Saya suka menonton serial Ally McBeal, dan dalam salah satu episode-nya diceritakan seorang gadis remaja yang hanya punya waktu 6 minggu untuk hidup karena masalah jantung.

Serena, nama gadis itu, memiliki seorang ayah yang dipenjara seumur hidup karena terbukti membunuh istrinya sendiri — tentunya ibu dari Serena. Tetapi sekarang, hanya jantung sang ayah yang bisa memberi harapan pada Serena untuk tetap hidup.

Yang menjadi kendala adalah masalah hukum. Hukum negara bagian di mana mereka tinggal tidak mengijinkan hal-hal semacam suntik mati, dll, apalagi “membunuh” seorang manusia untuk menyelamatkan manusia lainnya. Pengacara Serena (dari badan hukum di mana Ally bekerja) mengajukan argumen:

Sederhana saja. Si ayah tidak memiliki masa depan. Dia akan menghabiskan seluruh hidupnya di penjara. Dia rela memberikan jantungnya kepada anaknya. Si anak masih remaja. Masa depannya masih panjang. Jadi, biarkan Serena hidup dengan jantung ayahnya…. Ini bukan pembunuhan. Ini adalah masalah seorang ayah ingin menolong anaknya. Read the rest of this entry »

Kebahagiaan Adalah Pilihan

Pada suatu zaman di Tiongkok, hiduplah seorang jenderal besar yang selalu menang dalam setiap pertempuran. Karena itulah, ia dijuluki “Sang Jenderal Penakluk” oleh rakyat. Suatu ketika, dalam sebuah pertempuran, ia dan pasukannya terdesak oleh pasukan lawan yang berkali lipat lebih banyak.
Mereka melarikan diri, namun terangsak sampai ke pinggir jurang. Pada saat itu para prajurit Sang Jenderal menjadi putus asa dan ingin menyerah kepada musuh saja. Sang Jenderal segera mengambil inisiatif, “Wahai seluruh pasukan, menang-kalah sudah ditakdirkan oleh dewa-dewa. Kita akan menanyakan kepada para dewa, apakah hari ini kita harus kalah atau akan menang. Saya akan melakukan tos dengan keping keberuntungan ini! Jika sisi gambar yang muncul, kita akan menang. Jika sisi angka yang muncul, kita akan kalah! Biarlah dewa-dewa yang menentukan!” seru Sang Jenderal sambil melemparkan kepingnya untuk tos.
Di Propinsi Zhejiang China, ada seorang anak laki-laki yang luar biasa, sebut saja namanya Zhang Da. Perhatiannya yang besar kepada Papanya, hidupnya yang pantang menyerah dan mau bekerja keras, serta tindakan dan perkataannya yang menyentuh hati membuat Zhang Da, anak lelaki yang masih berumur 10 tahun ketika memulai semua itu, pantas disebut anak yang luar biasa. Saking jarangnya seorang anak yang berbuat demikian, sehingga ketika Pemerintah China mendengar dan menyelidiki apa yang Zhang Da perbuat maka merekapun memutuskan untuk menganugerahi penghargaan Negara yang Tinggi kepadanya. Zhang Da adalah salah satu dari sepuluh orang yang dinyatakan telah melakukan perbuatan yang luar biasa dari antara 1,4 milyar penduduk China. Tepatnya 27 Januari 2006 Pemerintah China, di Propinsi Jiangxu, kota Nanjing, serta disiarkan secara Nasional keseluruh pelosok negeri, memberikan penghargaan kepada 10 (sepuluh) orang yang luar biasa, salah satunya adalah Zhang Da.Mengikuti kisahnya di televisi, membuat saya ingin menuliskan cerita ini untuk melihat semangatnya yang luar biasa.

Sebuah Kisah Di musim Dingin

Negeri China pada masa lalu bukanlah negeri yang kaya seperti saat ini. Pada saat itu, masih sangat banyak rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Sepotong kue bagi mereka bisa berarti sebuah nyawa. Inilah kisahnya:
Siu Lan, seorang janda miskin memiliki seorang putri kecil berumur 7 tahun, Lie Mei. Kemiskinan memaksanya untuk membuat sendiri kue-kue dan menjajakannya di pasar untuk biaya hidup berdua. Hidup penuh kekurangan membuat Lie Mei tidak pernah bermanja-manja pada ibunya, seperti anak kecil lain. Suatu ketika dimusim dingin, saat selesai membuat kue, Siu Lan melihat keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Dia berpesan agar Lie Mei menunggu di rumah karena dia akan membeli keranjang kue yang baru. Pulang dari membeli keranjang kue, Siu Lan menemukan pintu rumah tidak terkunci dan Lie Mei tidak ada di rumah. Marahlah Siu Lan.Putrinya benar-benar tidak tahu diri, sudah hidup susah masih juga pergi bermain dengan teman-temannya. Lie Mei tidak menunggu rumah seperti pesannya. Siu Lan menyusun kue kedalam keranjang, dan pergi keluar rumah untuk menjajakannya. Dinginnya salju yang memenuhi jalan tidak menyurutkan niatnya untuk menjual kue. Bagaimana lagi ? Mereka harus dapat uang untuk makan.

Proses

Jalan hidup yang dilalui setiap orang tidak ada yang sama; selalu berbeda antar seorang dengan yang lain. Semua orang menjalani ujian dan proses yang membentuk hidup kita lebih arif, bijaksana, dewasa & berharap hanya kepada TUHAN. Satu hal yang saya tahu, sering kali kita tak pernah bersyukur buat apa yg kita alami. Kita selalu mengeluh & bilang bahwa TUHAN tidak adil. TUHAN tidak sayang saya, dsb Yang intinya kita banyak menyalahkan TUHAN, tanpa melihat ada apa dibalik semua peristiwa yang di-ijinkanNYA terjadi dalam hidup kita.
Kali ini saya belajar banyak untuk terus bersyukur apapun yang terjadi. Hidup saya terbelit hutang. Mulai dari saya menikah 2 tahun yang lalu sampai dengan hari ini saya masih mencicil hutang2 tersebut. Semuanya gara2 saya dan suami terjebak hutang kartu kredit dengan bunga berbunganya yang sangat tinggi. Saya sering Stress karena hutang tersebut apalagi debt collectornya sering tidak sopan & kasar, terlebih dengan penghasilan saya & suami yang pas2an dan habis untuk membayar hutang2 sehingga terkadang kami harus pintar2 gali lobang tutup lobang untuk membiayai hidup sehari2, karena jujur saja gaji kami tidak bisa menutup kebutuhan dengan anak satu dan hutang yang bertumpuk.
Seorang pria mendatangi Sang Guru, “Guru, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha
saya kacau. Apa pun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati saja.
“Sang Guru tersenyum, “Oh, kamu sakit.” “Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.”
Seolah-olah  tidak  mendengar  pembelaannya,  Sang Guru meneruskan, “Kamu sakit. Dan penyakitmu itu dinamakan Alergi Hidup.”
Banyak  sekali  di  antara  kita  yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa  disadari  kita  melakukan hal-hal yang  bertentangan dengan norma kehidupan.  Sungai  kehidupan  ini mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit.