<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pengharapan.com &#187; kasih sayang</title>
	<atom:link href="http://pengharapan.com/tag/kasih-sayang/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pengharapan.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 20 May 2012 02:21:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>I&#8217;m a Big Girl Dad</title>
		<link>http://pengharapan.com/im-a-big-girl-dad.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/im-a-big-girl-dad.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Aug 2010 04:02:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[ciuman]]></category>
		<category><![CDATA[kasih sayang]]></category>
		<category><![CDATA[penyesalan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=435</guid>
		<description><![CDATA[Saya adalah anak bungsu. Ayah saya adalah seorang pekerja tambang. Rambutnya sudah putih semua, tapi tubuhnya masih terlihat kuat &#38; gagah. Hatinya lembut &#38; sayang keluarga. Hampir tiap pagi jika tidak sedang tugas, dia selalu mengantar saya sekolah. Kami selalu berangkat dengan motor bututnya, motor kebanggaan yang selalu dicucinya tiap hari. Motor itu begitu bututnya, [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya adalah anak bungsu. Ayah saya adalah seorang pekerja tambang. Rambutnya sudah putih semua, tapi tubuhnya masih terlihat kuat &amp; gagah. Hatinya lembut &amp; sayang keluarga. Hampir tiap pagi jika tidak sedang tugas, dia selalu mengantar saya sekolah. Kami selalu berangkat dengan motor bututnya, motor kebanggaan yang selalu dicucinya tiap hari. Motor itu begitu bututnya, sampai kadang bunyi kelontangan saat berjalan. Karena itu kadang saya malu &amp; pengen agar tubuh saya menciut &amp; menghilang saja kala motor ayah saya masuk halaman sekolah.</p>
<p>Jarak rumah ke ­sekolah sekitar satu jam. Dia sering memakaikan jaket tebal agar saya tidak kedinginan diterpa angin pagi. Dan setibanya di-depan pagar sekolah dia selalu menurunkan saya &amp; menciumi pipi saya berkali2. Namun setelah beranjak remaja, saya mulai risih kala ayah mencium pipi saya. Apalagi di depan teman2. Saya kan udah umur 12 tahun? masak diciumin terus seperti anak balita aja? Sebel banget deh. Maka saya putuskan bahwa saya bukan anak kecil &amp; tidak butuh kecupan di pipi lagi.<br />
<span id="more-435"></span>Suatu hari, seperti biasa, ayah saya mengantar sampai di depan gerbang sekolah, menurunkan saya, tersenyum lebar dengan senyum khasnya &amp; memiringkan badannya hendak mencium pipi saya. Tapi saya segera mengangkat tangan &amp; berkata, &#8220;Jangan ayah, aku malu!&#8221; itu pertama kalinya saya berkata begitu &amp; wajah ayah tampak begitu keheranan. Dengan sebal saya berkata &#8220;Yah, aku kan sudah besar &amp; sudah terlalu tua untuk dicium2 kayak anak balita.&#8221;</p>
<p>Ayah memandang saya beberapa saat, rasanya begitu lama ia memandang &amp; matanya mulai sedikit berkaca2 &amp; basah. Namun aku lihat dia berusaha menahan diri. &#8220;OK deh, kamu sudah gadis remaja sekarang. Ayah tak perlu menciummu lagi.&#8221; dia berbalik menuju motor bututnya &amp; melambaikan tangannya pamit pergi. Tak lama sesudah itu, ia ditugaskan ke-Aceh &amp; ia hilang &amp; tak pernah kembali lagi. 26 Des 2004 badai Tsunami meluluhlantakkan Meulaboh-Aceh &amp; menghancurkan pos tambang tempat dimana ayah saya ditugaskan.<br />
Anda semua takkan bisa bayangkan apa yang akan saya korbankan sekedar untuk mendapatkan lagi ciuman sayang darinya. Untuk merasakan wajah tua &amp; kumisnya yang kasar. Mencium bau tubuhnya yang khas. Dan untuk merasakan lengannya yang kuat merangkul pundakku, mengacak2 rambutku atau menggendong badanku. Seandainya bisa, aku ingin ucapkan padanya &#8216;Ayah, aku sudah dewasa, tapi aku tak pernah terlalu tua utk mendapat ciuman darimu&#8230;I&#8217;m a big girl dad, but i never too old for your kiss&#8221;</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/im-a-big-girl-dad.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mana Ciuman Untukku</title>
		<link>http://pengharapan.com/mana-ciuman-untukku.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/mana-ciuman-untukku.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Jul 2010 04:12:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[cindy]]></category>
		<category><![CDATA[ciuman]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kasih sayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=296</guid>
		<description><![CDATA[Dulu ada seorang gadis kecil bernama Cindy. Ayah Cindy bekerja enam hari dalam seminggu, dan sering kali sudah lelah saat pulang dari kantor. Ibu Cindy bekerja sama kerasnya mengurus keluarga mereka memasak, mencuci dan mengerjakan banyak tugas rumah tangga lainnya. Mereka keluarga baik-baik dan hidup mereka nyaman. Hanya ada satu kekurangan, tapi Cindy tidak menyadarinya.

