<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pengharapan.com &#187; ayah</title>
	<atom:link href="http://pengharapan.com/tag/ayah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pengharapan.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Feb 2012 12:52:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>My Family….I love you</title>
		<link>http://pengharapan.com/my-family%e2%80%a6-i-love-you.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/my-family%e2%80%a6-i-love-you.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Oct 2011 02:29:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[family]]></category>
		<category><![CDATA[istri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=1244</guid>
		<description><![CDATA[Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi, sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istri saya sekarang di alam surgawi, baik-baik sajakah? Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan sorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil.
Begitulah yang kurasakan, karena selama ini saya merasa bahwa saya telah gagal, [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://pengharapan.com/isyarat-i-love-you.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Isyarat I Love You'>Isyarat I Love You</a> <small>treat every love as last love&#8230; Sejak semula, keluarga dari...</small></li>
<li><a href='http://pengharapan.com/love.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Love'>Love</a> <small>LOVE Is &#8230;&#8230;. Love is patience Love is kind Love...</small></li>
</ol>

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Empat tahun yang lalu, kecelakaan telah merenggut orang yang kukasihi, sering aku bertanya-tanya, bagaimana keadaan istri saya sekarang di alam surgawi, baik-baik sajakah? Dia pasti sangat sedih karena sudah meninggalkan sorang suami yang tidak mampu mengurus rumah dan seorang anak yang masih begitu kecil.</p>
<p>Begitulah yang kurasakan, karena selama ini saya merasa bahwa saya telah gagal, tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani anak saya, dan gagal untuk menjadi ayah dan ibu untuk anak saya. Pada suatu hari, ada urusan penting di tempat kerja, aku harus segera berangkat ke kantor, anak saya masih tertidur. <span id="more-1244"></span></p>
<p>Ohhh… aku harus menyediakan makan untuknya. Karena masih ada sisa nasi, jadi aku menggoreng telur untuk dia makan. Setelah memberitahu anak saya yang masih mengantuk, kemudian aku bergegas berangkat ke tempat kerja. Peran ganda yang kujalani, membuat energiku benar-benar terkuras. Suatu hari ketika aku pulang kerja aku merasa sangat lelah, setelah bekerja sepanjang hari. Hanya sekilas aku memeluk dan mencium anakku, saya langsung masuk ke kamar tidur, dan melewatkan makan malam.</p>
<p>Namun, ketika aku merebahkan badan ke tempat tidur dengan maksud untuk tidur sejenak menghilangkan kepenatan, tiba-tiba saya merasa ada sesuatu yang pecah dan tumpah seperti cairan hangat! Aku membuka selimut dan….. di sanalah sumber ‘masalah’nya … sebuah mangkuk yang pecah dengan mie instan yang berantakan di seprai dan selimut! Oh…Tuhan! Aku begitu marah, aku mengambil gantungan pakaian, dan langsung menghujani anak saya yang sedang gembira bermain dengan mainannya, dengan pukulan-pukulan! Dia hanya menangis, sedikitpun tidak meminta belas kasihan, dia hanya memberi penjelasan singkat: “Dad, tadi aku merasa lapar dan tidak ada lagi sisa nasi. Tapi ayah belum pulang, jadi aku ingin memasak mie instan. Aku ingat, ayah pernah mengatakan untuk tidak menyentuh atau menggunakan kompor gas tanpa ada orang dewasa di sekitar, maka aku menyalakan mesin air minum ini dan menggunakan air panas untuk memasak mie. Satu untuk ayah dan yang satu lagi untuk saya .. Karena aku takut mie’nya akan menjadi dingin, jadi aku menyimpannya di bawah selimut supaya tetap hangat sampai ayah pulang. Tapi aku lupa untuk mengingatkan ayah karena aku sedang bermain dengan mainan saya … Saya minta maaf Dad … ”</p>
<p>Seketika, air mata mulai mengalir di pipiku … tetapi, saya tidak ingin anak saya melihat ayahnya menangis maka aku berlari ke kamar mandi dan menangis dengan menyalakan shower di kamar mandi untuk menutupi suara tangis saya. Setelah beberapa lama, aku hampiri anak saya, memeluknya dengan erat dan memberikan obat kepadanya atas luka bekas pukulan dipantatnya, lalu aku membujuknya untuk tidur. Kemudian aku membersihkan kotoran tumpahan mie di tempat tidur. Ketika semuanya sudah selesai dan lewat tengah malam, aku melewati kamar anakku, dan melihat anakku masih menangis, bukan karena rasa sakit di pantatnya, tapi karena dia sedang melihat foto mommy yang dikasihinya.</p>
<p>Satu tahun berlalu sejak kejadian itu, saya mencoba, dalam periode ini, untuk memusatkan perhatian dengan memberinya kasih sayang seorang ayah dan juga kasih sayang seorang ibu, serta memperhatikan semua kebutuh anny a. Tanpa terasa, anakku sudah berumur tujuh tahun, dan akan lulus dari Taman Kanak-kanak. Untungnya, insiden yang terjadi tidak meninggalkan kenangan buruk di masa kecilnya dan dia sudah tumbuh dewasa dengan bahagia.</p>
<p>Namun… belum lama, aku sudah memukul anakku lagi, saya benar-benar menyesal…. Guru Taman Kanak-kanaknya memanggilku dan memberitahukan bahwa anak saya absen dari sekolah. Aku pulang kerumah lebih awal dari kantor, aku berharap dia bisa menjelaskan. Tapi ia tidak ada dirumah, aku pergi mencari di sekitar rumah kami, memangil-manggil namanya dan akhirnya menemukan dirinya di sebuah toko alat tulis, sedang bermain komputer game dengan gembira. Aku marah, membawanya pulang dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan. Dia diam saja lalu mengatakan, “Aku minta maaf, Dad”.</p>
<p>Selang beberapa lama aku selidiki, ternyata ia absen dari acara “pertunjukan bakat” yang diadakan oleh sekolah, karena yg diundang adalah siswa dengan ibunya. Dan itulah alasan ketidakhadirannya karena ia tidak punya ibu…… Beberapa hari setelah penghukuman dengan pukulan rotan, anakku pulang ke rumah memberitahu saya, bahwa disekolahnya mulai diajarkan cara membaca dan menulis. Sejak saat itu, anakku lebih banyak mengurung diri di kamarnya untuk berlatih menulis, yang saya yakin, jika istri saya masih ada dan melihatnya ia akan merasa bangga, tentu saja dia membuat saya bangga juga!</p>
<p>Waktu berlalu dengan begitu cepat, satu tahun telah lewat. Saat ini musim dingin, dan hari Natal telah tiba. Semangat Natal ada dimana-mana juga di hati setiap orang yg lalu lalang… Lagu-lagu Natal terdengar diseluruh pelosok jalan …. tapi astaga, anakku membuat masalah lagi. Ketika aku sedang menyelasaikan pekerjaan di hari-hari terakhir kerja, tiba-tiba kantor pos menelpon. Karena pengiriman surat sedang mengalami puncaknya, tukang pos juga sedang sibuk-sibuknya, suasana hati mereka pun jadi kurang bagus. Mereka menelpon saya dengan marah-marah, untuk memberitahu bahwa anak saya telah mengirim beberapa surat tanpa alamat.</p>
<p>Walaupun saya sudah berjanji untuk tidak pernah memukul anak saya lagi, tetapi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya lagi, karena saya merasa bahwa anak ini sudah benar-benar keterlaluan. . Tapi sekali lagi, seperti sebelumnya, dia meminta maaf : “Maaf, Dad”. Tidak ada tambahan satu kata pun untuk menjelaskan alasanny a melakukan itu.</p>
<p>Setelah itu saya pergi ke kantor pos untuk mengambil surat-surat tanpa alamat tersebut lalu pulang. Sesampai di rumah, dengan marah saya mendorong anak saya ke sudut mempertanyakan kepadanya, perbuatan konyol apalagi ini? Apa yang ada dikepalanya? Jawabannya, di tengah isak-tangisnya, adalah : “Surat-surat itu untuk mommy…..”. Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. …. tapi aku mencoba mengendalikan emosi dan terus bertanya kepadanya: “Tapi kenapa kamu memposkan begitu banyak surat-surat, pada waktu yg sama?” Jawaban anakku itu : “Aku telah menulis surat buat mommy untuk waktu yang lama, tapi setiap kali aku mau menjangkau kotak pos itu, terlalu tinggi bagiku, sehingga aku tidak dapat memposkan surat-suratku. Tapi baru-baru ini, ketika aku kembali ke kotak pos, aku bisa mencapai kotak itu dan aku mengirimkannya sekaligus”.</p>
