<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pengharapan.com &#187; kasih</title>
	<atom:link href="http://pengharapan.com/tag/kasih/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pengharapan.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Feb 2012 12:52:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mandikan aku MAMA</title>
		<link>http://pengharapan.com/mandikan-aku-mama.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/mandikan-aku-mama.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 13:15:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[aku]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[mama]]></category>
		<category><![CDATA[mandikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=1279</guid>
		<description><![CDATA[Aku punya sahabat, sebut saja namanya Pita. Ketika masih kuliah, aku mengenalnya sebagai seorang yang berotak cemerlang. Universitas mengirimnya ke negeri bunga Tulip untuk mempelajari hukum internasional di Universitas Utrecht, sedangkan aku memilih menyelesaikan pendidikanku di bidang kedokteran. Pita terus mengejar impiannya hingga suatu saat ia mendapatkan seorang suami yang sama-sama berprestasi. Bertepatan dengan diangkatnya [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://pengharapan.com/aku-menangis-untuk-adikku-sebanyak-6-kali.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Aku Menangis Untuk Adikku Sebanyak 6 Kali'>Aku Menangis Untuk Adikku Sebanyak 6 Kali</a> <small>Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari...</small></li>
</ol>

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku punya sahabat, sebut saja namanya Pita. Ketika masih kuliah, aku mengenalnya sebagai seorang yang berotak cemerlang. Universitas mengirimnya ke negeri bunga Tulip untuk mempelajari hukum internasional di Universitas Utrecht, sedangkan aku memilih menyelesaikan pendidikanku di bidang kedokteran. Pita terus mengejar impiannya hingga suatu saat ia mendapatkan seorang suami yang sama-sama berprestasi. Bertepatan dengan diangkatnya Pita menjadi staf diplomat dan selesainya suaminya meraih gelar doktor, lahirlah seorang anak laki-laki buah cinta mereka, Eka namanya. Pita semakin sibuk dengan pekerjaannya sedangkan Eka baru berumur 6 bulan. Pita sangat sering meninggalkan Eka pergi dari satu kota ke kota lain, bahkan dari satu negara ke negara lain.</p>
<p>Aku pernah bertanya kepadanya, &#8220;Bukankah Eka masih terlalu kecil untuk ditinggalkan ?&#8221; &#8220;Tidak, aku sudah mempersiapkan segalanya dan semua pasti berjalan baik&#8221;, jawab Pita.<span id="more-1279"></span></p>
<p>Di bawah perawatan baby-sitter dan pengawasan kakek-neneknya, Eka tumbuh menjadi anak yang cerdas dan lincah. Kakek neneknya tidak pernah lupa menceritakan kepada Eka akan kehebatan kedua orang tuanya yang telah menjadi kebanggaan mereka semua. Meskipun kedua orang tuanya begitu sibuk, namun Eka bisa memahami kesibukan mereka.</p>
<p>Suatu hari, Eka pernah meminta seorang adik kepada kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya menjelaskan tentang kesibukan mereka yang belum memungkinkan untuk memberikan Eka seorang adik. Kali ini, Eka lagi-lagi mengerti kondisi orang tuanya. Karena sikap Eka yang begitu pengertian dan dewasa, Pita menyebutnya &#8220;Dewi kecil&#8221;. Meskipun kedua orang tuanya sering pulang larut malam, namun Eka tetap bersikap manis dan tidak ngambek. Karena kemanisan sikap Eka, aku pernah mengimpikan seorang anak sepertinya.</p>
<p>Pagi yang cerah di hari itu, entah kenapa Eka tidak mau dimandikan oleh baby sitternya. &#8220;Eka ingin mama yang memandikan&#8221;, katanya.</p>
<p>Pita yang setiap hari berpacu dengan waktu tentu saja menjadi gusar. Eka mengajukan permohonan yang sama selama kurang lebih seminggu, tetapi Pita dan suaminya tidak begitu peduli. &#8220;Mungkin ia sedang dalam masa peralihan sehingga ia minta perhatian yang lebih&#8221;, pikir mereka.</p>
<p>Sampai suatu sore, aku dikejutkan oleh telepon Ida, sang baby sitter. Ada kepanikan di dalam suaranya, &#8220;Bu dokter, Eka sakit demam dan kejang-kejang. Sekarang ia di UGD&#8221;.</p>
<p>Tanpa pikir panjang aku langsung menuju UGD, tetapi semua sudah terlambat. Kematian telah menjemput Eka yang lincah, pintar dan pengertian. Saat kejadian, mamanya sedang meresmikan kantor barunya.</p>
