<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pengharapan.com &#187; ibu</title>
	<atom:link href="http://pengharapan.com/tag/ibu/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pengharapan.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Feb 2012 12:52:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pengorbanan Seorang Ibu</title>
		<link>http://pengharapan.com/pengorbanan-seorang-ibu.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/pengorbanan-seorang-ibu.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Oct 2011 13:04:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Jepang]]></category>
		<category><![CDATA[pengorbanan]]></category>
		<category><![CDATA[rumah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=1237</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah kisah nyata Pengorbanan Ibu selama Gempa Jepang.
Setelah Gempa itu mereda, ketika tim penyelamat mencapai reruntuhan rumah seorang wanita muda, mereka melihat mayatnya melalui celah-celah. Tapi entah bagaimana posenya aneh bahwa dia menekuk lututnya seperti orang yang menyembah, tubuhnya condong ke depan dan ke dua tangannya seperti memeluk suatu benda.
Rumah itu telah runtuh seluruhnya&#8230;&#8230;
Dengan [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://pengharapan.com/boss-dan-pemimpin.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Boss dan Pemimpin'>Boss dan Pemimpin</a> <small>Betapa sering orang gagal untuk menjadi pemimpin karena mereka tidak...</small></li>
</ol>

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah kisah nyata Pengorbanan Ibu selama Gempa Jepang.</p>
<p>Setelah Gempa itu mereda, ketika tim penyelamat mencapai reruntuhan rumah seorang wanita muda, mereka melihat mayatnya melalui celah-celah. Tapi entah bagaimana posenya aneh bahwa dia menekuk lututnya seperti orang yang menyembah, tubuhnya condong ke depan dan ke dua tangannya seperti memeluk suatu benda.<br />
Rumah itu telah runtuh seluruhnya&#8230;&#8230;<span id="more-1237"></span></p>
<p>Dengan begitu banyak kesulitan, pemimpin tim penyelamat meletakkan tangannya melalui celah sempit di dinding untuk mencapai tubuh wanita. Dia berharap bahwa wanita ini masih hidup.<br />
Namun, tubuh dingin dan kaku mengatakan bahwa orang itu telah meninggal.<br />
Seluruh tim meninggalkan rumah itu dan mencari bangunan yang runtuh berikutnya.</p>
<p>Untuk beberapa alasan, pemimpin tim didorong oleh suatu kekuatan yang menarik untuk kembali ke rumah wanita yang sudah meninggal tersebut.<br />
Sekali lagi, dia berlutut diantara celah-celah sempit untuk mencari ruang kecil di bawah mayat. Tiba-tiba, ia berteriak gembira, &#8220;Aaa&#8230;Ada seorang anak..!!! &#8221;<br />
Seluruh tim bekerja bersama-sama dengan hati-hati, mereka membersihkan tumpukan benda-benda rusak di sekitar wanita mati.<br />
Ada seorang anak kecil berusia 3 bulan terbungkus selimut bunga di bawah mayat ibunya.</p>
<p>Jelas, wanita itu telah membuat pengorbanan besar untuk menyelamatkan anaknya, ketika rumahnya runtuh, ia menggunakan tubuhnya sebagai penutup tubuh anaknya untuk melindungi anaknya dari reruntuhan.<br />
Anak kecil itu masih tidur pulas ketika pemimpin tim mengangkatnya.<br />
Dokter medis datang dengan cepat memeriksa anak kecil itu, lalu ia membuka selimut, terlihat sebuah ponsel di dalam selimut.</p>
<p>Ada pesan teks pada layar, tertulis, &#8220;Jika kamu dapat bertahan hidup, kamu harus ingat bahwa aku mengasihi engkau.&#8221; lalu ponsel diperlihatkan pada anggota team dari satu tangan ke tangan lain.</p>
<p>Setiap tubuh yang membaca pesan tersebut menangis&#8230;</p>
<p>&#8220;Jika kamu dapat bertahan hidup, kamu harus ingat bahwa aku mencintaimu.&#8221;</p>
<p>Pesan tersebut adalah pesan kasih ibu untuk anaknya&#8230;!!!</p>
<p><a href="http://pengharapan.com/wp-content/uploads/2011/10/pengorbanan.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-1238" title="pengorbanan" src="http://pengharapan.com/wp-content/uploads/2011/10/pengorbanan.jpg" alt="pengorbanan Pengorbanan Seorang Ibu" width="320" height="241" /></a></p>
<p>As Posted by Rakata Stamos on <a href="http://www.facebook.com/pengharapan">http://www.facebook.com/pengharapan</a></p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://pengharapan.com/boss-dan-pemimpin.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Boss dan Pemimpin'>Boss dan Pemimpin</a> <small>Betapa sering orang gagal untuk menjadi pemimpin karena mereka tidak...</small></li>
</ol></p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/pengorbanan-seorang-ibu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semangkuk Bakso</title>
		<link>http://pengharapan.com/semangkuk-bakso.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/semangkuk-bakso.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 May 2011 00:23:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bakso]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[sayang]]></category>
		<category><![CDATA[semangkuk]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=1171</guid>
		<description><![CDATA[Dikisahkan, biasanya di hari ulang tahun Putri, ibu pasti sibuk di  dapur memasak dan menghidangkan makanan kesukaannya. Tepat saat yang  ditunggu, betapa kecewa hati si Putri, meja makan kosong, tidak tampak  sedikit pun bayangan makanan kesukaannya tersedia di sana. Putri kesal,  marah, dan jengkel.