Suatu [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">Dulu ada seorang gadis kecil bernama Cindy. Ayah Cindy bekerja enam hari dalam seminggu, dan sering kali sudah lelah saat pulang dari kantor. Ibu Cindy bekerja sama kerasnya mengurus keluarga mereka memasak, mencuci dan mengerjakan banyak tugas rumah tangga lainnya. Mereka keluarga baik-baik dan hidup mereka nyaman. Hanya ada satu kekurangan, tapi Cindy tidak menyadarinya.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Suatu hari, ketika berusia sembilan tahun, ia menginap di rumah temannya, Debbie, untuk pertama kalinya. Ketika waktu tidur tiba, ibu Debbie mengantar dua anak itu ketempat tidur dam memberikan ciuman selamat malam pada mereka berdua.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Ibu sayang padamu,&#8221; kata ibu Debbie.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Aku juga sayang Ibu,&#8221; gumam Debbie.</div>
<div id="_mcePaste">Cindy sangat heran, hingga tak bisa tidur. Tak pernah ada yang memberikan ciuman apappun padanya..</div>
<div id="_mcePaste">Juga tak ada yang pernah mengatakan menyayanginya. Sepanjang malam ia berbaring sambil berpikir, Mestinya memang seperti itu ..</div>
<div id="_mcePaste"><span id="more-296"></span></div>
<div>Ketika ia pulang, orangtuanya tampak senang melihatnya.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Kau senang di rumah Debbie?&#8221; tanya ibunya.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Rumah ini sepi sekali tanpa kau,&#8221; kata ayahnya.</div>
<div id="_mcePaste">Cindy tidak menjawab. Ia lari ke kamarnya. Ia benci pada orangtunya.</div>
<div id="_mcePaste">Kenapa mereka tak pernah menciumnya?</div>
<div id="_mcePaste">Kenapa mereka tak pernah memeluknya atau mengatakan menyayanginya ?</div>
<div id="_mcePaste">Apa mereka tidak menyayanginya?</div>
<div id="_mcePaste">Ingin rasanya ia lari dari rumah, dan tinggal bersama ibu Debbie.</div>
<div id="_mcePaste">Mungkin ada kekeliruan, dan orangtuanya ini bukanlah orang tua kandungnya.</div>
<div id="_mcePaste">Mungkin ibunya yang asli adalah ibu Debbie.</div>
<div id="_mcePaste">Malam itu, sebelum tidur, ia mendatangi orangtunya.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Selamat malam,&#8221;katanya.</div>
<div id="_mcePaste">Ayahnya,yang sedang membaca koran, menoleh.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Selamat malam,&#8221; sahut ayahnya.</div>
<div id="_mcePaste">Ibu Cindy meletakkan jahitannya dan tersenyum.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Selamat malam, Cindy.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Tak ada yang bergerak. Cindy tidak tahan lagi.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Kenapa aku tidak pernah diberi ciuman?&#8221; tanyanya.</div>
<div id="_mcePaste">Ibunya tampak bingung.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Yah,&#8221; katanya terbata-bata,</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;sebab&#8230; Ibu rasanya karena tidak ada yang pernah mencium Ibu waktu waktu Ibu masih kecil. Itu saja.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Cindy menangis sampai tertidur. Selama berhari-hari ia merasa marah. Akhirnya ia memutuskan untuk kabur. ia akan pergi kerumah Debbie dan tinggal bersama mereka. Ia tidak akan pernah kembali kepada orangtuanya yang tidak pernah menyayanginya. Ia mengemasi ranselnya dan pergi diam-diam. Tapi begitu tiba di rumah Debbie, ia tidak berani masuk. Ia merasa takkan ada yang mempercayainya. Ia takkan diizinkan tinggal bersama orangtua Debbie.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Maka ia membatalkan rencananya dan pergi. Segalanya terasa kosong dan tidak menyenangkan.</div>
<div id="_mcePaste">Ia takkan pernah mempunyai keluarga seperti keluarga Debbie. Ia terjebak selamanya bersama orangtua yang paling buruk dan paling tak punya rasa sayang didunia ini. Cindy tidak langsung pulang, tapi pergi ke taman dan duduk di bangku.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Ia duduk lama, sambil berpikir,hingga hari gelap. Sekonyong-konyong ia mendapat gagasan. Rencananya pasti berhasil . Ia kan membuatnya berhasil. Ketika ia masuk kerumahnya, ayahnya sedang menelpon. Sang ayah langsung menutup telepon. ibunya sedang duduk dengan ekspresi cemas.</div>