<p>Setelah mendengar penjelasannya ini, aku kehilangan kata-kata, aku bingung, tidak tahu apa yang harus aku lakukan, dan apa yang harus aku katakan …. Aku bilang pada anakku, “Nak, mommy sudah berada di surga, jadi untuk selanjutnya, jika kamu hendak menuliskan sesuatu untuk mommy, cukup dengan membakar surat tersebut maka surat akan sampai kepada mommy. Setelah mendengar hal ini, anakku jadi lebih tenang, dan segera setelah itu, ia bisa tidur dengan nyenyak. Saya berjanji akan membakar surat-surat atas namanya, jadi saya membawa surat-surat tersebut ke luar, tapi…. saya jadi penasaran untuk tidak membuka surat tersebut sebelum mereka berubah menjadi abu.</p>
<p>Dan salah satu dari isi surat-suratnya membuat hati saya hancur…… ‘Mommy sayang’, Saya sangat merindukanmu! Hari ini, ada sebuah acara ‘Pertunjukan Bakat’ di sekolah, dan mengundang semua ibu untuk hadir di pertunjukan tersebut.. Tapi kamu tidak ada, jadi saya tidak ingin menghadirinya juga. Aku tidak memberitahu ayah tentang hal ini karena aku takut ayah akan mulai menangis dan merindukanmu lagi. Saat itu untuk menyembunyikan kesedihan, aku duduk di depan komputer dan mulai bermain game di salah satu toko. Ayah keliling-keliling mencari saya, setelah menemukanku ayah marah, dan aku hanya bisa diam, ayah memukul aku, tetapi aku tidak menceritakan alasan yang sebenarnya. Mommy, setiap hari saya melihat ayah merindukanmu, setiap kali dia teringat padamu, ia begitu sedih dan sering bersembunyi dan menangis di kamarnya. Saya pikir kita berdua amat sangat merindukanmu. Terlalu berat untuk kita berdua, saya rasa. Tapi mom, aku mulai melupakan wajahmu. Bisakah mommy muncul dalam mimpiku sehingga saya dapat melihat wajahmu dan ingat anda? Temanku bilang jika kau tertidur dengan foto orang yang kamu rindukan, maka kamu akan melihat orang tersebut dalam mimpimu. Tapi mommy, mengapa engkau tak pernah muncul?</p>
<p>Setelah membaca surat itu, tangisku tidak bisa berhenti karena saya tidak pernah bisa menggantikan kesenjangan yang tak dapat digantikan semenjak ditinggalkan oleh istri saya ….</p>
<p>Untuk para suami, yang telah dianugerahi seorang istri yang baik, yang penuh kasih terhadap anak-anakmu selalu berterima-kasihlah setiap hari padanya. Dia telah rela menghabiskan sisa umurnya untuk menemani hidupmu, membantumu, mendukungmu, memanjakanmu dan selalu setia menunggumu, menjaga dan menyayangi dirimu dan anak-anakmu. Hargailah keberadaannya, kasihilah dan cintailah dia sepanjang hidupmu dengan segala kekurangan dan kelebihannya, karena apabila engkau telah kehilangan dia, tidak ada emas permata, intan berlian yg bisa menggantikan posisinya.</p>
<p>Artikel ini disumbangkan oleh Hermawan HS</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://pengharapan.com/isyarat-i-love-you.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Isyarat I Love You'>Isyarat I Love You</a> <small>treat every love as last love&#8230; Sejak semula, keluarga dari...</small></li>
<li><a href='http://pengharapan.com/love.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Love'>Love</a> <small>LOVE Is &#8230;&#8230;. Love is patience Love is kind Love...</small></li>
</ol></p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/my-family%e2%80%a6-i-love-you.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dia Selalu Ada !</title>
		<link>http://pengharapan.com/dia-selalu-ada.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/dia-selalu-ada.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 May 2011 00:12:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[ujian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=1184</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebuah suku pada bangsa Indian yang memiliki cara yang unik untuk mendewasakan anak laki-laki dari suku mereka.
Jika seorang anak laki-laki tersebut dianggap sudah cukup umur untuk di dewasakan, maka anak laki-laki tersebut akan di bawa pergi oleh seorang pria dewasa yang bukan sanak saudaranya, dengan mata tertutup.
Anak laki-laki tersebut di bawa jauh menuju hutan [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://pengharapan.com/8-pertanda-bahwa-si-dia-adalah-jodoh-anda.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: 8 Pertanda Bahwa Si Dia Adalah Jodoh Anda'>8 Pertanda Bahwa Si Dia Adalah Jodoh Anda</a> <small>Dua manusia yang merasa saling berjodoh pasti memiliki ikatan emosional,...</small></li>
</ol>

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ada sebuah suku pada bangsa Indian yang memiliki cara yang unik untuk mendewasakan anak laki-laki dari suku mereka.</p>
<p>Jika seorang anak laki-laki tersebut dianggap sudah cukup umur untuk di dewasakan, maka anak laki-laki tersebut akan di bawa pergi oleh seorang pria dewasa yang bukan sanak saudaranya, dengan mata tertutup.</p>
<p>Anak laki-laki tersebut di bawa jauh menuju hutan yang paling dalam. Ketika hari sudah menjadi sangat gelap, tutup mata anak tersebut akan dibuka, dan orang yang menghantarnya akan meninggalkannya sendirian. Ia akan dinyatakan lulus dan diterima sebagai pria dewasa dalam suku tersebut jika ia tidak berteriak atau menangis hingga malam berlalu.<br />
<span id="more-1184"></span><br />
Malam begitu pekat, bahkan sang anak itu tidak dapat melihat telapak tangannya sendiri, begitu gelap dan ia begitu ketakutan. Hutan tersebut mengeluarkan suara-suara yang begitu menyeramkan, auman serigala, bunyi dahan bergemerisik, dan ia semakin ketakutan, tetapi ia harus diam, ia tidak boleh berteriak atau menangis, ia harus berusaha agar ia lulus dalam ujian tersebut.</p>
<p>Satu detik bagaikan berjam-jam, satu jam bagaikan bertahun-tahun, ia tidak dapat melelapkan matanya sedetikpun, keringat ketakutan mengucur deras dari tubuhnya.</p>
<p>Cahaya pagi mulai tampak sedikit, ia begitu gembira, ia melihat sekelilingnya, dan kemudian ia menjadi begitu kaget, ketika ia mengetahui bahwa ayahnya berdiri tidak jauh dibelakang dirinya, dengan posisi siap menembakan anak panah, dengan golok terselip dipinggang, menjagai anaknya sepanjang malam, jikalau ada ular atau binatang buas lainnya, maka ia dengan segera akan melepaskan anak panahnya, sebelum binatang buas itu mendekati anaknya. Sambil berdoa agar anaknya tidak berteriak atau menangis.</p>
<p>Dalam mengarungi kehidupan ini, sepertinya Tuhan &#8220;begitu kejam&#8221; melepaskan anak-anakNya kedalam dunia yang jahat ini.<br />
Terkadang kita tidak dapat melihat penyertaanNya, namun satu hal yang pasti.. !<br />
DIA setia,<br />
DIA mengasihi kita,<br />
dan DIA selalu ada bagi kita…</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://pengharapan.com/8-pertanda-bahwa-si-dia-adalah-jodoh-anda.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: 8 Pertanda Bahwa Si Dia Adalah Jodoh Anda'>8 Pertanda Bahwa Si Dia Adalah Jodoh Anda</a> <small>Dua manusia yang merasa saling berjodoh pasti memiliki ikatan emosional,...</small></li>
</ol></p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/dia-selalu-ada.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ayo Pukul, Ayah!</title>
		<link>http://pengharapan.com/ayo-pukul-ayah.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/ayo-pukul-ayah.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2011 00:44:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[bahagia]]></category>
		<category><![CDATA[bantuan]]></category>
		<category><![CDATA[baseball]]></category>
		<category><![CDATA[bermain]]></category>
		<category><![CDATA[semangat]]></category>
		<category><![CDATA[terima kasih]]></category>
		<category><![CDATA[ucapan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=1057</guid>
		<description><![CDATA[Ayah adalah penggemar baseball yang fanatik. Saya tumbuh di New York City,  karena itu bisa melihat team-team yang hebat berlaga di Polo Grounds, Ebbets Field dan Yankee Stadium.