&#8220;Huh, ibu sudah  tidak sayang lagi padaku. [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Dikisahkan, biasanya di hari ulang tahun Putri, ibu pasti sibuk di  dapur memasak dan menghidangkan makanan kesukaannya. Tepat saat yang  ditunggu, betapa kecewa hati si Putri, meja makan kosong, tidak tampak  sedikit pun bayangan makanan kesukaannya tersedia di sana. Putri kesal,  marah, dan jengkel.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Huh, ibu sudah  tidak sayang lagi padaku. Sudah tidak ingat hari ulang tahun anaknya  sendiri, sungguh keterlaluan,&#8221; gerutunya dalam hati. &#8220;Ini semua pasti  gara-gara adinda sakit semalam sehingga ibu lupa pada ulang tahun dan  makanan kesukaanku. Dasar anak manja!&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Ditunggu sampai siang, tampaknya orang  serumah tidak peduli lagi kepadanya. Tidak ada yang memberi selamat,  ciuman, atau mungkin memberi kado untuknya.<span id="more-1171"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dengan  perasaan marah dan sedih, Putri pergi meninggalkan rumah begitu saja.  Perut kosong dan pikiran yang dipenuhi kejengkelan membuatnya berjalan  sembarangan. Saat melewati sebuah gerobak penjual bakso dan mencium  aroma nikmat, tiba-tiba Putri sadar, betapa lapar perutnya! Dia menatap  nanar kepulan asap di atas semangkuk bakso.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mau beli bakso, neng?  Duduk saja di dalam,&#8221; sapa si tukang bakso.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Mau, bang. Tapi saya tidak punya uang,&#8221; jawabnya tersipu malu.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Bagaimana kalau hari ini abang traktir kamu? Duduklah, abang siapin mi  bakso yang super enak.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Putri pun segera duduk di dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba, dia tidak kuasa menahan air matanya, &#8220;Lho, kenapa menangis,  neng?&#8221; tanya si abang.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Saya jadi ingat ibu saya, nang.  Sebenarnya&#8230; hari ini ulang tahun saya. Malah abang, yang tidak saya  kenal, yang memberi saya makan. Ibuku sendiri tidak ingat hari ulang  tahunku apalagi memberi makanan kesukaanku. Saya sedih dan kecewa,  bang.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Neng cantik, abang yang baru sekali aja  memberi makanan bisa bikin neng terharu sampai nangis. Lha, padahal ibu  dan bapak neng, yang ngasih makan tiap hari, dari neng bayi sampai  segede ini, apa neng pernah terharu begini? Jangan ngeremehin orangtua  sendiri neng, ntar nyesel lho.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Putri seketika tersadar, &#8220;Kenapa aku  tidak pernah berpikir seperti itu?&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menghabiskan  makanan dan berucap banyak terima kasih, Putri bergegas pergi. Setiba di  rumah, ibunya menyambut dengan pelukan hangat, wajah cemas sekaligus  lega,</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Putri, dari mana kamu seharian ini, ibu tidak tahu harus  mencari kamu ke mana. Putri, selamat ulang tahun ya. Ibu telah membuat  semua makanan kesukaan Putri. Putri pasti lapar kan? Ayo nikmati semua  itu.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Ibu, maafkan Putri, Bu,&#8221; Putri pun menangis dan menyesal di  pelukan ibunya. Dan yang membuat Putri semakin menyesal, ternyata di  dalam rumah hadir pula sahabat-sahabat baik dan paman serta bibinya.  Ternyata ibu Putri membuatkan pesta kejutan untuk putri kesayangannya.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>=====================================================</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Saat kita mendapat pertolongan atau menerima pemberian sekecil apapun  dari orang lain, sering kali kita begitu senang dan selalu berterima  kasih. Sayangnya, kadang kasih dan kepedulian tanpa syarat yang  diberikan oleh orangtua dan saudara tidak tampak di mata kita. Seolah  menjadi kewajiban orangtua untuk selalu berada di posisi siap membantu,  kapan pun.</p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan, jika hal itu tidak terpenuhi,  segera kita memvonis, yang tidak sayanglah, yang tidak mengerti anak  sendirilah, atau dilanda perasaan sedih, marah, dan kecewa yang hanya  merugikan diri sendiri. Maka untuk itu, <strong>kita butuh untuk belajar  dan belajar mengendalikan diri, agar kita mampu hidup secara harmonis  dengan keluarga, orangtua, saudara, dan dengan masyarakat lainnya</strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : andriewongso.com</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/semangkuk-bakso.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebab Cinta</title>
		<link>http://pengharapan.com/sebab-cinta.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/sebab-cinta.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Jan 2011 01:05:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[lelah]]></category>
		<category><![CDATA[menghapus]]></category>
		<category><![CDATA[putus asa]]></category>
		<category><![CDATA[sebab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=949</guid>
		<description><![CDATA[Seorang ibu muda berlari kencang mengejar bis yang berjalan merambat di depan halte di daerah Kebon Nanas, Tangerang, Banten. Saat berlari, ia tidak sendiri. Ia menggendong anaknya yang masih berusia satu tahun. Pundak kecilnya juga masih harus dibebani dengan sekotak alat musik karaoke. Dua beban yang tak menyurutkan laju kencangnya mengejar bis kota , sayangnya [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang ibu muda berlari kencang mengejar bis yang berjalan merambat di depan halte di daerah Kebon Nanas, Tangerang, Banten. Saat berlari, ia tidak sendiri. Ia menggendong anaknya yang masih berusia satu tahun. Pundak kecilnya juga masih harus dibebani dengan sekotak alat musik karaoke. Dua beban yang tak menyurutkan laju kencangnya mengejar bis kota , sayangnya bis besar itu hanya menyisakan kepulan asap hitam di wajah wanita pengamen itu.</p>
<p>Si kecil yang digendongnya, hanya bisa menutup mata untuk menghindari kepulan asap yang memerihkan mata. Ia, sungguh takkan pernah mengerti sebab apa dibawa berlari mengejar satu bis ke bis lainnya. Ia, juga takkan pernah memahami, setiap kali ibunya bernyanyi di depan puluhan pasang mata di dalam bis kota . Yang ia tahu hanyalah, terik matahari, atau derasnya hujan, debu jalanan, asap knalpot, aroma bis kota , tatapan iba, dan juga makian penumpang yang terganggu oleh hingar musik ibunya. Semua itu menjadi sahabat sehari-hari si kecil.<span id="more-949"></span></p>
<p>Lain lagi dengan pemandangan di Pasar pagi Cikokol, Tangerang, Banten. Pukul 02.00 dini hari, seorang anak berusia tidak lebih tiga tahun terlelap di tengah pasar. Berselimut angin malam, berteman aroma pasar, si kecil tertidur ditemani hiruk pikuk para aktor pasar; penjual dan pembeli. Sesekali mimpinya tergugah oleh klakson mobil, matanya terbuka melihat sekejap sang ibu yang sibuk melayani pembeli. Kemudian terlelap kembali merajut mimpi indahnya.</p>
<p>Anak pasar itu &#8211; kalau boleh disebut begitu &#8211; tak pernah tahu sebab apa ibunya menyertakannya dalam aktivitas di pasar dini hari itu. Ia tak pernah benar-benar mengerti kenapa dirinya berada di tengah &#8211; tengah tumpukan cabai, bawang, tomat dan sayuran setiap pagi dan melihat transaksi jual beli yang dilakukan ibunya. Saat terbangun dan menemani ibunya, cabai, bawang, tomat itulah sahabatnya. Angin pagi yang menusuk menjadi selimutnya, dan aroma tak sedap pasar becek lah yang kerap mengakrabinya.</p>