<p>Dalam keadaan terpukul, Pita pulang ke rumah dan satu-satunya yang ingin ia lakukan adalah memandikan anaknya Eka. Keinginan untuk memandikan Eka memang tercapai, walau dalam keadaan tubuh yang terbujur kaku. Ia memandikan Eka diiringi deraian air mata dan rintihan pedih, &#8220;Ini mama sayang &#8230; mama yang memandikan Eka&#8221;.</p>
<p>Tubuh kecil Eka telah tertimbun tanah, tetapi kami masih berdiri membisu disana. Aku membiarkan Pita mengucapkan kata-kata yang bisa menghibur dirinya sendiri atas kepergian Eka-nya. Hening sejenak, sebelum Pita akhirnya tertunduk, &#8220;Bangun Eka, mama mau mandikan Eka, berikan mama kesempatan sekali lagi, Ka &#8230;&#8221;</p>
<p>Rintihan itu begitu menyayat kalbu, tapi semua sudah terlanjur. Penyesalan selalu datang terlambat dan kesempatan yang sama tidak akan pernah terulang.</p>
<p>Nyatakanlah perhatian dan kasih kepada orang-orang yang kita kasihi, selama masih ada kesempatan.</p>
<p>Semua berjalan sesuai dengan Hukum sebab-akibat. Ada sebab maka ada akibat dalam kehidupan ini.</p>
<p>Kita bisa mencari waktu lain untuk berkarier dan berusaha, tetapi orang-orang yang kita kasihi tidak selamanya bisa bersama kita. Siapa yang tahu berapa lama seseorang hidup di dunia ini?</p>
<p>Berbuat baik dan nyatakanlah cinta kasih kita selama masih ada kesempatan.</p>
<p>Semoga semua makhluk berbahagia.</p>
<p>(Diposting oleh Muryati Hapsari di http://facebook.com/pengharapan tanggal 19 Januari 2012)</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://pengharapan.com/aku-menangis-untuk-adikku-sebanyak-6-kali.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Aku Menangis Untuk Adikku Sebanyak 6 Kali'>Aku Menangis Untuk Adikku Sebanyak 6 Kali</a> <small>Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari...</small></li>
</ol></p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/mandikan-aku-mama.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengasihi Tanpa mengatakan Sesuatu</title>
		<link>http://pengharapan.com/mengasihi-tanpa-mengatakan-sesuatu.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/mengasihi-tanpa-mengatakan-sesuatu.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Aug 2011 04:44:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[makan mie]]></category>
		<category><![CDATA[mengasihi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=1225</guid>
		<description><![CDATA[Saya ditraktir makan mie di kedai mie yang terkenal. Harganya tidak mahal dan rasanya sangat lezat sekali. Kami duduk di depan meja panjang yang dapat menampung sekitar sepuluh orang bila mengelilingi meja. Meja sudah terisi enam orang, saya, teman saya dan empat orang pengunjung.
Ketika asyik makan, satu keluarga baru duduk di dekat kami. Tepatnya diantara [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p lang="sv-SE"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Saya ditraktir makan mie di kedai mie yang terkenal. Harganya tidak mahal dan rasanya sangat lezat sekali. Kami duduk di depan meja panjang yang dapat menampung sekitar sepuluh orang bila mengelilingi meja. Meja sudah terisi enam orang, saya, teman saya dan empat orang pengunjung.</span></span></p>
<p lang="sv-SE"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Ketika asyik makan, satu keluarga baru duduk di dekat kami. Tepatnya diantara teman saya dan pengunjung lainnya. Mereka telah memesan mie dan sedang menunggu. Keluarga tersebut terdiri dari sepasang suami istri yang masih muda dan seorang anak yang berusia sekitar enam tahun. Mereka keluarga yang jauh dari sederhana. Pakaiannya agak kusam dan berbau. Si anak kelihatannya baru sembuh dari suatu penyakit yang tidak kami ketahui dan sedang menarik ingusnya keluar masuk. Ingusnya seperti angka sebelas dan terkadang seperti angka satu dengan warna kuning kehijau &#8211; hijauan. Si ibu dengan penuh kasih sayang mengelap ingus yang tidak berhenti keluar masuk hidung anaknya. Pasangan itu sangat bahagia melihat anaknya bermain sambil tertawa. Sepertinya makan mie merupakan perayaan menyambut kesembuhannya. Saat mie datang keluarga tersebut makan dengan lahap.<span id="more-1225"></span></span></span></p>