Pada hari Sabtu, saya dan ayah sering menjadi sporter untuk mendukung team favorit kami di stadion itu. Lama-lama saya juga menyukai permainan baseball. Tetapi karena saya seorang anak [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Ayah adalah penggemar baseball yang fanatik. Saya tumbuh di New York City,  karena itu bisa melihat team-team yang hebat berlaga di Polo Grounds, Ebbets Field dan Yankee Stadium.<br />
Pada hari Sabtu, saya dan ayah sering menjadi sporter untuk mendukung team favorit kami di stadion itu. Lama-lama saya juga menyukai permainan baseball. Tetapi karena saya seorang anak perempuan, saya lebih banyak sebagai penonton daripada pemain; seperti lazimnya yang terjadi masa itu.</p>
<p>Tiap ada kesempatan, ayah selalu mengajak saya ke taman dimana ada team anak-anak yang bermain baseball, dan ayah melemparkan bola untuk saya pukul. Kami bermain bersama berjam-jam, dan baseball menjadi bagian terbesar dari hidup saya.</p>
<p>Suatu hari saat sedang bermain baseball di taman, saya melihat seorang wanita mendorong anak laki-lakinya di atas kursi roda, berhenti untuk melihat permainan kami. Ayah menghentikan permainan dan bertanya kepada anak itu apakah mau ikut bermain. Ibunya menjelaskan bahwa yang di kursi roda itu adalah anaknya dan menderita polio; sehingga tidak bisa beranjak dari kursi roda. Tetapi penjelasan itu tidak menghentikan niat ayah.<br />
<span id="more-1057"></span><br />
Ayah memberikan pemukul di tangan kecil anak itu, dan mendorong kursi roda di base pemukul serta membantunya menggenggam tongkat pemukul. Kemudian ayah berteriak pada saya, “Anne, lemparkan bola pada kami.”</p>
<p>Saya sempat gugup karena kuatir jika bola yang saya lempar mengenai anak itu. Tetapi saat melihat mata anak laki-laki itu berbinar-binar, saya meyakinkan diri untuk melemparkan bola padanya. Saat bola sampai, tongkat<br />
pemukul yang digenggam oleh anak laki-laki dan ayah menghantam dengan tepat, dan anak itu berteriak kegirangan. Bola terbang melintas di atas kepala saya dan jatuh di di seberang lapangan. Saya berlari untuk memungut bola, dan saat berbalik, saya mendengar ayah menyanyikan lagu ‘Bawa Aku Ke Pertandingan Baseball’ sambil mendorong kursi roda itu melewati semua base di sekeliling lapangan. Ibunya bertepuk tangan dengan riuh dan anak itu minta untuk bisa tetap ikut meneruskan permainan.</p>
<p>Satu jam kemudian kami meninggalkan lapangan, sangat lelah tapi bahagia.</p>
<p>Dengan air mata membanjir di pipinya, ibu anak laki-laki itu mengucapkan banyak terima kasih kepada ayah karena sudah memberikan kebahagiaan yang tak ternilai bagi anaknya yang menderita polio. Ayah tersenyum dan berkata bahwa dia juga ikut merasakan kebahagiaan itu, dan memintanya untuk bisa kembali lagi dan bermain baseball bersama kami.</p>
<p>Pada hari Sabtu berikutnya, saya dan ayah menunggu, tetapi anak laki-laki dengan kursi rodanya tidak muncul. Saya merasa sedih dan menduga-duga apa yang terjadi sehingga mereka tidak datang. Saya dan ayah bermain baseball sampai siang, tetapi mereka tetap tidak datang.</p>
<p>Dua puluh tahun telah berlalu dan ayah yang saya cintai meninggal dengan tenang di usia lima puluh sembilan tahun. Dengan kepergian ayah, segala sesuatunya berubah dan dan keluarga kami memutuskan untuk pindah ke Long Island. Perasaan saya campur aduk, karena harus meninggalkan lingkungan dan tetangga yang sudah sangat akrab sejak saya kecil.</p>
<p>Terakhir kali, saya memutuskan untuk pergi ke taman dimana saya dan ayah telah mengukir banyak kenangan indah di sana. Saya berhenti di lapangan baseball. Di sana saya dan ayah biasa bermain pada hari Sabtu. Saat itu saya melihat dua group anak-anak sedang bermain baseball.</p>
<p>Saya duduk untuk melihat sejenak. Saya merasa air mata menetes ketika melihat anak-anak itu larut dalam permainan yang sangat saya sukai. Saya sangat rindu pada ayah.</p>
<p>“Jeff, jaga base-mu,” seorang pelatih berseru. Saya menyoraki seorang pemain yang berlari kencang setelah berhasil memukul bola hingga keluar lapangan. Pelatih itu berbalik dan tersenyum. Dia berkata, “Anak-anak sangat senang jika bisa berlari home run, bu.”</p>
<p>Dia meneruskan, “Saya tidak pernah membayangkan bisa menjadi pelatih di lapangan ini. Saat masih kecil saya menderita polio dan harus duduk di kursi roda. Suatu hari ibu mendorong kursi saya ke lapangan ini dan saat itu ada seorang laki-laki dan anak perempuannya sedang bermain. Saat melihat kami, mereka menghentikan permainannya dan bertanya pada ibu saya apakah saya bisa ikut bergabung dalam team itu. Dia membantu saya memegangi tongkat pemukul dan anak perempuannya melemparkan bola pada saya. ”</p>
<p>“Saat itu saya berhasil memukul bola dengan kencang karena dibantu oleh laki-laki itu. Selanjutnya dia berlari mendorong kursi saya melewati semua base di sekeliling lapangan sambil bernyanyi, ‘Bawa Aku Ke Pertandingan Baseball.’ Itu adalah hari yang paling membahagiakan saya, lebih daripada tahun-tahun yang sudah saya lalui. Saya percaya bahwa pengalaman itu memberi dorongan semangat yang luar biasa supaya bisa berjalan.”</p>
<p>“Kami pindah ke New Jersey hari berikutnya. Itulah sebabnya pada hari itu ibu membawa saya ke taman untuk mengucapkan perpisahan dengan teman-teman saya. Saya tidak pernah melupakan laki-laki berserta anak perempuannya itu. Saya bermimpi bisa berlari melintasi base di sekeliling lapangan dengan kedua kaki saya sendiri. Dengan mimpi itu, melalui kerja keras tiap hari, akhirnya bisa terwujud.”</p>
<p>“Saya kembali lagi ke sini tahun lalu, dan mulai saat itu menjadi pelatih team anak-anak di sini. Saya berharap suatu hari dengan berdiri tegak, bisa bertemu dengan laki-laki dan anak perempuannya lagi. Siapa tahu, saya bisa menemukannya sedang berada di lapangan sedang melemparkan bola pada cucunya – setelah tahun-tahun datang dan pergi. Saat itu saya akan mengucapkan terima kasih yang tak terhingga padanya.”</p>
<p>Air mata mengalir di pipi saat mengetahui bahwa ayah menerima ucapan terima kasih dari seorang anak yang ditemuinya dua puluh tahun lalu. Saya merasa seolah-olah masih mendengar seruannya “Pukul dengan keras!”, sambil berdiri tepat di samping saya, tidak peduli apakah hidupnya sudah direnggut dari sisi saya dan keluarganya.</p>
<p>Suatu contoh kebaikan hati yang sederhana di musim semi itu telah mengubah hidup saya selamanya. Setelah dua puluh tahun berlalu, kenangan indah itu ternyata berbuah dengan mengagumkan. “Ayo pukul, ayah!” kata saya saat meninggalkan lapangan itu. “Saya tahu, ayah masih memainkan pertandingan yang kita sukai bersama – baseball!”</p>
<p>duaon’s mind:</p>
