#8230;&#8230;&#8230;.</title>
		<link>http://pengharapan.com/seandainya.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/seandainya.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jan 2012 14:22:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[adik]]></category>
		<category><![CDATA[kakak]]></category>
		<category><![CDATA[seandainya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=1264</guid>
		<description><![CDATA[Roy Angel adalah petani miskin yang memiliki kakak seorang milyuner. Pada tahun 1940, ketika bisnis minyak bumi sedang mengalami puncak, kakaknya menjual padang rumput di Texas pada waktu yang tepat dengan harga yang sangat tinggi. Seketika itu kakak Roy Angel menjadi kaya raya. Setelah itu kakak Roy Angel menanam saham pada perusahaan besar dan memperoleh [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Roy Angel adalah petani miskin yang memiliki kakak seorang milyuner. Pada tahun 1940, ketika bisnis minyak bumi sedang mengalami puncak, kakaknya menjual padang rumput di Texas pada waktu yang tepat dengan harga yang sangat tinggi. Seketika itu kakak Roy Angel menjadi kaya raya. Setelah itu kakak Roy Angel menanam saham pada perusahaan besar dan memperoleh untung yang besar. Kini dia tinggal di apartemen mewah di New York dan memiliki kantor di Wallstreet.</p>
<p>Seminggu sebelum Natal, kakaknya menghadiahi Roy Angel sebuah mobil baru yang mewah dan mengkilap.<br />
<span id="more-1264"></span>Suatu pagi seorang anak gelandangan menatap mobilnya dengan penuh kekaguman.<br />
&#8220;Hai.. nak&#8221; sapa Roy<br />
Anak itu melihat pada Roy dan bertanya &#8220;Apakah ini mobil Tuan?&#8221;<br />
&#8220;Ya,&#8221; jawab Roy singkat.<br />
&#8220;Berapa harganya Tuan?&#8221;<br />
&#8220;Sesungguhnya saya tidak tahu harganya berapa&#8221;.<br />
&#8220;Mengapa Tuan tidak tahu harganya, bukankan Tuan yang punya mobil ini?&#8221;<br />
Gelandangan kecil itu bertanya penuh heran.<br />
&#8220;Saya tidak tahu karena mobil ini hadiah dari kakak saya&#8221;<br />
Mendengar jawaban itu mata anak itu melebar dan bergumam, &#8220;Seandainya&#8230;. seandainya&#8230;.&#8221;<br />
Roy mengira ia tahu persis apa yang didambakan anak kecil itu.<br />
&#8220;Anak ini pasti berharap memiliki kakak yang sama seperti kakakku.&#8221;<br />
Ternyata Roy salah menduga, saat anak itu melanjutkan kata-katanya:<br />
&#8220;Seandainya&#8230; seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu&#8230;..&#8221;</p>
<p>Dengan masih terheran-heran Roy mengajak anak itu berkeliling dengan mobilnya. Anak itu tak henti-henti memuji keindahan mobilnya.<br />
Sampai satu kali anak itu berkata,&#8221;Tuan bersediakah mampir ke rumah saya ? Letaknya hanya beberapa blok dari sini&#8221;.<br />
Sekali lagi Roy mengira dia tahu apa yang ingin dilakukan anak ini.<br />
&#8220;Pasti anak ini ingin memperlihatkan pada teman-temannya bahwa ia telah naik mobil mewah.&#8221; pikir Roy.<br />
&#8220;OK, mengapa tidak&#8221;, kata Roy sambil menuju arah rumah anak itu.<br />
Tiba di sudut jalan si anak gelandangan memohon pada Roy untuk berhenti sejenak,<br />
&#8220;Tuan, bersediakah Tuan menunggu sebentar? Saya akan segera kembali&#8221;.<br />
Anak itu berlari menuju rumah gubuknya yang sudah reot.</p>
<p>Setelah menunggu hampir sepuluh menit, Roy mulai penasaran apa yang dilakukan anak itu dan keluar dari mobilnya, menatap rumah reot itu. Pada waktu itu ia mendengar suara kaki yang perlahan-lahan. Beberapa saat kemudian anak gelandangan itu keluar sambil menggendong adiknya yang lumpuh.<br />