<div id="_mcePaste">Begitu Cindy masuk, ibunya berseru,&#8221; Dari mana saja kau? Kami cemas sekali!&#8221;.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Cindy tidak menjawab, melainkan menghampiri ibunya dan memberikan ciuman di pipi, sambil berkata,&#8221;Aku sayang padamu,Bu.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Ibunya sangat terperanjat, hingga tak bisa bicara.</div>
<div id="_mcePaste">Lalu Cindy menghampiri ayahnya dan memeluknya sambil berkata, &#8220;Selamat malam, Yah. Aku sayang padamu,&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Lalu ia pergi tidur, meninggalkan kedua orangtunya yang terperangah di dapur.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Keesokan paginya, ketika turun untuk sarapan, ia memberikan ciuman lagi pada ayah dan ibunya. Di halte bus, ia berjingkat dan mengecup ibunya.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Hai, Bu,&#8221;katanya.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Aku sayang padamu.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Itulah yang dilakukan Cindy setiap hari selama setiap minggu dan setiap bulan. Kadang-kadang orangtuanya menarik diri darinya dengan kaku dan canggung. Kadang-kadang mereka hanya tertawa. Tapi mereka tak pernah membalas ciumannya. Namun Cindy tidak putus asa.</div>
<div id="_mcePaste">Ia telah membuat rencana, dan ia menjalaninya dengan konsisten. Lalu suatu malam ia lupa mencium ibunya sebelum tidur. Tak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka dan ibunya masuk.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Mana ciuman untukku ?&#8221; tanya ibunya, pura-pura marah.</div>
<div id="_mcePaste">Cindy duduk tegak.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Oh, aku lupa,&#8221; sahutnya. Lalu ia mencium ibunya.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Aku sayang padamu, Bu.&#8221; Kemudian ia berbaring lagi.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Selamat malam,&#8221;katanya, lalu memejamkan mata.</div>
<div id="_mcePaste">Tapi ibunya tidak segera keluar.</div>
<div id="_mcePaste">Akhirnya ibunya berkata. &#8220;Aku juga sayang padamu.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Setelah itu ibunya membungkuk dan mengecup pipi Cindy.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Dan jangan pernah lupa menciumku lagi,&#8221; katanya dengan nada dibuat tegas. Cindy tertawa.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Baiklah,&#8221;katanya.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Dan ia memang tak pernah lupa lagi. Bertahun-tahun kemudian, Cindy mempunyai anak sendiri, dan ia selalu memberikan ciuman pada bayi itu, sampai katanya pipi mungil bayinya menjadi merah.</div>
<div id="_mcePaste">Dan setiap kali ia pulang kerumah, yang pertama dikatakan ibunya adalah, &#8220;Mana ciuman untukku?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Dan kalau sudah waktunya Cindy pulang, ibunya akan berkata, &#8220;Aku sayang padamu.</div>
<div id="_mcePaste">Kau tahu itu, bukan?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Ya,Bu,&#8221; kata Cindy.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Sejak dulu aku sudah tahu.&#8221;</div>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/mana-ciuman-untukku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mantel Kuning</title>
		<link>http://pengharapan.com/mantel-kuning.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/mantel-kuning.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 06:02:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kasih sayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=216</guid>
		<description><![CDATA[Rinai hujan selalu membuat saya terharu. Rintiknya, mengingatkan pada masa-masa yang telah lalu. Begitu pula hari ini. Dulu, sewaktu kecil, saya ingin sekali punya mantel hujan. Kuning, itu warna yang saya inginkan. Teman-teman saya yang lain telah memilikinya, dan mereka tampak gagah dengan mantel itu. Untuk anak kelas 2 SD, semua yang berwarna cerah, akan [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">Rinai hujan selalu membuat saya terharu. Rintiknya, mengingatkan pada masa-masa yang telah lalu. Begitu pula hari ini. Dulu, sewaktu kecil, saya ingin sekali punya mantel hujan. Kuning, itu warna yang saya inginkan. Teman-teman saya yang lain telah memilikinya, dan mereka tampak gagah dengan mantel itu. Untuk anak kelas 2 SD, semua yang berwarna cerah, akan selalu tampak indah. Namun sayang, Ibu tak punya cukup uang untuk membelinya. Walau sempat kecewa, saya harus menurut, dan menahan keinginan untuk mempunyai mantel kuning itu.