<p>Cerita ini sungguh menunjukkan bahwa sekecil apapun bantuan kita untuk orang lain, akan sangat mempengaruhi hidup seseorang. Alangkah damainya dunia ini jika hidup kita bentuk dengan kedamaian seperti ini. Mengerti keadaan orang-orang sekitar, dan merasakan betapa mereka membutuhkan uluran tangan kita. Apa sich artinya 10rb kita berikan kepada orang yg belum makan hari ini jikalau besok kita mendapatkan kembali 5 kali lipat dari 10rb itu. Nilainya memang sangat kecil bagi kita, tapi yakinlah, nilai itu sangat besar untuk orang yg membutuhkannya. Bukankah itu lebih berbahagia dan mendamaikan hati daripada uang 10rb tsb kita gunakan untuk hal-hal yang tiada arti. Nilai hidup seseorang bisa bergantung dari hal sepele yang kita buang dari nilai 10rb <img src='http://pengharapan.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt="icon smile Ayo Pukul, Ayah!" class='wp-smiley' title="Ayo Pukul, Ayah!" />  Jangan berhenti untuk membantu sekecil apapun itu, nilainya akan sangat berarti bagi yang membutuhkan</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/ayo-pukul-ayah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanpa Kekerasan</title>
		<link>http://pengharapan.com/tanpa-kekerasan.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/tanpa-kekerasan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Jan 2011 01:19:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[kebohongan]]></category>
		<category><![CDATA[menghukum]]></category>
		<category><![CDATA[pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[tanpa kekerasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=916</guid>
		<description><![CDATA[Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orang tua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Waktu itu saya masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orang tua di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakek saya, di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Kami tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tak heran bila saya dan dua saudara perempuan saya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton bioskop.</p>
<p>Suatu hari, ayah meminta saya untuk mengantarkan beliau ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Dan, saya sangat gembira dengan kesempatan itu. Tahu bahwa saya akan pergi ke kota, ibu memberikan daftar belanjaan yang ia perlukan. Selain itu, ayah juga meminta saya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang lama tertunda, seperti memperbaiki mobil di bengkel.<br />
<span id="more-916"></span><br />
Pagi itu, setiba di tempat konferensi, ayah berkata, “Ayah tunggu kau di sini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama.” Segera saja saya menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang diberikan oleh ayah saya.</p>
<p>Kemudian, saya pergi ke bioskop. Wah, saya benar-benar terpikat dengan dua permainan John Wayne sehingga lupa akan waktu. Begitu melihat jam menunjukkan pukul 17:30, langsung saya berlari menuju bengkel mobil dan terburu-buru menjemput ayah yang sudah menunggu saya. Saat itu sudah hampir pukul 18:00.</p>
<p>Dengan gelisah ayah menanyai saya, “Kenapa kau terlambat?”</p>
<p>Saya sangat malu untuk mengakui bahwa saya menonton film John Wayne sehingga saya menjawab, “Tadi, mobilnya belum siap sehingga saya harus menunggu.” Padahal, ternyata tanpa sepengetahuan saya, ayah telah menelepon bengkel mobil itu. Dan, kini ayah tahu kalau saya berbohong.</p>
<p>Lalu ayah berkata, “Ada sesuatu yang salah dalam membesarkan kau sehingga kau tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran pada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang ke rumah dengan berjalan kaki sepanjang 18 mil dan memikirkannya baik-baik.”</p>
<p>Lalu, ayah dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatunya, ayah mulai berjalan kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap, sedangkan jalanan sama sekali tidak rata. Saya tidak bisa meninggalkan ayah, maka selama lima setengah jam, saya mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau, melihat penderitaan yang dialami oleh ayah hanya karena kebohongan bodoh yang saya lakukan.</p>
<p>Sejak itu saya tidak pernah akan berbohong lagi.</p>
<p>Seringkali saya berpikir mengenai episode ini dan merasa heran. Seandainya ayah menghukum saya sebagaimana kita menghukum anak-anak kita maka apakah saya akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai tanpa-kekerasan? Saya kira tidak. Saya akan menderita atas hukuman itu dan melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa-kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga saya merasa kejadian itu baru saja terjadi kemarin.</p>
<p>Itulah kekuatan tanpa-kekerasan.</p>
<p><strong>Dr. Arun Gandhi adalah cucu Mahatma Gandhi dan pendiri Lembaga M.K.Gandhi untuk Tanpa-Kekerasan </strong></p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/tanpa-kekerasan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kehidupan</title>
		<link>http://pengharapan.com/kehidupan.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/kehidupan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Oct 2010 01:25:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[anak kecil]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[gambar]]></category>
		<category><![CDATA[jessica]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[keindahan]]></category>
		<category><![CDATA[potongan]]></category>
		<category><![CDATA[susun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=587</guid>
		<description><![CDATA[Suatu sore, Jessica sedang duduk bersama ayahnya di ruang keluarga. Keduanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Jessica, gadis kecil berumur 5 tahun itu sedang bermain dengan buku gambarnya. Sedang sang ayah, tampak tekun membaca majalah.
Sesaat kemudian, Jessica mendekati ayahnya. Ia lalu bertanya, “Ayah, ini gambar apa? Belum selesai ayahnya menjawab, Jessica kembali bertanya, “Kok, hewan ini [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu sore, Jessica sedang duduk bersama ayahnya di ruang keluarga. Keduanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Jessica, gadis kecil berumur 5 tahun itu sedang bermain dengan buku gambarnya. Sedang sang ayah, tampak tekun membaca majalah.</p>
<p>Sesaat kemudian, Jessica mendekati ayahnya. Ia lalu bertanya, “Ayah, ini gambar apa? Belum selesai ayahnya menjawab, Jessica kembali bertanya, “Kok, hewan ini ada buntutnya? Sang Ayah, dengan sabar menjelaskan semuanya. Disisihkannya majalah di tangannya dan dipeluknya Jessica.</p>
<p>Beberapa lama berselang, Ayah lalu berkata, “Baik, kalau sudah selesai, ayo teruskan saja sendiri ya, sayang. Ayah sibuk. Jessica pun kembali ke tempatnya semula.<span id="more-587"></span></p>
<p>Namun, belum lima menit usai, Jessica kembali datang dan bertanya banyak hal. Dia mengoceh tentang hewan, hingga hal-hal yang di luar khayalan. Ayah pun mulai tampak segan dengan semua pertanyaan itu. Sebab, ia ingin sekali menyelesaikan bacaannya. “Ah, kalau saja aku bisa menyibukkan anak ini dengan pekerjaan lain, ” gumam Ayah,” tentu, ia tak akan membuatku repot. Begitu pikirnya dalam hati.</p>
<p>Aha, Ayah pun menemukan ide. Diambilnya gambar rumah dari sebuah majalah lama. Dan diguntingnya gambar itu menjadi beberapa bagian. Ia ingin membuat puzzle!. Tentu, anak umur 5 tahun, akan sulit sekali menyusun puzzle yang bergambar rumah. Ia lalu berkata pada Jessica yang sejak tadi memperhatikannya.</p>
<p>” Jessica, sekarang Ayah punya permainan. Ayo, coba susun kembali kertas ini jadi gambar rumah. Nanti, kalau sudah selesai, baru kamu boleh kembali ke sini. (–Hmm..tenanglah aku sekarang. Aku akan bisa menyelesaikan bacaanku, dan ia pasti akan sibuk sekali dengan pekerjaan ini, begitu gumam ayah.–)</p>
<p>Tiba-tiba. “Aku sudah selesai!” Belum 5 menit berlalu, kini, Jessica sudah kembali dengan susunan gambar rumah itu. Ayah pun bingung, bagaimana bisa ia menyelesaikan tugas yang sulit itu? Ayah lalu bertanya, “Bagaimana caranya kamu menyusun gambar rumah ini? Pasti kamu minta tolong Bunda deh.”</p>
<p>Mata bulat gadis itu berbinar, “Nggak kok. Aku membuatnya sendiri. Sebab, dibalik gambar ini, ada gambar boneka kesukaanku. Jadi, aku menyusun gambar itu saja. Ini, gambar bonekaku, aku senang sekali dengannya.</p>
<p>Sang Ayah pun terdiam. Ia kalah, dan harus siap kembali menerima semua ocehan gadis kecilnya ini.</p>
<p>***<br />
Sahabat, seringkali, kita menganggap anak-anak dengan naif. Kita kerap meremehkan pola pikir yang mereka miliki. Kita, yang sok dewasa, sering berpendapat, anak kecil, bukanlah guru yang terbaik buat kehidupan. Mereka semua hanyalah penganggu, dan sesuatu yang selalu mengusik setiap ketenangan.</p>
<p>Namun sayang, kita kerap salah. Dan Jessica, bisa jadi membuktikannya. Kita, seringkali menganggap dunia ini sebagai sesuatu yang sulit. Dunia, dalam pikiran kita, adalah potongan gambar-gambar yang tak runut. Potongan-potongan itu pulalah yang kita susun dengan perasaan takut. Dunia, bagi kita, adalah tempat segala masalah bersatu. Dan kita merangkainya dengan hati penuh pilu.</p>
<p>Dengan kata lain, dunia, bagi kita, adalah layaknya benang kusut, yang penuh dengan keruwetan, ketidakteraturan, dan kesumpekan. Dunia, bagi kita yang mengaku dewasa, adalah amarah, angkara, dengki, dan dendam, iri dan maki serta tangis dan nestapa.</p>
<p>Padahal, kalau kita mau menjenguk sisi lain dunia, ada banyak keindahan yang hadir di sana. Ada banyak kenyamanan dan kesenangan yang mampu diwujudkannya. Ya, asalkan kita mau menjenguknya, melihat dengan lebih tekun dan jeli. Mencermati setiap bagian dari dunia yang kita sukai.</p>
<p>Jalin-jemalin kenyamanan yang dapat dirangkai dalam dunia, adalah sesuatu yang indah. Disana akan kita temukan kesejukan, ketenangan, kesunyian, keteraturan, keterpaduan dan segalanya, asalkan kita mau menjenguknya.</p>
<p>Jadi, potongan gambar dunia mana yang akan Anda susun? Dunia yang penuh angkara, atau dunia yang penuh cinta? Dunia yang penuh duri, atau dunia yang penuh peduli? Anda sendirilah yang akan menyusun potongan-potongan gambar itu. Susunan yang Anda pilih, akan membentuk kehidupan Anda.<br />
Selamat menyusun potongan hidup Anda!!</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/kehidupan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wasiat Ayah</title>
		<link>http://pengharapan.com/wasiat-ayah.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/wasiat-ayah.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 03:34:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[bungsu]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[respon]]></category>
		<category><![CDATA[sulung]]></category>
		<category><![CDATA[wasiat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=473</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah, hiduplah sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan dua orang anak laki-laki (sebut saja si-Sulung dan si-Bungsu). Pada suatu hari, sang Ayah mendadak sakit keras dan diprediksi sudah mendekati ajalnya. Menyadari akan hal ini, sang Ayah pun segera memanggil kedua anak laki-lakinya si-Sulung dan si-Bungsu.
Sesudah mereka berdua bersimpuh di dekat Ayah berbaring, sang [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alkisah, hiduplah sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan dua orang anak laki-laki (sebut saja si-Sulung dan si-Bungsu). Pada suatu hari, sang Ayah mendadak sakit keras dan diprediksi sudah mendekati ajalnya. Menyadari akan hal ini, sang Ayah pun segera memanggil kedua anak laki-lakinya si-Sulung dan si-Bungsu.</p>
<p>Sesudah mereka berdua bersimpuh di dekat Ayah berbaring, sang Ayah pun menyatakan permintaannya kepada mereka : “Kalian berdua harus berjanji kepada Ayah……, bahwa setelah Ayah meninggal dunia nanti, kalian berdua harus menepati 2 pesan terakhir Ayah”. Sambil terisak tangis dan suasana hati yang tidak karuan, Sulung dan Bungsu pun hanya dapat manggut-manggut melihat kondisi Ayahnya yang semakin kritis.<span id="more-473"></span>Begini kira-kira kedua pesan Ayahnya itu:<br />
“<strong>PERTAMA</strong>, kalian harus berjanji kepada Ayah, bahwa setelah Ayah meninggal nanti, kalian berdua<strong> TIDAK BOLEH MENAGIH PIUTANG</strong> kepada siapapun”. Tidak ada tindakan lain dari Sulung maupun Bungsu dalam menanggapi pesan <strong>PERTAMA</strong> Ayahnya itu selain mengatakan <strong>IYA KAMI BERJANJI</strong> dan menganggukkan kepala meski perasaan bingung menghinggapi kedua Anak tersebut.</p>
<p>“<strong>KEDUA</strong>, kalian berdua harus berjanji kepada Ayah, bahwa setelah Ayah meninggal nanti, kalian berdua <strong>TIDAK BOLEH TERKENA SINAR MATAHARI SECARA LANGSUNG</strong>”. Semakin bingung-lah mereka terhadap permintaan Ayahnya. Tetapi sekali lagi keadaan lah yang memaksa mereka berdua untuk mengatakan <strong>IYA KAMI BERJANJI</strong> dan menganggukkan kepala.</p>
<p>Akhirnya, sesuai dengan rencana sang Ayah pun meninggal dunia dengan tenang karena telah menyatakan pesannya kepada kedua Anaknya. Prosesi pemakaman pun berlangsung dan kehidupan harus terus berjalan, karena baik Sulung maupun Bungsu memiliki Wirausaha yang harus dijalankan sebagai sandaran hidup.</p>
<p>Hari berganti hari, Minggu berganti minggu, Bulan dan Tahun. Tidak terasa 5 tahun telah berlalu sejak kematian sang Ayah. Disinilah mulai tampak perbedaan yang sangat mencolok antara Sulung dan Bungsu. Sang Ibu sebagai orang di “<strong>Tengah</strong>” pun tanggap akan hal ini. Perbedaan yang paling nyata adalah soal<strong> EKONOMI / KEUANGAN</strong>. Sang Ibu merasa iba kepada nasib si-Bungsu yang ekonominya sangat amburadul dan boleh dikatakan mulai Gulung Tikar. Sebaliknya, sang Ibu pun bangga kepada nasib si-Sulung yang boleh dibilang sangat sukses dalam bidang ekonomi.</p>