Setelah tiba di dekat mobil anak gelandangan itu berkata pada adiknya:<br />
&#8220;Lihat&#8230; seperti yang kakak bilang padamu. Ini mobil terbaru. Kakak Tuan ini menghadiahkannya pada Tuan ini. Suatu saat nanti kakak akan membelikan mobil seperti ini untukmu&#8221;.</p>
<p>Bukan karena keinginan seorang anak gelandangan yang hendak menghadiahkan mobil mewah untuk adiknya yang membuat Roy tak dapat menahan haru pada saat itu juga, tetapi karena ketulusan kasih seorang kakak yang selalu ingin memberi yang terbaik bagi adiknya. Seandainya saya dapat menjadi kakak seperti itu.</p>
<p>Kisah ini diambil dari sebuah kisah nyata yang ditulis dalam sebuah buku &#8220;Stories for the family&#8217;s heart&#8221; by Alice Gray.</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/seandainya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Anak Lelaki 5 Tahun</title>
		<link>http://pengharapan.com/kisah-anak-lelaki-5-tahun.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/kisah-anak-lelaki-5-tahun.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Aug 2010 03:20:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[adik]]></category>
		<category><![CDATA[anak lelaki]]></category>
		<category><![CDATA[boneka]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=386</guid>
		<description><![CDATA[Di hari terakhir sebelum hari lebaran, aku bergegas pergi ke Supermarket untuk membeli beberapa hadiah lagi yang belum sempat terbeli pada waktu sebelumnya.
Ketika saya melihat kekerumunan orang disana, saya mulai mengeluh pada diri sendiri.
&#8220;Kayaknya saya akan selamanya berada disini nih dan padahal saya masih harus pergi kebeberapa tempat lagi&#8230;&#8221;
Lebaran, benar-benar makin tahun makin menyebalkan. Padahal [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di hari terakhir sebelum hari lebaran, aku bergegas pergi ke Supermarket untuk membeli beberapa hadiah lagi yang belum sempat terbeli pada waktu sebelumnya.</p>
<p>Ketika saya melihat kekerumunan orang disana, saya mulai mengeluh pada diri sendiri.</p>
<p>&#8220;Kayaknya saya akan selamanya berada disini nih dan padahal saya masih harus pergi kebeberapa tempat lagi&#8230;&#8221;</p>
<p>Lebaran, benar-benar makin tahun makin menyebalkan. Padahal aku berharap bisa santai-santai, lalu tidur dan bangun sesudahnya&#8230;</p>
<p>Namun demikian, aku langkahkan juga kakiku menuju ke bagian mainan anak, dan disana aku mulai melihat-lihat harga, dan bertanya-tanya betul nggak sih anak-anak bermain dengan mainan-mainan semahal ini.</p>
<p>Sembari memcari-cari mainan dibagian itu, aku melihat seorang anak laki kecil sekitar 5 tahunan, merapatkan sebuah boneka kedadanya sendiri.</p>
<p>Dia terus menyentuh rambut boneka itu dengan.. tatapan yang sedih.</p>
<p>Aku jadi bertanya-tanya untuk siapakah boneka itu.</p>
<p>Kemudian si anak lelaki kecil itu memandang kepada seorang wanita tua yang berdiri disebelahnya: &#8220;Nek, nenek yakin kalau aku nggak punya cukup uang?&#8221;<br />
<span id="more-386"></span>Wanita tua itu menjawab: &#8220;Kamu kan sudah tahu bahwa kamu nggak punya cukup uang untuk membeli boneka ini, sayang.&#8221;</p>
<p>Kemudian si nenek memintanya untuk diam disitu selama 5 menit sementara dia pergi berkeliling. Si nenek meninggalkannya dengan bergegas.</p>