<p lang="sv-SE"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Keadaan tersebut tidak berlaku bagi kami semua terkecuali teman saya. Bagi kami berlima ( termasuk saya ) keadaan tersebut merupakan bencana dan penyiksaan. Bayangkan aja, bagaimana rasanya makan mie dengan mencium satu keluarga yang bau badannya tidak enak. Belum lagi melihat dan mendengar ingus yang ditarik keluar masuk dan sesekali dibersihkan oleh ibunya. Setiap kali memakan mie sambil meminum kuahnya, rasanya seperti ingus telah tercampur dengan makanan dan membuat selera makan hilang. Tidak berapa lama kemudian, keempat pelanggan yang duduk semeja dengan kami meninggalkan meja satu persatu tanpa menghabiskan makanan. Melihat ini ada rasa kepahitan yang terpancar diwajah keluarga muda itu, seperti rasa rendah diri dan terasing melihat sikap saya dan empat pengunjung lainnya.</span></span></p>
<p lang="sv-SE"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Tetapi itu tidak berlangsung lama, terutama saat mereka melihat teman saya, keceriaan mereka pulih kembali. Teman saya tetap menikmati mie dengan segala kecueka nnya. Seolah -olah tidak ada bau disekitarnya dan tidak ada suara ingus yang didengar. Saya tidak bisa berbuat banyak selain belajar cuek dan menghabiskan sisa mie. Lagi pula saya ditraktir makan<br />
dan tidak berhak mengajukan hal-hal yang aneh &#8211; aneh dan tidak sopan.</span></span></p>
<p lang="sv-SE"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Selesai makan, kami masih duduk dua puluh menit sebelum meninggalkan kedai makanan. Saya heran dengan tingkah teman saya yang diluar kebiasaannya. Biasanya setelah makan, ia hanya duduk paling lama sepuluh menit. Sekali lagi saya harus mengikuti kemauan teman saya dengan jengkel.</span></span></p>
<p lang="sv-SE"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Akhirnya kami keluar meninggalkan kedai dan keluarga muda, saya merasa lega. Dalam perjalanan pulang, teman saya mengatakan ia sangat terganggu duduk di samping keluarga tersebut. Ia merasakan rasa bau dan merasa terganggu dengan suara ingus anaknya. Ia merasakan tepat seperti yang saya rasakan.</span></span></p>
<p lang="sv-SE"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Teman saya juga mengatakan, jika ia meninggalkan keluarga tersebut di saat mereka bergembira, keluarga itu akan merasa terpukul, tidak berharga, terasing dan putus asa. Si suami sedang memberi yang terbaik bagi keluarganya. Mereka bersukacita merayakan kesembuhan anaknya. Si suami telah mengeluarkan uang yang bagi mereka cukup mahal dari hasil kerja keras hanya untuk memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Uang itu tidak begitu banyak untuk ukuran kami tetapi tidak bagi keluarga itu.</span></span></p>
<p lang="sv-SE"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Saya sangat terkejut mendengar penuturan teman saya. Dan tidak menyangka teman saya telah melakukan sesuatu yang luar biasa bagi keluarga itu. Dengan caranya yang khas, bertahan makan mie sampai habis dan menunggu dua puluh menit setelah makan, telah memberi semangat baru bagi keluarga itu.</span></span></p>
<p lang="sv-SE"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Saya teringat bagaimana rasa kepahitan, rendah diri dan terasing di wajah kedua suami istri ketika melihat pelanggan yang lain meninggalkan meja tanpa menghabiskan makanan dan melihat tingkah saya. Saya juga teringat bagaimana pasangan ini kembali ceria begitu melihat sikap teman saya yang cuek.</span></span></p>
<p lang="sv-SE"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Pertama kali dalam hidup ini, saya menyadari dan menyaksikan bagaimana mengasihi sesama tanpa mengatakan sesuatu benar &#8211; benar tidak mustahil. Ini benar &#8211; benar keajaiban. Ajaib bagaimana semua ajaran tentang mengasihi sesama dapat diwujudkan tanpa perkataan dalam waktu sesingkat itu. Cukup hanya dengan meneruskan makan mie sampai habis. Masa bodoh dengan sikap saya dan pengunjung lain yang tidak terpuji. Menunggu dua puluh menit setelah selesai makan. Yang terakhir menahan rasa bau untuk menyempurnakan segalanya telah menunjukkan suatu keajaiban kasih dan dilakukan oleh seorang teman.</span></span></p>