<p>Di tempat yang berbeda. Seorang ibu di Bogor naik turun KRL (kereta api listrik) menggendong anaknya yang cacat mental dan fisik, padahal si anak sudah berusia belasan tahun. Anak yang takkan pernah mengerti itu, benar-benar tidak tahu, sebab apa ibunya rela menanggung malu mengemis belas kasih dari penumpang kereta. Si anak juga tak pernah bertanya,</p>
<p>“beratkah ibu menggendong saya?”</p>
<p>Masih di kereta yang sama, seorang ibu lainnya menggendong anaknya yang berusia tiga tahun. Si kecil yang lucu dan ramah itu, hanya memiliki sebelah tangan. Ia tak dianugerahi tangan kiri dan dua kaki saat terlahir ke dunia ini. Anak itu, tak pernah memahami kenapa di setiap menit selalu ada tetes air mata di sudut mata ibunya. Si kecil selalu tersenyum, meski air muka ibunya tak pernah menyiratkan bahagia. Senyum sang ibu kerap dipaksakan di depan para penumpang kereta, demi sekeping receh yang diharapnya.</p>
<p>***</p>
<p>Anak-anak itu, memang belum akan mengerti sebab apa ibunya mengejar bis kota , mengakrabi malam di pasar, dan menyusuri gerbong demi gerbong kereta api. Yang mereka tahu hanyalah, mereka tak pernah jauh dari ibunya. Yang mereka rasakan adalah kecupan di kening dan wajah setiap kali sang ibu berkesah tak mendapatkan rezeki.</p>
<p>Bahasa kalbu ibu berkata,</p>
<p>“sebab cinta, ibu melakukan semua ini nak”.</p>
<p>Sungguh, jika tak karena cinta, langkahnya sudah terhenti. Cintalah yang mengajarkannya untuk menghapus kata “lelah” dan “putus asa” dalam kamus hidup seorang ibu.</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/sebab-cinta.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Point Of View</title>
		<link>http://pengharapan.com/point-of-view.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/point-of-view.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Oct 2010 01:18:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[pemuda]]></category>
		<category><![CDATA[penting]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=578</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Semarang sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.” Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?” tanya si pemuda. “Oh… saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore nengokin [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa tahun yang silam, seorang pemuda terpelajar dari Semarang sedang berpergian naik pesawat ke Jakarta. Disampingnya duduk seorang ibu yang sudah berumur. Si pemuda menyapa, dan tak lama mereka terlarut dalam obrolan ringan.” Ibu, ada acara apa pergi ke Jakarta ?” tanya si pemuda. “Oh… saya mau ke Jakarta terus “connecting flight” ke Singapore nengokin anak saya yang ke dua”,jawab ibu itu.” Wouw… hebat sekali putra ibu” pemuda itu menyahut dan terdiam sejenak.</p>
<p>Pemuda itu merenung. Dengan keberanian yang didasari rasa ingin tahu pemuda itu melanjutkan pertanyaannya.” Kalau saya tidak salah ,anak yang di Singapore tadi , putra yang kedua ya bu??Bagaimana dengan kakak adik-adik nya??”&#8221; Oh ya tentu ” si Ibu bercerita :”Anak saya yang ketiga seorang dokter di Malang, yang keempat kerja di perkebunan di Lampung, yang kelima menjadi arsitek di Jakarta, yang keenam menjadi kepala cabang bank di Purwokerto, yang ke tujuh menjadi Dosen di Semarang.”&#8221;<br />
<span id="more-578"></span><br />
Pemuda tadi diam, hebat ibu ini, bisa mendidik anak-anaknya dengan sangat baik, dari anak kedua sampai ke tujuh. ” Terus bagaimana dengan anak pertama ibu ??”Sambil menghela napas panjang, ibu itu menjawab, ” anak saya yang pertama menjadi petani di Godean Jogja nak”. Dia menggarap sawahnya sendiri yang tidak terlalu lebar.”</p>
<p>Pemuda itu segera menyahut, “Maaf ya Bu….. kalau ibu agak kecewa ya dengan anak pertama ibu, adik-adiknya berpendidikan tinggi dan sukses di pekerjaannya, sedang dia menjadi petani ??? “</p>
<p>Apakah kamu mau tahu jawabannya??????…</p>
<p>&#8230;.Dengan tersenyum ibu itu menjawab,<br />
” Ooo …tidak tidak begitu nak….Justru saya sangat bangga dengan anak pertama saya, karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya dari hasil dia bertani”</p>
<p>Pelajaran Hari Ini : Semua orang di dunia ini penting. Buka matamu, pikiranmu, hatimu. Intinya adalah kita tidak bisa membuat ringkasan sebelum kita membaca buku itu sampai selesai. Orang bijak berbicara &#8220;Hal yang paling penting adalah bukanlah SIAPAKAH KAMU tetapi APA YANG SUDAH KAMU LAKUKAN&#8221;</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/point-of-view.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Seorang Ibu</title>
		<link>http://pengharapan.com/cinta-seorang-ibu-2.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/cinta-seorang-ibu-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Sep 2010 03:01:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[ketulusan]]></category>
		<category><![CDATA[pengorbanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=501</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah di suatu desa ada seorang ibu yang sudah tua hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang Ibu sering sekali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya . Adapun anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk, yaitu suka mencuri, berjudi,mengadu ayam, dan banyak lagi yang membuat si ibu sering menangis meratapi nasibnya yang [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alkisah di suatu desa ada seorang ibu yang sudah tua hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang Ibu sering sekali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya . Adapun anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk, yaitu suka mencuri, berjudi,mengadu ayam, dan banyak lagi yang membuat si ibu sering menangis meratapi nasibnya yang malang. Namun begitupun ibu tua itu selalu berdoa kepada Tuhan, &#8220;Tuhan tolong Kau sadarkan anakku yang ku sayangi, supaya ia tidak berbuat dosa lebih banyak lagi. Aku sudah tua dan aku ingin menyaksikan dia bertobat, sebelum Aku mati&#8221;.<br />
<span id="more-501"></span>Namun semakin lama si Anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya. Sudah sangat sering ia keluar masuk bui karena kejahatan yang dilakukannya.</p>
<p>Suatu hari ia kembali mencuri di sebuah rumah penduduk desa. Namun malang nasibnya akhirnya ia tertangkap oleh penduduk yang kebetulan lewat. Kemudian dia dibawa ke hadapan Raja untuk diadili sesuai dengan kebiasaan di Kerajaan tersebut. Setelah ditimbang berdasarkan sudah seringnya ia mencuri, maka tanpa ampun lagi si Anak tersebut dijatuhi hukuman Pancung.</p>
<p>Pengumuman hukuman itu disebarkan ke seluruh desa. Hukuman pancung akan dilakukan keesokan harinya di depan rakyat desa dan kerajaan tepat pada saat lonceng Gereja berdentang menandakan pukul enam pagi. Berita hukuman itu sampai juga ke telinga si Ibu. Dia menangis, meratapi Anak yang sangat dikasihinya. Sembari berlutut dia berdoa kepada Tuhan.</p>
<p>&#8220;Tuhan, Ampunilah Anak Hamba.Biarlah HambaMu yang sudah tua renta ini yang menanggung dosa dan kesalahannya.&#8221; Dengan tertatih-tatih dia mendatangi Raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan, tapi keputusan sudah bulat, si Anak tetap harus menjalani hukuman. Dengan hati hancur si Ibu kembali ke rumah . Tidak berhenti dia berdoa supaya anaknya diampuni.Karena kelelahan dia tertidur dan bermimpi bertemu dengan Tuhan.</p>