<p>Tergelitik rasa penasaran, iba dan bangga yang bercampur jadi satu, sang Ibu pun mengunjungi si-Bungsu untuk menanyakan perihal nasibnya:</p>
<p>“Wahai Bungsu, mengapa nasib mu sedemikian malangnya anakku ???”.</p>
<p>Si Bungsu pun menjawab:<br />
“Ini karena saya menuruti 2 pesan wasiat Ayah. <strong>PERTAMA, SAYA DILARANG MENAGIH PIUTANG KEPADA SIAPAPUN.</strong> Sedangkan teman, kolega, client, dll tidak berniat untuk mengembalikan hutang mereka jika tidak ditagih, sehingga lama-kelamaan habislah modal saya Ibu. <strong>KEDUA</strong>, Ayah melarang saya untuk <strong>KENA</strong> <strong>SINAR MATAHARI SECARA LANGSUNG</strong>, itulah sebabnya pergi dan pulang dari Toko, saya selalu menggunakan jasa Taxi, karena saya hanya memiliki sepeda motor, sehingga modal saya lama-kelamaan habis Ibu”.</p>
<p>Melihat malangnya nasih Bungsu, sang Ibu pun menghibur dengan mengatakan :<br />
<strong>“ENGKAU MEMANG ANAK YANG BERBAKTI, KARENA ENGKAU MENJAGA JANJIMU KEPADA AYAH”.</strong></p>
<p>Kemudian berkunjunglah sang Ibu ke kediaman Sulung. Kali ini suasana berubah 180 derajat. Si Sulung adalah orang yang kaya raya dan sangat makmur ekonominya. Penasaran, sang Ibu pun menanyakan perihal nasibnya :</p>
<p>“Wahai Sulung, mengapa nasibmu sedemikian beruntung anakku ???”.</p>
<p>Si Sulung pun menjawab: “Ini karena saya menuruti 2 pesan wasiat Ayah”.</p>
<p>Sang Ibu pun keheranan akan jawaban Sulung dan menanyakan dengan rasa penasaran yang tinggi,</p>
<p>“kok bisa begitu ???”.</p>
<p>Sulung pun menjawab :<br />
<strong>“PERTAMA, SAYA DILARANG MENAGIH PIUTANG KEPADA SIAPAPUN</strong>, oleh karena itu <strong>SAYA TIDAK PERNAH MEMBERIKAN HUTANG KEPADA SIAPAPUN</strong>, sehingga modal saya tetap. <strong>KEDUA, SAYA DILARANG KENA SINAR MATAHARI SECARA LANGSUNG</strong>, karena saya hanya memiliki sepeda motor, maka saya berangkat ke Toko pagi-pagi benar sebelum matahari terbit, dan pulang dari Toko malam benar setelah matahari terbenam, sehingga <strong>SEMUA CUSTOMER SAYA TAHU BAHWA TOKO SAYA BUKA PALING PAGI &amp; TUTUP PALING MALAM</strong>, sehingga Toko saya diserbu banyak pelanggan”.</p>
<p>Sang Ibu pun keheranan penuh kekaguman akan jawaban dari si-Sulung.</p>
<p>Selama ini anda selalu memerankan karakter Sulung / Bungsu ???<br />
Semoga bermanfaat untuk menghadapi persoalan hidup apapun. Anda hanya tinggal memilih …… Sulung ……….. atau ……………..Bungsu.</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/wasiat-ayah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>I&#8217;m a Big Girl Dad</title>
		<link>http://pengharapan.com/im-a-big-girl-dad.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/im-a-big-girl-dad.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Aug 2010 04:02:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[ciuman]]></category>
		<category><![CDATA[kasih sayang]]></category>
		<category><![CDATA[penyesalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=435</guid>
		<description><![CDATA[Saya adalah anak bungsu. Ayah saya adalah seorang pekerja tambang. Rambutnya sudah putih semua, tapi tubuhnya masih terlihat kuat &#38; gagah. Hatinya lembut &#38; sayang keluarga. Hampir tiap pagi jika tidak sedang tugas, dia selalu mengantar saya sekolah. Kami selalu berangkat dengan motor bututnya, motor kebanggaan yang selalu dicucinya tiap hari. Motor itu begitu bututnya, [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya adalah anak bungsu. Ayah saya adalah seorang pekerja tambang. Rambutnya sudah putih semua, tapi tubuhnya masih terlihat kuat &amp; gagah. Hatinya lembut &amp; sayang keluarga. Hampir tiap pagi jika tidak sedang tugas, dia selalu mengantar saya sekolah. Kami selalu berangkat dengan motor bututnya, motor kebanggaan yang selalu dicucinya tiap hari. Motor itu begitu bututnya, sampai kadang bunyi kelontangan saat berjalan. Karena itu kadang saya malu &amp; pengen agar tubuh saya menciut &amp; menghilang saja kala motor ayah saya masuk halaman sekolah.</p>
<p>Jarak rumah ke ­sekolah sekitar satu jam. Dia sering memakaikan jaket tebal agar saya tidak kedinginan diterpa angin pagi. Dan setibanya di-depan pagar sekolah dia selalu menurunkan saya &amp; menciumi pipi saya berkali2. Namun setelah beranjak remaja, saya mulai risih kala ayah mencium pipi saya. Apalagi di depan teman2. Saya kan udah umur 12 tahun? masak diciumin terus seperti anak balita aja? Sebel banget deh. Maka saya putuskan bahwa saya bukan anak kecil &amp; tidak butuh kecupan di pipi lagi.<br />
<span id="more-435"></span>Suatu hari, seperti biasa, ayah saya mengantar sampai di depan gerbang sekolah, menurunkan saya, tersenyum lebar dengan senyum khasnya &amp; memiringkan badannya hendak mencium pipi saya. Tapi saya segera mengangkat tangan &amp; berkata, &#8220;Jangan ayah, aku malu!&#8221; itu pertama kalinya saya berkata begitu &amp; wajah ayah tampak begitu keheranan. Dengan sebal saya berkata &#8220;Yah, aku kan sudah besar &amp; sudah terlalu tua untuk dicium2 kayak anak balita.&#8221;</p>
<p>Ayah memandang saya beberapa saat, rasanya begitu lama ia memandang &amp; matanya mulai sedikit berkaca2 &amp; basah. Namun aku lihat dia berusaha menahan diri. &#8220;OK deh, kamu sudah gadis remaja sekarang. Ayah tak perlu menciummu lagi.&#8221; dia berbalik menuju motor bututnya &amp; melambaikan tangannya pamit pergi. Tak lama sesudah itu, ia ditugaskan ke-Aceh &amp; ia hilang &amp; tak pernah kembali lagi. 26 Des 2004 badai Tsunami meluluhlantakkan Meulaboh-Aceh &amp; menghancurkan pos tambang tempat dimana ayah saya ditugaskan.<br />
Anda semua takkan bisa bayangkan apa yang akan saya korbankan sekedar untuk mendapatkan lagi ciuman sayang darinya. Untuk merasakan wajah tua &amp; kumisnya yang kasar. Mencium bau tubuhnya yang khas. Dan untuk merasakan lengannya yang kuat merangkul pundakku, mengacak2 rambutku atau menggendong badanku. Seandainya bisa, aku ingin ucapkan padanya &#8216;Ayah, aku sudah dewasa, tapi aku tak pernah terlalu tua utk mendapat ciuman darimu&#8230;I&#8217;m a big girl dad, but i never too old for your kiss&#8221;</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/im-a-big-girl-dad.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kasih Seorang Ayah</title>
		<link>http://pengharapan.com/kasih-seorang-ayah.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/kasih-seorang-ayah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Aug 2010 03:30:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[berbagai cara]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[keras]]></category>
		<category><![CDATA[serba salah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=396</guid>
		<description><![CDATA[Sejak dulu, radio merupakan salah satu-satunya teman yang selalu menemani saya ketika sedang mengerjakan tugas, belajar, maupun bersantai. Tidak pernah bosan rasanya mendengarkan rancangan yang disajikan oleh berbagai stasiun radio.