<p>Si anak lelaki kecil tetap memegang boneka itu dalam tangannya.</p>
<p>Akhirnya, aku mulai berjalan menuju kearahnya dan aku menanyakannya kepada siapa boneka itu akan diberikan?</p>
<p>&#8220;Boneka inilah yang sangat diidamkan oleh adik perempuan saya dan dia sangat menginginkannya pada lebaran sekarang ini. Dia sangat yakin bahwa saya akan membawakan boneka ini untuknya.&#8221;</p>
<p>Aku mencoba meyakinkan bahwa kamu akan membawakan boneka itu untuk adiknya, dan kamu jangan mengkawatirkannya.</p>
<p>Tapi kemudian dia menjawabku dengan sangat sedih.</p>
<p>&#8220;Tidak.. Aku tidak mungkin membawakan boneka ini ketempat dia berada sekarang. Saya harus memberikannya kepada Ibu saya sehingga ibu dapat memberikannya ketika Ibu pergi ketempatnya.&#8221;</p>
<p>Matanya terlihat sangat sedih.. ketika dia mengatakan kalimat itu. &#8220;Adik saya telah pergi menghadap Tuhan. Ayah berkata bahwa Ibu juga akan pergi menemui Tuhan segera, jadi saya pikir tentunya Ibu bisa membawakan boneka ini untuk diberikan kepada adik saya.&#8221;</p>
<p>Jantungku hampir putus rasanya, mendengar penjelasan anak itu&#8230;</p>
<p>Betapa mata hati saya terbuka mendengar perkataan anak itu, bahwa masih ada yang namanya cinta di dunia ini yang sangat mulia dari hati seorang anak berusia 5 tahun. Karena selama ini saya merasa semua yang ada di dunia ini adalah semu termasuk rasa cinta yang saya miliki.</p>
<p>Anak kecil itu memandang saya dan mengatakan: &#8220;Saya sudah pesankan ke Ayah untuk mengatakan ke Ibu jangan pergi dulu. Saya bilang tolong tunggu saya sampai saya pulang dari supermarket.&#8221;</p>
<p>Selanjutnya anak itu memperlihat selembar foto dirinya yang lucu dimana dia sedang tertawa. Dia kemudian berkata kepadaku: &#8220;Saya juga pengin Ibu membawa serta foto ini bersamanya, supaya Ibu tidak lupa denganku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku sangat mencintai Ibuku.. padahal saya berharap Ibu tidak seharusnya meninggalkanku tapi.. Ayah berkata bahwa Ibu harus pergi untuk menemani adik perempuan saya.&#8221;</p>
<p>Kemudian.. ia memandangi boneka itu lagi dengan sedih dan mengusap rambutnya perlahan.</p>
<p>Aku cepat mengambil dompetku dan mengeluarkan beberapa lembar uang dan berkata kepada anak itu: &#8220;Bolehkah aku hitung uangmu, mungkin kamu punya cukup uang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik&#8230;&#8221; katanya lirih. &#8220;Saya berharap ada cukup uangnya.&#8221;</p>
<p>Aku sisipkan uangku kedalam uangnya tanpa sepengetahuannya dan kami mulai menghitungnya. Ternyata uangnya cukup untuk boneka itu bahkan lebih.</p>
<p>Anak laki itu berkata: &#8220;Terima kasih Tuhan atas pemberian uang ini.&#8221;</p>
<p>Kemudian dia memandangku dan menambahkan: &#8220;Kemarin, sebelum tidur saya memohon kepada Tuhan agar saya memiliki cukup uang untuk membelikan boneka ini, agar supaya Ibu dapat membawakannya untuk adikku. Ternyata Tuhan mendengarkanku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya juga berharap memiliki cukup uang agar dapat membeli sekuntum mawar putih untuk Ibuku, tapi saya nggak berani meminta terlalu banyak kepada Tuhan. Tapi ternyata Tuhan memberiku uang cukup untuk membeli boneka ini dan juga mawar putih.&#8221;</p>
<p>Aku selesaikan belanjaan saya dengan sebuah perasaan yang amat sangat berbeda dengan ketika saya memulainya. Beberapa menit kemudian, wanita tua itu telah kembali dan aku pergi dengan trolley-ku.</p>