<p>Keesokan harinya, di tempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong-bondong untuk menyaksikan hukuman pancung tersebut. Sang Algojo sudah siap dengan Pancungnya, dan si Anak tadi sudah pasrah menantikan saat ajal menjemputnya. Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, tanpa terasa dia menangis menyesali perbuatannya.</p>
<p>Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai waktu yang ditentukan , lonceng Gereja belum juga berdentang. Suasana mulai berisik. Sudah lima menit lewat dari waktunya. Akhirnya didatangi petugas yang membunyikan lonceng di Gereja. Dia Juga mengaku heran, karena sudah sedari tadi dia menarik lonceng tapi, suara dentangnya tidak ada. Ketika mereka sedang terheran-heran, tiba-tiba dari tali yang di pegangnya mengalir darah, darah tersebut datangnya dari atas, berasal dari tempat di mana Lonceng diikat.</p>
<p>Dengan jantung berdebar-debar seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah itu. Tahukah Anda apa yang terjadi?</p>
<p>Ternyata di dalam lonceng besar itu ditemui tubuh si Ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk Bandul di dalam lonceng yang mengakibatkan lonceng tidak berbunyi, sebagai gantinya kepalanya yang terbentur ke dinding lonceng . Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata . Sementara si Anak meraung-raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan.Dia menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya. Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke Atas dan mengikat dirinya di lonceng tersebut serta memeluk besi di dalam lonceng,untuk menghindari hukuman pancung anaknya.</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/cinta-seorang-ibu-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Izinkan Aku Menciummu Bu</title>
		<link>http://pengharapan.com/izinkan-aku-menciummu-bu.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/izinkan-aku-menciummu-bu.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Aug 2010 03:10:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[ciuman]]></category>
		<category><![CDATA[didikan]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[manfaat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=438</guid>
		<description><![CDATA[Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku &#8216;dipaksa&#8217; membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku &#8216;dipaksa&#8217; membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.<br />
Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu.<br />
<span id="more-438"></span>Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu.Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.</p>
<p>Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya.Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya. Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.</p>
<p>Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.</p>
<p>Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi do&#8217;a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.</p>
<p>Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.</p>
<p>Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguk nya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang baik dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/izinkan-aku-menciummu-bu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tangan Ibuku</title>
		<link>http://pengharapan.com/tangan-ibuku.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/tangan-ibuku.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Aug 2010 03:56:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[pengorbanan]]></category>
		<category><![CDATA[tangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=432</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa tahun yang lalu, ketika ibu saya berkunjung, ia mengajak saya untuk berbelanja bersamanya karena dia membutuhkan sebuah gaun yang baru. Saya sebenarnya tidak suka pergi berbelanja bersama dengan orang lain, dan saya bukanlah orang yang sabar, tetapi walaupun demikian kami berangkat juga ke pusat perbelanjaan tersebut. Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun wanita, [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa tahun yang lalu, ketika ibu saya berkunjung, ia mengajak saya untuk berbelanja bersamanya karena dia membutuhkan sebuah gaun yang baru. Saya sebenarnya tidak suka pergi berbelanja bersama dengan orang lain, dan saya bukanlah orang yang sabar, tetapi walaupun demikian kami berangkat juga ke pusat perbelanjaan tersebut. Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan gaun wanita, dan ibu saya mencoba gaun demi gaun dan mengembalikan semuanya.</p>
<p>Seiring hari yang berlalu, saya mulai lelah dan ibu saya mulai frustasi. Akhirnya,pada toko terakhir yang kami kunjungi, ibu saya mencoba satu stel gaun biru yang cantik terdiri dari tiga helai. Pada blusnya terdapat sejenis tali di bagian tepi lehernya, dan karena ketidak sabaran saya, maka untuk kali ini saya ikut masuk dan berdiri bersama ibu saya dalam ruang ganti pakaian, saya melihat bagaimana ia mencoba pakaian tersebut,dan dengan susah mencoba untuk mengikat talinya. Ternyata tangan-tangannya sudah mulai dilumpuhkan oleh penyakit radang sendi dan sebab itu dia tidak dapat melakukannya. Seketika ketidak sabaran saya digantikan oleh suatu rasa kasihan yang dalam kepadanya. Saya berbalik pergi dan mencoba menyembunyikan air mata saya yang mengalir keluar tanpa saya sadari. Setelah saya mendapatkan ketenangan lagi, saya kembali masuk ke kamar ganti untuk mengikatkan tali gaun tersebut. Pakaian ini begitu indah, dan dia membelinya.<br />
<span id="more-432"></span>Perjalanan belanja kami telah berakhir, tetapi kejadian tersebut terukir dan tidak dapat terlupakan dari ingatan saya. Sepanjang sisa hari itu, pikiran saya tetap saja kembali pada saat berada di dalam ruang ganti pakaian tersebut dan terbayang tangan ibu saya yang sedang berusaha mengikat tali blusnya. Kedua tangan yang penuh dengan kasih, yang pernah menyuapi saya,memandikan saya, memakaikan baju, membelai dan memeluk saya, dan terlebih dari semuanya, berdoa untuk saya, sekarang tangan itu telah menyentuh hati saya dengan cara yang paling membekas dalam hati saya.</p>
<p>Kemudian pada sore harinya, saya pergi ke kamar ibu saya, mengambil tangannya, menciumnya dan, yang membuatnya terkejut, memberitahukannya bahwa bagi saya kedua tangan tersebut adalah tangan yang paling indah di dunia ini. Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan telah membuat saya dapat melihat dengan mata saya yang baru betapa bernilai dan berharganya kasih sayang yang penuh pengorbanan dari seorang ibu. Saya hanya dapat berdoa bahwa suatu hari kelak tangan saya dan hati saya akan memiliki keindahannya tersendiri.</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/tangan-ibuku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Anak Lelaki 5 Tahun</title>
		<link>http://pengharapan.com/kisah-anak-lelaki-5-tahun.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/kisah-anak-lelaki-5-tahun.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Aug 2010 03:20:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[adik]]></category>
		<category><![CDATA[anak lelaki]]></category>
		<category><![CDATA[boneka]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[waktu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=386</guid>
		<description><![CDATA[Di hari terakhir sebelum hari lebaran, aku bergegas pergi ke Supermarket untuk membeli beberapa hadiah lagi yang belum sempat terbeli pada waktu sebelumnya.