Pernah pada satu malam dulu di sebuah stasiun radio, sedang berkumandang rancangan dimana pendengar berbagi pengalaman hidup mereka. Perhatian saya yang pada mulanya tercurah pada tugas-tugas [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak dulu, radio merupakan salah satu-satunya teman yang selalu menemani saya ketika sedang mengerjakan tugas, belajar, maupun bersantai. Tidak pernah bosan rasanya mendengarkan rancangan yang disajikan oleh berbagai stasiun radio.</p>
<p>Pernah pada satu malam dulu di sebuah stasiun radio, sedang berkumandang rancangan dimana pendengar berbagi pengalaman hidup mereka. Perhatian saya yang pada mulanya tercurah pada tugas-tugas pejabat beralih ketika seorang wanita bercerita tentang ayahnya. Wanita ini adalah anak tunggal dari sebuah keluarga sederhana. Sejak kecil dia sering dimarahi oleh ayahnya.</p>
<p>Di mata si ayah, tak satupun yang dikerjakan olehnya betul. Setiap hari dia berusaha keras untuk melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan ayahnya, namun tetap saja hanya ketidakpuasan si ayah yang didapati.<br />
<span id="more-396"></span>Pada waktu dia berusia 17 tahun, tak sepatah ucapan selamat pun yang keluar dari mulut ayahnya. Perkara ini membuat wanita itu semakin membenci ayahnya. Gambaran ayah yang melekat dalam dirinya adalah seorang yang pemarah dan tidak memperhatikan dirinya. Akhirnya dia memberontak dan sejak itu setiap hari yang dilalui tidak sepi dengan pertengkaran dengan ayahnya.</p>
<p>Beberapa hari setelah ulang tahun yang ke-17, ayah wanita itu meninggal dunia akibat penyakit kanker yang tak pernah dia ceritakan kepada siapapun kecuali pada isterinya. Walaupun merasa sedih dan kehilangan, namun di dalam diri wanita itu masih tersimpan rasa benci terhadap ayahnya.</p>
<p>Satu hari ketika membantu ibunya mengemas barang peninggalan almarhum, dia menemukan dengan sebuah bungkusan yang dibungkus dengan rapi dan di atasnya tertulis &#8220;Untuk Anakku Tersayang&#8221;.</p>
<p>Dengan hati-hati diambilnya bungkusan tersebut dan mulai membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan dan sebuah buku yang telah lama dia idam-idamkan. Di samping kedua benda itu, terdapat sebuah kartu ucapan berwarna merah muda, warna kesukaannya. Perlahan dia membuka kartu tersebut dan mulai membaca tulisan yang ada di dalamnya, yang dia kenali pasti sebagai tulisan tangan ayahnya.</p>
<p>&#8220;Ya Tuhan, Terima kasih karena Engkau mempercayai diriku yang rendah ini Untuk memperoleh kurnia terbesar dalam hidupku. Ku mohon padaMU Ya Tuhan, Jadikan buah kasih hambaMu ini orang yang berarti bagi sesamanya dan bagiMu. Jangan kau berikan jalan yang lurus dan luas membentang. Berikan pula jalan yang penuh liku dan duri Agar ia dapat meresapi kehidupan dengan seutuhnya. Sekali lagi ku mohon Ya Tuhan, sertailah anakku dalam setiap langkah yang ia tempuh. Jadikan ia sesuai dengan kehendakMu. Selamat ulang tahun anakku, Doa ayah selalu menyertaimu&#8221;.</p>
<p>Meledaklah tangisan si anak selesai membaca tulisan yang terdapat dalam kartu tersebut. Ibunya menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi. Dalam pelukan ibunya, ia menceritakan semua tentang bungkusan dan tulisan yang terdapat dalam kartu ulang tahunnya. Ibu wanita itu akhirnya menceritakan bahwa ayahnya memang sengaja merahasiakan penyakitnya dan mendidik anaknya dengan tegas agar si anak menjadi wanita yang kuat, tegar dan tidak terlalu kehilangan ayahnya ketika ajal menjemput akibat penyakit yang diderita&#8230;</p>
<p>Pada akhir bicara, wanita itu mengingatkan para pendengar agar tidak selalu melihat apa yang kita lihat dengan kedua mata kita. Lihatlah juga segala sesuatu dengan mata hati kita. Apa yang kita lihat dengan kedua mata kita terkadang tidak sepenuhnya seperti apa yang sebenarnya terjadi.</p>
<p>&#8220;Kasih seorang ayah, seorang ibu, saudara, orang-orang di sekitar kita, dan terutama kasih Allah dilimpahkan pada kita dengan berbagai cara. Sekarang hanya tinggal bagaimana kita menerima, menyerap, mengertikan dan membalas kasih sayang itu&#8221;, kata wanita tersebut menutup bicara pada malam itu.</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/kasih-seorang-ayah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan sia-siakan PengorbananNya</title>
		<link>http://pengharapan.com/jangan-sia-siakan-pengorbanannya.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/jangan-sia-siakan-pengorbanannya.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Aug 2010 02:47:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[hukuman]]></category>
		<category><![CDATA[jantung]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[pengorbanan]]></category>
		<category><![CDATA[serena]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=382</guid>
		<description><![CDATA[Saya suka menonton serial Ally McBeal, dan dalam salah satu episode-nya diceritakan seorang gadis remaja yang hanya punya waktu 6 minggu untuk hidup karena masalah jantung.
Serena, nama gadis itu, memiliki seorang ayah yang dipenjara seumur hidup karena terbukti membunuh istrinya sendiri &#8212; tentunya ibu dari Serena. Tetapi sekarang, hanya jantung sang ayah yang bisa memberi [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya suka menonton serial Ally McBeal, dan dalam salah satu episode-nya diceritakan seorang gadis remaja yang hanya punya waktu 6 minggu untuk hidup karena masalah jantung.</p>
<p>Serena, nama gadis itu, memiliki seorang ayah yang dipenjara seumur hidup karena terbukti membunuh istrinya sendiri &#8212; tentunya ibu dari Serena. Tetapi sekarang, hanya jantung sang ayah yang bisa memberi harapan pada Serena untuk tetap hidup.</p>
<p>Yang menjadi kendala adalah masalah hukum. Hukum negara bagian di mana mereka tinggal tidak mengijinkan hal-hal semacam suntik mati, dll, apalagi &#8220;membunuh&#8221; seorang manusia untuk menyelamatkan manusia lainnya. Pengacara Serena (dari badan hukum di mana Ally bekerja) mengajukan argumen:</p>
<p>Sederhana saja. Si ayah tidak memiliki masa depan. Dia akan menghabiskan seluruh hidupnya di penjara. Dia rela memberikan jantungnya kepada anaknya. Si anak masih remaja. Masa depannya masih panjang. Jadi, biarkan Serena hidup dengan jantung ayahnya&#8230;. Ini bukan pembunuhan. Ini adalah masalah seorang ayah ingin menolong anaknya.<span id="more-382"></span>Pengacara negara menolak hal tersebut. Kalau satu diijinkan, nanti semua narapidana di penjara berbondong-bondong menjadi donor organ tubuh untuk si anu dan si anu, dengan harapan mereka bisa luput dari hukuman atas kejahatan mereka, dengan harapan mereka bisa menjadi pahlawan kesiangan! Lagipula, siapakah kita sehingga kita berpikir bisa menentukan hidup siapa yang lebih berharga?</p>
<p>Jadi, dilihat dari sisi manapun, ini adalah pembunuhan. Dan ini besar efeknya pada masa depan hukum. Hakim bingung. Sidang pendahuluan ditunda. Penonton penasaran. Adegan berikut menunjukkan wajah Serena dan pengacaranya yang sedih dan kebingungan. Si ayah melarikan diri dalam perjalanan menuju pengadilan lanjutan. Semua menduga hal ini sudah direncanakan sebelumnya. Serena sedih dan sakit hati. &#8220;Dia adalah pembunuh ibuku! Alangkah tololnya aku, mau percaya bahwa ia bersedia menolong aku untuk tetap hidup&#8230;&#8221; Pengacara terdiam. Tidak tahu harus berkomentar apa.</p>
<p>Tiba-tiba hand-phone si pengacara berbunyi. Dari rumah sakit. Ayah Serena pergi ke rumah sakit dan menyodorkan kartu donor-nya, dan kemudian&#8230; menembak dirinya sendiri dengan pistol. Tidak ingin mengambil resiko kalah di pengadilan, si ayah memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri. Rumah sakit mendesak Serena untuk segera datang agar operasi bisa segera dilakukan. Jantung ayahnya menunggu, dan tidak bisa menunggu lama. Di atas ranjang operasi,</p>
<p>Serena ragu-ragu. Rasa bersalah menyelimutinya. Haruskah aku melakukan ini? tanyanya pada semua yang hadir di ruangan. Ini jantung ayahku&#8230; dan ia menembak mati dirinya sendiri&#8230;.</p>
<p>Semua buru-buru menasehatinya. &#8220;Jangan membuat pengorbanannya sia-sia.&#8221; &#8220;Kalian kan sudah sepakat dari awal. Hanya saja kita tidak menduga caranya akan seperti ini&#8230;&#8221; dll dll.</p>
<p>Tapi adalah satu kalimat yang membuat Serena akhirnya mau dioperasi. &#8220;Serena, your father faced death&#8230; so you won&#8217;t have to.&#8221; Serena, ayahmu memilih untuk menghadapi kematian &#8230; agar kamu tidak perlu mati.</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/jangan-sia-siakan-pengorbanannya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ceritakanlah Pada Seluruh Dunia</title>
		<link>http://pengharapan.com/ceritakanlah-pada-seluruh-dunia.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/ceritakanlah-pada-seluruh-dunia.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Jul 2010 04:52:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[adik]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[pastor]]></category>
		<category><![CDATA[tommy]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=355</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar 14 tahun yang lalu, aku berdiri menyaksikan para mahasiswaku berbaris memasuki kelas untuk mengikuti kuliah pertama tentang teologi iman.