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Walau begitu, saya tetap kesal. Dan rasa itu memuncak ketika saya harus pulang dari sekolah. Hari itu hujan begitu deras. Saya makin kecewa dengan Ibu. Sebab, jika ada mantel, tentu saya tak perlu kena hujan, dan bisa bergabung bersama teman-teman yang lain. Kesal, dan marah, begitulah yang saya rasakan saat itu. Sementara yang lain tertawa dan menikmati hujan, saya harus berjalan pulang dengan tubuh yang basah kuyup.</div>
<div id="_mcePaste"><span id="more-216"></span></div>
<div>Ah..di tengah perjalanan, saya bertemu dengan Ibu. Dia tampak membawakan payung untuk saya. Karena terlanjur marah, saya tak menerima payung itu, dan ngambek, untuk tetap pulang tanpa payung. Walau begitu, ia tampak ingin melindungi saya dengan payungnya. Mendekap, agar saya tak terlalu basah terkena hujan. Hujan makin deras, dan kami pun berjalan pulang, walau saya tetap ngambek dan menolak untuk di payungi. Sesampainya di rumah, tingkah itu terus saya perbuat.</div>
<div>Saya tetap menolak untuk berganti pakaian. Akhirnya dengan sedikit terpaksa, hal itu saya selesaikan. Ibu, kemudian datang dengan handuk, dan langsung menyelubungi saya dengan handuk itu. Ada kehangatan yang segera menyergap. Saya menjadi lebih tenang. Tetap, tak ada kata-kata yang keluar dari Ibu, selain terus menghangatkan saya dengan handuk itu. Tangannya terus membersihkan setiap air hujan yang ada di badan. Disekanya kepala saya, agar nanti tak membuat sakit. Masih dalam diam, Ibu kemudian memberikan pakaian ganti. Setelah itu, dia masih menyodorkan teh manis hangat buat saya. Ya, segelas teh manis, sebab, susu coklat, adalah hal yang jarang saya rasakan saat itu. Ya, kehangatan kembali hadir dalam tubuh. Walau saya mungkin tak mengerti apapun, saya yakin, ada kehangatan lain yang diberikan Ibu saat itu.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Ya, teman, begitulah. Ibu mungkin tak mampu membelikan saya mantel kuning seperti yang saya impikan. Namun, payungnya telah membuat saya aman. Ibu mungkin tak mampu membelikan saya mantel kuning untuk terhindar dari hujan, namun, dekapannya membuat saya terhindar dari apapun. Ibu mungkin tak mampu membelikan saya mantel kuning itu, namun, handuk hangatnya melebihi setiap kehangatan yang mampu diberikan setiap mantel. Ibu mungkin tak mampu membelikan mantel kuning, namun, usapan lembutnya, adalah segalanya buat saya.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Ibu mungkin tak menjemput saya dengan mobil atau kendaraan lain, namun lingkaran tangannya di tubuh saya, adalah dekapan yang paling indah. Ibu mungkin tak bisa memberikan susu coklat, namun, teh manisnya, lebih berharga dari apapun. Ibu mungkin tak bisa memberikan saya banyak hal lain, namun, dekapan, usapan, uluran tangan, perhatian, kasih sayang, sudah cukup sebagai penggantinya.</div>
<div id="_mcePaste">Ya, rintik hujan selalu membuat saya terharu. Terima kasih buat Ibu yang tak membelikan saya mantel kuning. Karena, apa yang telah diberikannya selama ini, jauh melampaui semuanya.</div>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/mantel-kuning.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nenek dan Minyak Goreng</title>
		<link>http://pengharapan.com/nenek-dan-minyak-goreng.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/nenek-dan-minyak-goreng.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 09:39:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[kasih sayang]]></category>
		<category><![CDATA[metromini]]></category>
		<category><![CDATA[minyak goreng]]></category>
		<category><![CDATA[nenek]]></category>
		<category><![CDATA[pengorbanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika saya bertemu dengan seorang nenek. Dia, yang yang ringkih dengan kebaya bermotif kembang itu, tampak sedang memegang sebuah kantong plastik. Hitam warnanya, dan tampak lusuh. Saya duduk disebelahnya, di atas sebuah metromini yang menuju ke stasiun KA.