Ketika saya melihat kekerumunan orang disana, saya mulai mengeluh pada diri sendiri.
&#8220;Kayaknya saya akan selamanya berada disini nih dan padahal saya masih harus pergi kebeberapa tempat lagi&#8230;&#8221;
Lebaran, benar-benar makin tahun makin menyebalkan. Padahal [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di hari terakhir sebelum hari lebaran, aku bergegas pergi ke Supermarket untuk membeli beberapa hadiah lagi yang belum sempat terbeli pada waktu sebelumnya.</p>
<p>Ketika saya melihat kekerumunan orang disana, saya mulai mengeluh pada diri sendiri.</p>
<p>&#8220;Kayaknya saya akan selamanya berada disini nih dan padahal saya masih harus pergi kebeberapa tempat lagi&#8230;&#8221;</p>
<p>Lebaran, benar-benar makin tahun makin menyebalkan. Padahal aku berharap bisa santai-santai, lalu tidur dan bangun sesudahnya&#8230;</p>
<p>Namun demikian, aku langkahkan juga kakiku menuju ke bagian mainan anak, dan disana aku mulai melihat-lihat harga, dan bertanya-tanya betul nggak sih anak-anak bermain dengan mainan-mainan semahal ini.</p>
<p>Sembari memcari-cari mainan dibagian itu, aku melihat seorang anak laki kecil sekitar 5 tahunan, merapatkan sebuah boneka kedadanya sendiri.</p>
<p>Dia terus menyentuh rambut boneka itu dengan.. tatapan yang sedih.</p>
<p>Aku jadi bertanya-tanya untuk siapakah boneka itu.</p>
<p>Kemudian si anak lelaki kecil itu memandang kepada seorang wanita tua yang berdiri disebelahnya: &#8220;Nek, nenek yakin kalau aku nggak punya cukup uang?&#8221;<br />
<span id="more-386"></span>Wanita tua itu menjawab: &#8220;Kamu kan sudah tahu bahwa kamu nggak punya cukup uang untuk membeli boneka ini, sayang.&#8221;</p>
<p>Kemudian si nenek memintanya untuk diam disitu selama 5 menit sementara dia pergi berkeliling. Si nenek meninggalkannya dengan bergegas.</p>
<p>Si anak lelaki kecil tetap memegang boneka itu dalam tangannya.</p>
<p>Akhirnya, aku mulai berjalan menuju kearahnya dan aku menanyakannya kepada siapa boneka itu akan diberikan?</p>
<p>&#8220;Boneka inilah yang sangat diidamkan oleh adik perempuan saya dan dia sangat menginginkannya pada lebaran sekarang ini. Dia sangat yakin bahwa saya akan membawakan boneka ini untuknya.&#8221;</p>
<p>Aku mencoba meyakinkan bahwa kamu akan membawakan boneka itu untuk adiknya, dan kamu jangan mengkawatirkannya.</p>
<p>Tapi kemudian dia menjawabku dengan sangat sedih.</p>
<p>&#8220;Tidak.. Aku tidak mungkin membawakan boneka ini ketempat dia berada sekarang. Saya harus memberikannya kepada Ibu saya sehingga ibu dapat memberikannya ketika Ibu pergi ketempatnya.&#8221;</p>
<p>Matanya terlihat sangat sedih.. ketika dia mengatakan kalimat itu. &#8220;Adik saya telah pergi menghadap Tuhan. Ayah berkata bahwa Ibu juga akan pergi menemui Tuhan segera, jadi saya pikir tentunya Ibu bisa membawakan boneka ini untuk diberikan kepada adik saya.&#8221;</p>
<p>Jantungku hampir putus rasanya, mendengar penjelasan anak itu&#8230;</p>
<p>Betapa mata hati saya terbuka mendengar perkataan anak itu, bahwa masih ada yang namanya cinta di dunia ini yang sangat mulia dari hati seorang anak berusia 5 tahun. Karena selama ini saya merasa semua yang ada di dunia ini adalah semu termasuk rasa cinta yang saya miliki.</p>
<p>Anak kecil itu memandang saya dan mengatakan: &#8220;Saya sudah pesankan ke Ayah untuk mengatakan ke Ibu jangan pergi dulu. Saya bilang tolong tunggu saya sampai saya pulang dari supermarket.&#8221;</p>
<p>Selanjutnya anak itu memperlihat selembar foto dirinya yang lucu dimana dia sedang tertawa. Dia kemudian berkata kepadaku: &#8220;Saya juga pengin Ibu membawa serta foto ini bersamanya, supaya Ibu tidak lupa denganku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku sangat mencintai Ibuku.. padahal saya berharap Ibu tidak seharusnya meninggalkanku tapi.. Ayah berkata bahwa Ibu harus pergi untuk menemani adik perempuan saya.&#8221;</p>
<p>Kemudian.. ia memandangi boneka itu lagi dengan sedih dan mengusap rambutnya perlahan.</p>
<p>Aku cepat mengambil dompetku dan mengeluarkan beberapa lembar uang dan berkata kepada anak itu: &#8220;Bolehkah aku hitung uangmu, mungkin kamu punya cukup uang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik&#8230;&#8221; katanya lirih. &#8220;Saya berharap ada cukup uangnya.&#8221;</p>
<p>Aku sisipkan uangku kedalam uangnya tanpa sepengetahuannya dan kami mulai menghitungnya. Ternyata uangnya cukup untuk boneka itu bahkan lebih.</p>
<p>Anak laki itu berkata: &#8220;Terima kasih Tuhan atas pemberian uang ini.&#8221;</p>
<p>Kemudian dia memandangku dan menambahkan: &#8220;Kemarin, sebelum tidur saya memohon kepada Tuhan agar saya memiliki cukup uang untuk membelikan boneka ini, agar supaya Ibu dapat membawakannya untuk adikku. Ternyata Tuhan mendengarkanku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Saya juga berharap memiliki cukup uang agar dapat membeli sekuntum mawar putih untuk Ibuku, tapi saya nggak berani meminta terlalu banyak kepada Tuhan. Tapi ternyata Tuhan memberiku uang cukup untuk membeli boneka ini dan juga mawar putih.&#8221;</p>
<p>Aku selesaikan belanjaan saya dengan sebuah perasaan yang amat sangat berbeda dengan ketika saya memulainya. Beberapa menit kemudian, wanita tua itu telah kembali dan aku pergi dengan trolley-ku.</p>
<p>Aku nggak bisa menghilangkan bayangan anak laki-laki itu dari ingatanku.</p>
<p>Kemudian, aku ingat kepada sebuah artikel dari sebuah koran lokal 2 hari yang lalu, yang mengatakan bahwa seorang mabuk yang mengemudikan sebuah truk menabrak sebuah mobil yang sedang dikendari oleh seorang wanita muda dengan anak perempuannya yang masih kecil.</p>