<p>Aku nggak bisa menghilangkan bayangan anak laki-laki itu dari ingatanku.</p>
<p>Kemudian, aku ingat kepada sebuah artikel dari sebuah koran lokal 2 hari yang lalu, yang mengatakan bahwa seorang mabuk yang mengemudikan sebuah truk menabrak sebuah mobil yang sedang dikendari oleh seorang wanita muda dengan anak perempuannya yang masih kecil.</p>
<p>Si anak perempuan meninggal seketika, dan ibunya masih hidup tetapi dalam keadaan kritis. Keluarganya harus mengambil keputusan apakah harus mencabut kabel dari mesin yang membantunya bertahan hidup, sebab wanita muda itu sudah tidak mungkin lagi lepas dari keadaan koma.</p>
<p>Apakah mereka keluarga dari anak laki-laki kecil itu?</p>
<p>Dua hari setelah pertemuanku dengan dengan anak laki-laki itu, aku baca disurat kabar bahwa wanita muda itu telah meninggal dunia.</p>
<p>Aku segera bergegas dan pergi membeli seikat mawar putih dan pergi kesebuah pemakaman dimana jenazah di perlihatkan kepada para pelayat dan didoakan sebelum pemakaman.</p>
<p>Ternyata wanita muda itu ada disana, terbaring didalam petinya, memegang setangkai mawar putih yang indah dengan selembar foto anak lelaki itu dan boneka diletakkan diatas dadanya.</p>
<p>Saya meninggalkan tempat itu.. sambil menangis, dan merasakan hidup saya telah berubah untuk selama-lamanya.</p>
<p>Cinta.. yang dimiliki oleh bocah lelaki itu kepada Ibu dan adiknya tercinta, tetap melekat hingga hari itu, sungguh tidak terbayangkan.</p>
<p>Hanya dalam bilangan detik, seorang yang sedang mabuk telah mengambil semuanya itu darinya.</p>
<p>Moral dari cerita ini adalah:</p>
<p>Sediakan waktu untuk menghargai apa yang kamu miliki saat ini.<br />
Cinta yang kita miliki dari dasar hati yang paling dalam adalah sesuatu yang sangat mahal harganya, tidak dapat dinilai dengan materi sekalipun.<br />
Janganlah kita menyia-nyiakan waktu kita di dunia ini untuk selalu mencintai dan mengasihi orang-orang yang kita cintai agar kita dapat menikmati dan merasakan betapa sangat indah dan berarti hidup kita ini apabila kita hidup selalu dalam kasih sayang dan cinta, karena tanpa itu semua apalah arti hidup kita ini&#8230;??? ( Materi bukanlah tolak ukur kebahagiaan seseorang dalam menjalani kehidupan).<br />
<strong>TEMAN-TEMAN ADALAH SEPERTI MALAIKAT, YANG AKAN MEMBANTU KITA TERBANG KETIKA SAYAP KITA TELAH LUPA BAGAIMANA CARANYA TERBANG </strong></p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/kisah-anak-lelaki-5-tahun.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ceritakanlah Pada Seluruh Dunia</title>
		<link>http://pengharapan.com/ceritakanlah-pada-seluruh-dunia.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/ceritakanlah-pada-seluruh-dunia.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Jul 2010 04:52:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[adik]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[pastor]]></category>
		<category><![CDATA[tommy]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=355</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar 14 tahun yang lalu, aku berdiri menyaksikan para mahasiswaku berbaris memasuki kelas untuk mengikuti kuliah pertama tentang teologi iman.
Pada hari itulah untuk pertama kalinya aku melihat Tommy. Dia sedang menyisir rambutnya yang terurai sampai sekitar 20 cm di bawah bahunya. Penilaian singkatku: dia seorang yang aneh, sangat aneh.