Dia sangat tua, tubuhnya membungkuk, dan kersik di matanya tampak jelas. Matanya selalu berair, keriputnya, mirip dengan [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">Suatu ketika saya bertemu dengan seorang nenek. Dia, yang yang ringkih dengan kebaya bermotif kembang itu, tampak sedang memegang sebuah kantong plastik. Hitam warnanya, dan tampak lusuh. Saya duduk disebelahnya, di atas sebuah metromini yang menuju ke stasiun KA.</div>
<div id="_mcePaste">Dia sangat tua, tubuhnya membungkuk, dan kersik di matanya tampak jelas. Matanya selalu berair, keriputnya, mirip dengan aliran sungai, berkelok-kelok.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Hmm&#8230;dia tampak tersenyum pada saya. Sayapun balas tersenyum. Dia bertanya, mau kemana. Saya pun menjawab mau kuliah, sambil bertanya, apa isi plastik yang dipegangnya.</div>
<div id="_mcePaste">Minyak goreng, jawabnya. Ah, rupanya, dia baru saja mendapat jatah pembagian sembako. Pantas, dia tampak letih. Mungkin sudah seharian dia mengantri untuk mendapatkan minyak itu.</div>
<div id="_mcePaste">Tanpa ditanya, dia kemudian bercerita, bahwa minyak itu, akan dipakai untuk mengoreng tepung buat cucunya. Di saat sore, itulah yang bisa dia berikan buat cucunya. Dia berkata, cucunya sangat senang kalau digorengkan tepung. Sebab, dia tak punya banyak uang untuk membelikan yang lain selain gorengan tepung buatannya. Itupun, tak bisa setiap hari disajikan. Karena, tak setiap hari dia bisa mendapatkan minyak dan tepung gratis.</div>
<div id="_mcePaste">Degh. Saya terharu. Saya membayangkan betapa rasa itu begitu indah. Seorang nenek yang rela berpanas-panas untuk memberikan apa yang terbaik buat cucunya. Sang nenek, memberikan saya hikmah yang dalam sekali.</div>
<div id="_mcePaste"><span id="more-159"></span></div>
<div>Saya teringat pada Ibu. Tuhan memang Maha Bijak. Sang nenek hadir untuk menegur saya. Sudah beberapa saat sebelumnya, saya sering melupakan Ibu. Seringkali makanan yang disajikannya, saya lupakan begitu saja. Mungkin, karena saya yang terlalu sok sibuk dengan semua urusan kuliah. Sering saat pulang ke rumah, saya menemukan nasi goreng yang masih tersaji di meja, yang belum saya sentuh sejak pagi.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Sering juga saya tak sempat merasakan masakan Ibu di rumah saat kembali, karena telah makan di tempat lain. Saya sedih, saat membayangkan itu semua. Dan Ibu pun sering mengeluh dengan hal ini. Saya merasa bersalah sekali. Saya bisa rasakan, Ibu pasti memberikan harapan yang banyak untuk semua yang telah dimasaknya buat saya. Tentu, saat memasukkan bumbu-bumbu, dia juga memasukkan kasih dan cintanya buat saya. Dia pasti juga akan menambahkan doa-doa dan keinginan yang terbaik buat saya. Dia pasti, mengolah semua masakan itu, mengaduk, mencampur, dan menguleni, sama seperti dia merawat dan mengasihi saya. Menyentuh dengan lembut, mengelus, seperti dia mengelus kepala saya di waktu kecil.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Metromini telah sampai. Setelah mengucap salam pada nenek itu, saya pun turun. Namun, saya punya punya keinginan hari itu. Mulai esok hari, saya akan menyantap semua yang Ibu berikan buat saya. Apapun yang diberikannya. Karena saya yakin, itulah bentuk ungkapan rasa cinta saya padanya. Saya percaya, itulah yang dapat saya berikan sebagai penghargaan buatnya. Saya berharap, tak akan ada lagi makanan yang tersisa. Saya ingin membahagiakan Ibu. Terima kasih Nek.</div>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/nenek-dan-minyak-goreng.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