<p>Si anak perempuan meninggal seketika, dan ibunya masih hidup tetapi dalam keadaan kritis. Keluarganya harus mengambil keputusan apakah harus mencabut kabel dari mesin yang membantunya bertahan hidup, sebab wanita muda itu sudah tidak mungkin lagi lepas dari keadaan koma.</p>
<p>Apakah mereka keluarga dari anak laki-laki kecil itu?</p>
<p>Dua hari setelah pertemuanku dengan dengan anak laki-laki itu, aku baca disurat kabar bahwa wanita muda itu telah meninggal dunia.</p>
<p>Aku segera bergegas dan pergi membeli seikat mawar putih dan pergi kesebuah pemakaman dimana jenazah di perlihatkan kepada para pelayat dan didoakan sebelum pemakaman.</p>
<p>Ternyata wanita muda itu ada disana, terbaring didalam petinya, memegang setangkai mawar putih yang indah dengan selembar foto anak lelaki itu dan boneka diletakkan diatas dadanya.</p>
<p>Saya meninggalkan tempat itu.. sambil menangis, dan merasakan hidup saya telah berubah untuk selama-lamanya.</p>
<p>Cinta.. yang dimiliki oleh bocah lelaki itu kepada Ibu dan adiknya tercinta, tetap melekat hingga hari itu, sungguh tidak terbayangkan.</p>
<p>Hanya dalam bilangan detik, seorang yang sedang mabuk telah mengambil semuanya itu darinya.</p>
<p>Moral dari cerita ini adalah:</p>
<p>Sediakan waktu untuk menghargai apa yang kamu miliki saat ini.<br />
Cinta yang kita miliki dari dasar hati yang paling dalam adalah sesuatu yang sangat mahal harganya, tidak dapat dinilai dengan materi sekalipun.<br />
Janganlah kita menyia-nyiakan waktu kita di dunia ini untuk selalu mencintai dan mengasihi orang-orang yang kita cintai agar kita dapat menikmati dan merasakan betapa sangat indah dan berarti hidup kita ini apabila kita hidup selalu dalam kasih sayang dan cinta, karena tanpa itu semua apalah arti hidup kita ini&#8230;??? ( Materi bukanlah tolak ukur kebahagiaan seseorang dalam menjalani kehidupan).<br />
<strong>TEMAN-TEMAN ADALAH SEPERTI MALAIKAT, YANG AKAN MEMBANTU KITA TERBANG KETIKA SAYAP KITA TELAH LUPA BAGAIMANA CARANYA TERBANG </strong></p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/kisah-anak-lelaki-5-tahun.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ceritakanlah Pada Seluruh Dunia</title>
		<link>http://pengharapan.com/ceritakanlah-pada-seluruh-dunia.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/ceritakanlah-pada-seluruh-dunia.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Jul 2010 04:52:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[adik]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[pastor]]></category>
		<category><![CDATA[tommy]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=355</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar 14 tahun yang lalu, aku berdiri menyaksikan para mahasiswaku berbaris memasuki kelas untuk mengikuti kuliah pertama tentang teologi iman.
Pada hari itulah untuk pertama kalinya aku melihat Tommy. Dia sedang menyisir rambutnya yang terurai sampai sekitar 20 cm di bawah bahunya. Penilaian singkatku: dia seorang yang aneh, sangat aneh.
Tommy ternyata menjadi tantanganku yang terberat. Dia [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">Sekitar 14 tahun yang lalu, aku berdiri menyaksikan para mahasiswaku berbaris memasuki kelas untuk mengikuti kuliah pertama tentang teologi iman.</div>
<div>Pada hari itulah untuk pertama kalinya aku melihat Tommy. Dia sedang menyisir rambutnya yang terurai sampai sekitar 20 cm di bawah bahunya. Penilaian singkatku: dia seorang yang aneh, sangat aneh.</div>
<div id="_mcePaste">Tommy ternyata menjadi tantanganku yang terberat. Dia terus-menerus mengajukan keberatan. Dia juga melecehkan tentang kemungkinan Tuhan mencintai secara tanpa pamrih.</div>
<div>Ketika dia muncul untuk mengikuti ujian di akhir kuliah, dia bertanya dengan agak sinis, &#8220;Menurut Pastor apakah saya akan pernah menemukan Tuhan?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Tidak,&#8221; jawabku dengan sungguh-sungguh.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Oh,&#8221; sahutnya. &#8220;Rasanya Anda memang tidak pernah mengajarkan bagaimana menemukan Tuhan.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Kubiarkan dia berjalan sampai lima langkah lagi dari pintu, lalu kupanggil.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Saya rasa kamu tak akan pernah menemukan-Nya. Tapi, saya yakin Dialah yang akan menemukanmu.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Tommy mengangkat bahu, lalu pergi. Aku merasa agak kecewa karena dia tidak bisa menangkap maksud kata-kataku. Kemudian kudengar Tommy sudah lulus, dan saya bersyukur.</div>
<div>Namun kemudian tiba berita yang menyedihkan: Tommy mengidap kanker yang sudah parah. Sebelum saya sempat mengunjunginya, dia yang lebih dulu menemui saya. Saat dia melangkah masuk ke kantor saya, tubuhnya sudah menyusut, dan rambutnya yang panjang sudah rontok karena pengobatan dengan kemoterapi.<span id="more-355"></span></div>
<div>Namun, matanya tetap bercahaya dan suaranya, untuk pertama kalinya, terdengar tegas.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Tommy! Saya sering memikirkanmu. Katanya kamu sakit keras?&#8221; tanyaku langsung.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Oh ya, saya memang sakit keras. Saya menderita kanker. Waktu saya hanya tinggal beberapa minggu lagi.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Kamu mau membicarakan itu?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Boleh saja. Apa yang ingin Pastor ketahui?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Bagaimana rasanya baru berumur 24 tahun, tapi kematian sudah menjelang?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Jawabnya, &#8220;Ini lebih baik ketimbang jadi lelaki berumur 50 tahun namun mengira bahwa minum minuman keras, bermain perempuan, dan memburu harta adalah hal-hal yang &#8216;utama&#8217; dalam hidup ini.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Lalu dia mengatakan mengapa dia menemuiku.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Sesuatu yang Pastor pernah katakan pada saya pada hari terakhir kuliah Pastor. Saya bertanya waktu itu apakah saya akan pernah menemukan Tuhan, dan Pastor mengatakan tidak. Jawaban yang sungguh mengejutkan saya. Lalu, Pastor mengatakan bahwa Tuhanlah yang akan menemukan saya. Saya sering memikirkan kata-kata Bapak itu, meskipun pencarian Tuhan yang saya lakukan pada masa itu tidaklah sungguh-sungguh.&#8221;</div>