Tommy ternyata menjadi tantanganku yang terberat. Dia [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">Sekitar 14 tahun yang lalu, aku berdiri menyaksikan para mahasiswaku berbaris memasuki kelas untuk mengikuti kuliah pertama tentang teologi iman.</div>
<div>Pada hari itulah untuk pertama kalinya aku melihat Tommy. Dia sedang menyisir rambutnya yang terurai sampai sekitar 20 cm di bawah bahunya. Penilaian singkatku: dia seorang yang aneh, sangat aneh.</div>
<div id="_mcePaste">Tommy ternyata menjadi tantanganku yang terberat. Dia terus-menerus mengajukan keberatan. Dia juga melecehkan tentang kemungkinan Tuhan mencintai secara tanpa pamrih.</div>
<div>Ketika dia muncul untuk mengikuti ujian di akhir kuliah, dia bertanya dengan agak sinis, &#8220;Menurut Pastor apakah saya akan pernah menemukan Tuhan?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Tidak,&#8221; jawabku dengan sungguh-sungguh.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Oh,&#8221; sahutnya. &#8220;Rasanya Anda memang tidak pernah mengajarkan bagaimana menemukan Tuhan.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Kubiarkan dia berjalan sampai lima langkah lagi dari pintu, lalu kupanggil.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Saya rasa kamu tak akan pernah menemukan-Nya. Tapi, saya yakin Dialah yang akan menemukanmu.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Tommy mengangkat bahu, lalu pergi. Aku merasa agak kecewa karena dia tidak bisa menangkap maksud kata-kataku. Kemudian kudengar Tommy sudah lulus, dan saya bersyukur.</div>
<div>Namun kemudian tiba berita yang menyedihkan: Tommy mengidap kanker yang sudah parah. Sebelum saya sempat mengunjunginya, dia yang lebih dulu menemui saya. Saat dia melangkah masuk ke kantor saya, tubuhnya sudah menyusut, dan rambutnya yang panjang sudah rontok karena pengobatan dengan kemoterapi.<span id="more-355"></span></div>
<div>Namun, matanya tetap bercahaya dan suaranya, untuk pertama kalinya, terdengar tegas.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Tommy! Saya sering memikirkanmu. Katanya kamu sakit keras?&#8221; tanyaku langsung.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Oh ya, saya memang sakit keras. Saya menderita kanker. Waktu saya hanya tinggal beberapa minggu lagi.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Kamu mau membicarakan itu?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Boleh saja. Apa yang ingin Pastor ketahui?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Bagaimana rasanya baru berumur 24 tahun, tapi kematian sudah menjelang?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Jawabnya, &#8220;Ini lebih baik ketimbang jadi lelaki berumur 50 tahun namun mengira bahwa minum minuman keras, bermain perempuan, dan memburu harta adalah hal-hal yang &#8216;utama&#8217; dalam hidup ini.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Lalu dia mengatakan mengapa dia menemuiku.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Sesuatu yang Pastor pernah katakan pada saya pada hari terakhir kuliah Pastor. Saya bertanya waktu itu apakah saya akan pernah menemukan Tuhan, dan Pastor mengatakan tidak. Jawaban yang sungguh mengejutkan saya. Lalu, Pastor mengatakan bahwa Tuhanlah yang akan menemukan saya. Saya sering memikirkan kata-kata Bapak itu, meskipun pencarian Tuhan yang saya lakukan pada masa itu tidaklah sungguh-sungguh.&#8221;</div>
<div>&#8220;Tetapi, ketika dokter mengeluarkan segumpal daging dari pangkal paha saya,&#8221; Tommy melanjutkan &#8220;dan mengatakan bahwa gumpalan itu ganas, saya pun mulai serius melacak Tuhan.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Dan ketika tumor ganas itu menyebar sampai ke organ-organ vital, saya benar-benar menggedor-gedor pintu surga. Tapi tak terjadi apa pun. Lalu, saya terbangun di suatu hari, dan saya tidak lagi berusaha keras mencari-cari pesan itu. Saya menghentikan segala usaha itu. Saya memutuskan untuk tidak peduli sama sekali pada Tuhan, kehidupan setelah kematian, atau hal-hal sejenis itu.&#8221;</div>
<div>&#8220;Saya memutuskan untuk melewatkan waktu yang tersisa melakukan hal-hal penting,&#8221; lanjut Tommy.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Saya teringat tentang Pastor dan kata-kata Pastor yang lain: Kesedihan yang paling utama adalah menjalani hidup tanpa mencintai. Tapi hampir sama sedihnya, meninggalkan dunia ini tanpa mengatakan pada orang yang saya cintai bahwa kau mencintai mereka. Jadi saya memulai dengan orang yang tersulit, ayah saya.&#8221;</div>
<div>Ayah Tommy waktu itu sedang membaca koran saat anaknya menghampirinya.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Pa, aku ingin bicara.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Bicara saja.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Pa, ini penting sekali.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Korannya turun perlahan 8 cm. &#8220;Ada apa?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Pa, aku cinta Papa. Aku hanya ingin Papa tahu itu.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Tommy tersenyum padaku saat mengenang saat itu.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Korannya jatuh ke lantai.</div>
<div id="_mcePaste">Lalu ayah saya melakukan dua hal yang seingatku belum pernah dilakukannya.</div>
<div id="_mcePaste">Ia menangis dan memelukku. Dan kami mengobrol semalaman, meskipun dia harus bekerja besok paginya.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Dengan ibu saya dan adik saya lebih mudah,&#8221; sambung Tommy.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Mereka menangis bersama saya, dan kami berpelukan, dan berbagi hal yang kami rahasiakan bertahun-tahun. Saya hanya menyesalkan mengapa saya harus menunggu sekian lama. Saya berada dalam bayang-bayang kematian, dan saya baru memulai terbuka pada semua orang yang sebenarnya dekat dengan saya.</div>
<div>&#8220;Lalu suatu hari saya berbalik dan Tuhan ada disitu. Ia tidak datang saat saya memohon pada-Nya. Rupanya Dia bertindak menurut kehendak-Nya dan pada waktu-Nya. Yang penting adalah Pastor benar. Dia menemukan saya bahkan setelah saya berhenti mencari-Nya.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Tommy,&#8221; aku tersedak, &#8220;Menurut saya, kata-katamu lebih universal dari pada yang kamu sadari. Kamu menunjukkan bahwa cara terpasti untuk menemukan Tuhan adalah bukan dengan membuatnya menjadi milik pribadi atau penghiburan instan saat membutuhkan, melainkan dengan membuka diri pada cinta kasih.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Tommy,&#8221; saya menambahkan, &#8220;boleh saya minta tolong? Maukah kamu datang ke kuliah teologi iman dan mengatakan kepada para mahasiswa saya apa yang baru kamu ceritakan?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Meskipun kami menjadwalkannya, ia tak berhasil hadir hari itu. Tentu saja, karena ia harus berpulang. Ia melangkah jauh dari iman ke visi. Ia menemukan kehidupan yang jauh lebih indah daripada yang pernah dilihat mata kemanusiaan atau yang pernah dibayangkan.</div>
<div id="_mcePaste">Sebelum ia meninggal, kami mengobrol terakhir kali.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Saya tak akan mampu hadir di kuliah Bapak,&#8221; katanya.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Saya tahu, Tommy.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Maukah Bapak menceritakannya untuk saya? Maukah Bapak menceritakannya pada dunia untuk saya?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Ya, Tommy. Saya akan melakukannya.&#8221;</div>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/ceritakanlah-pada-seluruh-dunia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jembatan</title>
		<link>http://pengharapan.com/jembatan.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/jembatan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2010 09:59:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[adik]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[jembatan]]></category>
		<category><![CDATA[kakak]]></category>
		<category><![CDATA[tukang kayu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=351</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah ada dua orang kakak beradik yang hidup di sebuah desa. Entah karena apa mereka terjebak ke dalam suatu pertengkaran serius. Dan ini adalah kali pertama mereka bertengkar demikian hebatnya. Padahal selama 40 tahun mereka hidup rukun berdampingan. Saling meminjamkan peralatan pertanian. Dan bahu membahu dalam usaha perdagangan tanpa mengalami hambatan. Namun kerjasama yang akrab [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">Alkisah ada dua orang kakak beradik yang hidup di sebuah desa. Entah karena apa mereka terjebak ke dalam suatu pertengkaran serius. Dan ini adalah kali pertama mereka bertengkar demikian hebatnya. Padahal selama 40 tahun mereka hidup rukun berdampingan. Saling meminjamkan peralatan pertanian. Dan bahu membahu dalam usaha perdagangan tanpa mengalami hambatan. Namun kerjasama yang akrab itu kini retak.</div>