Pada hari itulah untuk pertama kalinya aku melihat Tommy. Dia sedang menyisir rambutnya yang terurai sampai sekitar 20 cm di bawah bahunya. Penilaian singkatku: dia seorang yang aneh, sangat aneh.
Tommy ternyata menjadi tantanganku yang terberat. Dia [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">Sekitar 14 tahun yang lalu, aku berdiri menyaksikan para mahasiswaku berbaris memasuki kelas untuk mengikuti kuliah pertama tentang teologi iman.</div>
<div>Pada hari itulah untuk pertama kalinya aku melihat Tommy. Dia sedang menyisir rambutnya yang terurai sampai sekitar 20 cm di bawah bahunya. Penilaian singkatku: dia seorang yang aneh, sangat aneh.</div>
<div id="_mcePaste">Tommy ternyata menjadi tantanganku yang terberat. Dia terus-menerus mengajukan keberatan. Dia juga melecehkan tentang kemungkinan Tuhan mencintai secara tanpa pamrih.</div>
<div>Ketika dia muncul untuk mengikuti ujian di akhir kuliah, dia bertanya dengan agak sinis, &#8220;Menurut Pastor apakah saya akan pernah menemukan Tuhan?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Tidak,&#8221; jawabku dengan sungguh-sungguh.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Oh,&#8221; sahutnya. &#8220;Rasanya Anda memang tidak pernah mengajarkan bagaimana menemukan Tuhan.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Kubiarkan dia berjalan sampai lima langkah lagi dari pintu, lalu kupanggil.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Saya rasa kamu tak akan pernah menemukan-Nya. Tapi, saya yakin Dialah yang akan menemukanmu.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Tommy mengangkat bahu, lalu pergi. Aku merasa agak kecewa karena dia tidak bisa menangkap maksud kata-kataku. Kemudian kudengar Tommy sudah lulus, dan saya bersyukur.</div>
<div>Namun kemudian tiba berita yang menyedihkan: Tommy mengidap kanker yang sudah parah. Sebelum saya sempat mengunjunginya, dia yang lebih dulu menemui saya. Saat dia melangkah masuk ke kantor saya, tubuhnya sudah menyusut, dan rambutnya yang panjang sudah rontok karena pengobatan dengan kemoterapi.<span id="more-355"></span></div>
<div>Namun, matanya tetap bercahaya dan suaranya, untuk pertama kalinya, terdengar tegas.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Tommy! Saya sering memikirkanmu. Katanya kamu sakit keras?&#8221; tanyaku langsung.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Oh ya, saya memang sakit keras. Saya menderita kanker. Waktu saya hanya tinggal beberapa minggu lagi.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Kamu mau membicarakan itu?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Boleh saja. Apa yang ingin Pastor ketahui?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Bagaimana rasanya baru berumur 24 tahun, tapi kematian sudah menjelang?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Jawabnya, &#8220;Ini lebih baik ketimbang jadi lelaki berumur 50 tahun namun mengira bahwa minum minuman keras, bermain perempuan, dan memburu harta adalah hal-hal yang &#8216;utama&#8217; dalam hidup ini.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Lalu dia mengatakan mengapa dia menemuiku.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Sesuatu yang Pastor pernah katakan pada saya pada hari terakhir kuliah Pastor. Saya bertanya waktu itu apakah saya akan pernah menemukan Tuhan, dan Pastor mengatakan tidak. Jawaban yang sungguh mengejutkan saya. Lalu, Pastor mengatakan bahwa Tuhanlah yang akan menemukan saya. Saya sering memikirkan kata-kata Bapak itu, meskipun pencarian Tuhan yang saya lakukan pada masa itu tidaklah sungguh-sungguh.&#8221;</div>
<div>&#8220;Tetapi, ketika dokter mengeluarkan segumpal daging dari pangkal paha saya,&#8221; Tommy melanjutkan &#8220;dan mengatakan bahwa gumpalan itu ganas, saya pun mulai serius melacak Tuhan.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Dan ketika tumor ganas itu menyebar sampai ke organ-organ vital, saya benar-benar menggedor-gedor pintu surga. Tapi tak terjadi apa pun. Lalu, saya terbangun di suatu hari, dan saya tidak lagi berusaha keras mencari-cari pesan itu. Saya menghentikan segala usaha itu. Saya memutuskan untuk tidak peduli sama sekali pada Tuhan, kehidupan setelah kematian, atau hal-hal sejenis itu.&#8221;</div>
<div>&#8220;Saya memutuskan untuk melewatkan waktu yang tersisa melakukan hal-hal penting,&#8221; lanjut Tommy.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Saya teringat tentang Pastor dan kata-kata Pastor yang lain: Kesedihan yang paling utama adalah menjalani hidup tanpa mencintai. Tapi hampir sama sedihnya, meninggalkan dunia ini tanpa mengatakan pada orang yang saya cintai bahwa kau mencintai mereka. Jadi saya memulai dengan orang yang tersulit, ayah saya.&#8221;</div>
<div>Ayah Tommy waktu itu sedang membaca koran saat anaknya menghampirinya.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Pa, aku ingin bicara.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Bicara saja.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Pa, ini penting sekali.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Korannya turun perlahan 8 cm. &#8220;Ada apa?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Pa, aku cinta Papa. Aku hanya ingin Papa tahu itu.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Tommy tersenyum padaku saat mengenang saat itu.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Korannya jatuh ke lantai.</div>
<div id="_mcePaste">Lalu ayah saya melakukan dua hal yang seingatku belum pernah dilakukannya.</div>
<div id="_mcePaste">Ia menangis dan memelukku. Dan kami mengobrol semalaman, meskipun dia harus bekerja besok paginya.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Dengan ibu saya dan adik saya lebih mudah,&#8221; sambung Tommy.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Mereka menangis bersama saya, dan kami berpelukan, dan berbagi hal yang kami rahasiakan bertahun-tahun. Saya hanya menyesalkan mengapa saya harus menunggu sekian lama. Saya berada dalam bayang-bayang kematian, dan saya baru memulai terbuka pada semua orang yang sebenarnya dekat dengan saya.</div>
<div>&#8220;Lalu suatu hari saya berbalik dan Tuhan ada disitu. Ia tidak datang saat saya memohon pada-Nya. Rupanya Dia bertindak menurut kehendak-Nya dan pada waktu-Nya. Yang penting adalah Pastor benar. Dia menemukan saya bahkan setelah saya berhenti mencari-Nya.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Tommy,&#8221; aku tersedak, &#8220;Menurut saya, kata-katamu lebih universal dari pada yang kamu sadari. Kamu menunjukkan bahwa cara terpasti untuk menemukan Tuhan adalah bukan dengan membuatnya menjadi milik pribadi atau penghiburan instan saat membutuhkan, melainkan dengan membuka diri pada cinta kasih.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Tommy,&#8221; saya menambahkan, &#8220;boleh saya minta tolong? Maukah kamu datang ke kuliah teologi iman dan mengatakan kepada para mahasiswa saya apa yang baru kamu ceritakan?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Meskipun kami menjadwalkannya, ia tak berhasil hadir hari itu. Tentu saja, karena ia harus berpulang. Ia melangkah jauh dari iman ke visi. Ia menemukan kehidupan yang jauh lebih indah daripada yang pernah dilihat mata kemanusiaan atau yang pernah dibayangkan.</div>
<div id="_mcePaste">Sebelum ia meninggal, kami mengobrol terakhir kali.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Saya tak akan mampu hadir di kuliah Bapak,&#8221; katanya.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Saya tahu, Tommy.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Maukah Bapak menceritakannya untuk saya? Maukah Bapak menceritakannya pada dunia untuk saya?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Ya, Tommy. Saya akan melakukannya.&#8221;</div>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/ceritakanlah-pada-seluruh-dunia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