<div>&#8220;Tetapi, ketika dokter mengeluarkan segumpal daging dari pangkal paha saya,&#8221; Tommy melanjutkan &#8220;dan mengatakan bahwa gumpalan itu ganas, saya pun mulai serius melacak Tuhan.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Dan ketika tumor ganas itu menyebar sampai ke organ-organ vital, saya benar-benar menggedor-gedor pintu surga. Tapi tak terjadi apa pun. Lalu, saya terbangun di suatu hari, dan saya tidak lagi berusaha keras mencari-cari pesan itu. Saya menghentikan segala usaha itu. Saya memutuskan untuk tidak peduli sama sekali pada Tuhan, kehidupan setelah kematian, atau hal-hal sejenis itu.&#8221;</div>
<div>&#8220;Saya memutuskan untuk melewatkan waktu yang tersisa melakukan hal-hal penting,&#8221; lanjut Tommy.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Saya teringat tentang Pastor dan kata-kata Pastor yang lain: Kesedihan yang paling utama adalah menjalani hidup tanpa mencintai. Tapi hampir sama sedihnya, meninggalkan dunia ini tanpa mengatakan pada orang yang saya cintai bahwa kau mencintai mereka. Jadi saya memulai dengan orang yang tersulit, ayah saya.&#8221;</div>
<div>Ayah Tommy waktu itu sedang membaca koran saat anaknya menghampirinya.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Pa, aku ingin bicara.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Bicara saja.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Pa, ini penting sekali.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Korannya turun perlahan 8 cm. &#8220;Ada apa?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Pa, aku cinta Papa. Aku hanya ingin Papa tahu itu.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Tommy tersenyum padaku saat mengenang saat itu.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Korannya jatuh ke lantai.</div>
<div id="_mcePaste">Lalu ayah saya melakukan dua hal yang seingatku belum pernah dilakukannya.</div>
<div id="_mcePaste">Ia menangis dan memelukku. Dan kami mengobrol semalaman, meskipun dia harus bekerja besok paginya.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Dengan ibu saya dan adik saya lebih mudah,&#8221; sambung Tommy.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Mereka menangis bersama saya, dan kami berpelukan, dan berbagi hal yang kami rahasiakan bertahun-tahun. Saya hanya menyesalkan mengapa saya harus menunggu sekian lama. Saya berada dalam bayang-bayang kematian, dan saya baru memulai terbuka pada semua orang yang sebenarnya dekat dengan saya.</div>
<div>&#8220;Lalu suatu hari saya berbalik dan Tuhan ada disitu. Ia tidak datang saat saya memohon pada-Nya. Rupanya Dia bertindak menurut kehendak-Nya dan pada waktu-Nya. Yang penting adalah Pastor benar. Dia menemukan saya bahkan setelah saya berhenti mencari-Nya.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Tommy,&#8221; aku tersedak, &#8220;Menurut saya, kata-katamu lebih universal dari pada yang kamu sadari. Kamu menunjukkan bahwa cara terpasti untuk menemukan Tuhan adalah bukan dengan membuatnya menjadi milik pribadi atau penghiburan instan saat membutuhkan, melainkan dengan membuka diri pada cinta kasih.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Tommy,&#8221; saya menambahkan, &#8220;boleh saya minta tolong? Maukah kamu datang ke kuliah teologi iman dan mengatakan kepada para mahasiswa saya apa yang baru kamu ceritakan?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Meskipun kami menjadwalkannya, ia tak berhasil hadir hari itu. Tentu saja, karena ia harus berpulang. Ia melangkah jauh dari iman ke visi. Ia menemukan kehidupan yang jauh lebih indah daripada yang pernah dilihat mata kemanusiaan atau yang pernah dibayangkan.</div>
<div id="_mcePaste">Sebelum ia meninggal, kami mengobrol terakhir kali.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Saya tak akan mampu hadir di kuliah Bapak,&#8221; katanya.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Saya tahu, Tommy.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Maukah Bapak menceritakannya untuk saya? Maukah Bapak menceritakannya pada dunia untuk saya?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Ya, Tommy. Saya akan melakukannya.&#8221;</div>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/ceritakanlah-pada-seluruh-dunia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mana Ciuman Untukku</title>
		<link>http://pengharapan.com/mana-ciuman-untukku.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/mana-ciuman-untukku.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 04:12:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[cindy]]></category>
		<category><![CDATA[ciuman]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kasih sayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=296</guid>
		<description><![CDATA[Dulu ada seorang gadis kecil bernama Cindy. Ayah Cindy bekerja enam hari dalam seminggu, dan sering kali sudah lelah saat pulang dari kantor. Ibu Cindy bekerja sama kerasnya mengurus keluarga mereka memasak, mencuci dan mengerjakan banyak tugas rumah tangga lainnya. Mereka keluarga baik-baik dan hidup mereka nyaman. Hanya ada satu kekurangan, tapi Cindy tidak menyadarinya.