<div>Dimulai dari kesalahpahaman yang sepele saja. Kemudian berubah menjadi perbedaan pendapat yang besar. Dan akhirnya meledak dalam bentuk caci-maki. Beberapa minggu sudah berlalu, mereka saling berdiam diri tak bertegur-sapa.</div>
<div>Suatu pagi, datanglah seseorang mengetuk pintu rumah sang kakak. Di depan pintu berdiri seorang pria membawa kotak perkakas tukang kayu.</div>
<div id="_mcePaste">Maaf tuan, sebenarnya saya sedang mencari pekerjaan, kata pria itu dengan ramah? Barangkali tuan berkenan memberikan beberapa pekerjaan untuk saya selesaikan?</div>
<div id="_mcePaste">Oh ya !? jawab sang kakak. Saya punya sebuah pekerjaan untukmu.? Kau lihat ladang pertanian di seberang sungai sana. Itu adalah rumah tetanggaku, ah sebetulnya ia adalah adikku. Minggu lalu ia mengeruk bendungan dengan bulldozer lalu mengalirkan Airnya ke tengah padang rumput itu sehingga menjadi sungai yang Memisahkan tanah kami. Hmm, barangkali ia melakukan itu untuk mengejekku, Tapi aku akan membalasnya lebih setimpal. Di situ ada gundukan kayu. Aku ingin kau membuat pagar setinggi 10 meter untukku Sehingga aku tidak perlu lagi melihat rumahnya. Pokoknya, aku ingin melupakannya.</div>
<div><span id="more-351"></span></div>
<div>Kata tukang kayu, Saya mengerti. Belikan saya paku dan peralatan. Akan saya kerjakan sesuatu yang bisa membuat tuan merasa senang? Kemudian sang kakak pergi ke kota untuk berbelanja berbagai Kebutuhan dan menyiapkannya untuk si tukang kayu.</div>
<div>Setelah itu ia meninggalkan tukang kayu bekerja sendirian. Sepanjang hari tukang kayu bekerja keras, mengukur, menggergaji dan memaku. Di sore hari, ketika sang kakak petani itu kembali, tukang kayu itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Betapa terbelalaknya ia begitu melihat hasil pekerjaan tukang kayu itu. Sama sekali tidak ada pagar kayu sebagaimana yang dimintanya.</div>
<div id="_mcePaste">Namun, yang ada adalah jembatan melintasi sungai yang menghubungkan ladang pertaniannya dengan ladang Pertanian adiknya. Jembatan itu begitu indah dengan undak-undakan yang tertata rapi.</div>
<div>Dari seberang sana, terlihat sang adik bergegas berjalan menaiki Jembatan itu dengan kedua tangannya terbuka lebar. Kakakku, kau sungguh baik hati mau membuatkan jembatan ini. Padahal sikap dan ucapanku telah menyakiti hatimu. Maafkan aku? kata sang adik pada kakaknya.</div>
<div id="_mcePaste">Dua bersaudara itu pun bertemu di tengah-tengah jembatan, Saling berjabat tangan dan berpelukan. Melihat itu, tukang kayu pun membenahi perkakasnya dan bersiap-siap untuk pergi.</div>
<div id="_mcePaste">Hai, jangan pergi dulu. Tinggallah beberapa hari lagi. Kami  mempunyai banyak pekerjaan untukmu, pinta sang kakak.</div>
<div id="_mcePaste">Sesungguhnya saya ingin sekali tinggal di sini? kata tukang kayu, tapi masih banyak jembatan lain yang harus saya selesaikan.?</div>
<div id="_mcePaste"><strong>TUHAN SELALU INGIN KITA BERSAMA DALAM DAMAI SEJAHTERA</strong></div>
<div id="_mcePaste"><strong>TUHAN SELALU INGIN MEMPERSATUKAN HATI KITA</strong></div>
<div id="_mcePaste"><strong>TUHAN SELALU INGIN KITA MENGASIHI SESAMA KITA, SAUDARA KITA.</strong></div>
<div id="_mcePaste"><strong>KARENA TUHAN ADALAH SAHABAT SETIA, PENOLONG KITA.</strong></div>
<div id="_mcePaste"><strong>PERCAYALAH BAHWA TUHAN SELALU INGAT PADA KITA MANUSIA</strong></div>
<div><strong><br />
</strong></div>
<div id="_mcePaste">Belajar untuk mencintai dan menikmati untuk dicintai, tetapi Jangan pernah mengharapkan orang lain mencintai anda dengan cara dan sebanyak yang sudah anda berikan.</div>
<div>Berikanlah cinta tanpa mengharapkan balasan, maka anda akan menemukan bahwa hidup ini terasa menjadi lebih indah.</div>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/jembatan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