Suatu [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">Dulu ada seorang gadis kecil bernama Cindy. Ayah Cindy bekerja enam hari dalam seminggu, dan sering kali sudah lelah saat pulang dari kantor. Ibu Cindy bekerja sama kerasnya mengurus keluarga mereka memasak, mencuci dan mengerjakan banyak tugas rumah tangga lainnya. Mereka keluarga baik-baik dan hidup mereka nyaman. Hanya ada satu kekurangan, tapi Cindy tidak menyadarinya.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Suatu hari, ketika berusia sembilan tahun, ia menginap di rumah temannya, Debbie, untuk pertama kalinya. Ketika waktu tidur tiba, ibu Debbie mengantar dua anak itu ketempat tidur dam memberikan ciuman selamat malam pada mereka berdua.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Ibu sayang padamu,&#8221; kata ibu Debbie.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Aku juga sayang Ibu,&#8221; gumam Debbie.</div>
<div id="_mcePaste">Cindy sangat heran, hingga tak bisa tidur. Tak pernah ada yang memberikan ciuman apappun padanya..</div>
<div id="_mcePaste">Juga tak ada yang pernah mengatakan menyayanginya. Sepanjang malam ia berbaring sambil berpikir, Mestinya memang seperti itu ..</div>
<div id="_mcePaste"><span id="more-296"></span></div>
<div>Ketika ia pulang, orangtuanya tampak senang melihatnya.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Kau senang di rumah Debbie?&#8221; tanya ibunya.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Rumah ini sepi sekali tanpa kau,&#8221; kata ayahnya.</div>
<div id="_mcePaste">Cindy tidak menjawab. Ia lari ke kamarnya. Ia benci pada orangtunya.</div>
<div id="_mcePaste">Kenapa mereka tak pernah menciumnya?</div>
<div id="_mcePaste">Kenapa mereka tak pernah memeluknya atau mengatakan menyayanginya ?</div>
<div id="_mcePaste">Apa mereka tidak menyayanginya?</div>
<div id="_mcePaste">Ingin rasanya ia lari dari rumah, dan tinggal bersama ibu Debbie.</div>
<div id="_mcePaste">Mungkin ada kekeliruan, dan orangtuanya ini bukanlah orang tua kandungnya.</div>
<div id="_mcePaste">Mungkin ibunya yang asli adalah ibu Debbie.</div>
<div id="_mcePaste">Malam itu, sebelum tidur, ia mendatangi orangtunya.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Selamat malam,&#8221;katanya.</div>
<div id="_mcePaste">Ayahnya,yang sedang membaca koran, menoleh.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Selamat malam,&#8221; sahut ayahnya.</div>
<div id="_mcePaste">Ibu Cindy meletakkan jahitannya dan tersenyum.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Selamat malam, Cindy.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Tak ada yang bergerak. Cindy tidak tahan lagi.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Kenapa aku tidak pernah diberi ciuman?&#8221; tanyanya.</div>
<div id="_mcePaste">Ibunya tampak bingung.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Yah,&#8221; katanya terbata-bata,</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;sebab&#8230; Ibu rasanya karena tidak ada yang pernah mencium Ibu waktu waktu Ibu masih kecil. Itu saja.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Cindy menangis sampai tertidur. Selama berhari-hari ia merasa marah. Akhirnya ia memutuskan untuk kabur. ia akan pergi kerumah Debbie dan tinggal bersama mereka. Ia tidak akan pernah kembali kepada orangtuanya yang tidak pernah menyayanginya. Ia mengemasi ranselnya dan pergi diam-diam. Tapi begitu tiba di rumah Debbie, ia tidak berani masuk. Ia merasa takkan ada yang mempercayainya. Ia takkan diizinkan tinggal bersama orangtua Debbie.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Maka ia membatalkan rencananya dan pergi. Segalanya terasa kosong dan tidak menyenangkan.</div>
<div id="_mcePaste">Ia takkan pernah mempunyai keluarga seperti keluarga Debbie. Ia terjebak selamanya bersama orangtua yang paling buruk dan paling tak punya rasa sayang didunia ini. Cindy tidak langsung pulang, tapi pergi ke taman dan duduk di bangku.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Ia duduk lama, sambil berpikir,hingga hari gelap. Sekonyong-konyong ia mendapat gagasan. Rencananya pasti berhasil . Ia kan membuatnya berhasil. Ketika ia masuk kerumahnya, ayahnya sedang menelpon. Sang ayah langsung menutup telepon. ibunya sedang duduk dengan ekspresi cemas.</div>
<div id="_mcePaste">Begitu Cindy masuk, ibunya berseru,&#8221; Dari mana saja kau? Kami cemas sekali!&#8221;.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Cindy tidak menjawab, melainkan menghampiri ibunya dan memberikan ciuman di pipi, sambil berkata,&#8221;Aku sayang padamu,Bu.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Ibunya sangat terperanjat, hingga tak bisa bicara.</div>
<div id="_mcePaste">Lalu Cindy menghampiri ayahnya dan memeluknya sambil berkata, &#8220;Selamat malam, Yah. Aku sayang padamu,&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Lalu ia pergi tidur, meninggalkan kedua orangtunya yang terperangah di dapur.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Keesokan paginya, ketika turun untuk sarapan, ia memberikan ciuman lagi pada ayah dan ibunya. Di halte bus, ia berjingkat dan mengecup ibunya.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Hai, Bu,&#8221;katanya.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Aku sayang padamu.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Itulah yang dilakukan Cindy setiap hari selama setiap minggu dan setiap bulan. Kadang-kadang orangtuanya menarik diri darinya dengan kaku dan canggung. Kadang-kadang mereka hanya tertawa. Tapi mereka tak pernah membalas ciumannya. Namun Cindy tidak putus asa.</div>
<div id="_mcePaste">Ia telah membuat rencana, dan ia menjalaninya dengan konsisten. Lalu suatu malam ia lupa mencium ibunya sebelum tidur. Tak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka dan ibunya masuk.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Mana ciuman untukku ?&#8221; tanya ibunya, pura-pura marah.</div>
<div id="_mcePaste">Cindy duduk tegak.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Oh, aku lupa,&#8221; sahutnya. Lalu ia mencium ibunya.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Aku sayang padamu, Bu.&#8221; Kemudian ia berbaring lagi.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Selamat malam,&#8221;katanya, lalu memejamkan mata.</div>
<div id="_mcePaste">Tapi ibunya tidak segera keluar.</div>
<div id="_mcePaste">Akhirnya ibunya berkata. &#8220;Aku juga sayang padamu.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Setelah itu ibunya membungkuk dan mengecup pipi Cindy.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Dan jangan pernah lupa menciumku lagi,&#8221; katanya dengan nada dibuat tegas. Cindy tertawa.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Baiklah,&#8221;katanya.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Dan ia memang tak pernah lupa lagi. Bertahun-tahun kemudian, Cindy mempunyai anak sendiri, dan ia selalu memberikan ciuman pada bayi itu, sampai katanya pipi mungil bayinya menjadi merah.</div>
<div id="_mcePaste">Dan setiap kali ia pulang kerumah, yang pertama dikatakan ibunya adalah, &#8220;Mana ciuman untukku?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Dan kalau sudah waktunya Cindy pulang, ibunya akan berkata, &#8220;Aku sayang padamu.</div>
<div id="_mcePaste">Kau tahu itu, bukan?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Ya,Bu,&#8221; kata Cindy.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Sejak dulu aku sudah tahu.&#8221;</div>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/mana-ciuman-untukku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