<p lang="sv-SE"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span style="font-size: small;">Ajaib bagaimana teman saya menegor saya tanpa mengatakan sesuatu. Ia tidak menuduh tetapi cukup telak memukul saya. Saya merasa sangat terpukul, malu tetapi tidak marah. Saya kembali mengingatkan diri sendiri bagaimana mudahnya mengatakan mengasihi sesama tetapi tidak melakukannya.</span></span></p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/mengasihi-tanpa-mengatakan-sesuatu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Isyarat I Love You</title>
		<link>http://pengharapan.com/isyarat-i-love-you.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/isyarat-i-love-you.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Apr 2011 00:16:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[apa adanya]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[penerimaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=1099</guid>
		<description><![CDATA[treat every love as last love&#8230;
Sejak semula, keluarga dari si gadis tidak menyetujui hubungannya dengan sang pemuda. Mereka mengajukan alasan mengenai latar belakang keluarga, bahwa jika si gadis memaksa terus bersama dengan sang pemuda, dia akan menderita seumur hidupnya&#8230;.. Karena tekanan dari keluarganya, si gadis jadi sering bertengkar dengan pacarnya. Gadis itu benar2 mencintainya, dan [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://pengharapan.com/love.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Love'>Love</a> <small>LOVE Is &#8230;&#8230;. Love is patience Love is kind Love...</small></li>
</ol>

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">treat every love as last love&#8230;</p>
<p>Sejak semula, keluarga dari si gadis tidak menyetujui hubungannya dengan sang pemuda. Mereka mengajukan alasan mengenai latar belakang keluarga, bahwa jika si gadis memaksa terus bersama dengan sang pemuda, dia akan menderita seumur hidupnya&#8230;.. Karena tekanan dari keluarganya, si gadis jadi sering bertengkar dengan pacarnya. Gadis itu benar2 mencintainya, dan dia terus-menerus bertanya, &#8220;Seberapa besar kamu mencintaiku?&#8221; Sang pemuda tidak begitu pandai berbicara, dia selalu membuat si gadis marah. Dan komentar-komentar dari orangtuanya membuatnya bertambah kesal. Sang pemuda selalu menjadi sasaran pelampiasan kemarahannya. Dan sang pemuda selalu membiarkannya melampiaskan kemarahannya kepadanya&#8230;.</p>
<p>Setelah beberapa saat, sang pemuda lulus dari perguruan tinggi. Ia bermaksud meneruskan kuliahnya ke luar negeri, tapi sebelum dia pergi, dia melamar gadisnya, &#8220;Saya tidak tahu bagaimana mengucapkan kata2 manis, tapi saya tahu bahwa saya mencintaimu. Jika kamu setuju, saya ingin menjagamu seumur hidupmu. Mengenai keluargamu, saya akan berusaha keras untuk meyakinkan mereka agar menyetujui hubungan kita. Maukah kamu menikah denganku?&#8221; Si gadis setuju, dan keluarganya setelah melihat usaha dari sang pemuda, akhirnya merestui hubungan mereka. Sebelum pemuda itu berangkat, mereka bertunangan terlebih dahulu. Si gadis tetap tinggal di kampung halaman dan bekerja, sementara sang pemuda meneruskan kuliahnya di LN&#8230;..<br />
<span id="more-1099"></span><br />
Mereka melanjutkan hubungan mereka melalui surat dan telepon. Kadang-kadang timbul kesulitan, tapi mereka tidak menyerah terhadap keadaan. Suatu hari, dalam perjalanan ke tempat perhentian bis sepulang dari kerja, si gadis tertabrak mobil hingga tak sadarkan diri. Ketika siuman, dia melihat kedua orangtuanya dan menyadari betapa beruntungnya dia dapat selamat. Melihat air mata orangtuanya, dia berusaha untuk menghibur mereka. Tetapi dia menemukan&#8230; bahwa dia tidak dapat berbicara sama sekali. Dia bisu&#8230;.. Menurut dokter kecelakaan tersebut telah mencederai otaknya, dan itu menyebabkannya bisu seumur hidupnya. Mendengar orangtuanya membujuknya, tapi tidak dapat menjawab sepatah kata pun, gadis tersebut pingsan&#8230;</p>
<p>Sepanjang hari hanya dapat menangis dan membisu&#8230;Ketika akhirnya dia boleh pulang dari RS, dia mendapati rumahnya masih seperti sedia kala. Hanya jika telepon berdering, dia menjadi pilu. Dering telepon telah menjadi mimpi terburuknya. Dia tidak dapat memberitakan kabar buruk tersebut kepada pacarnya dan menjadi bebannya. Dia menulis sepucuk surat untuknya, memberitahukan bahwa dia tdk mau lagi menunggunya. Hubungan antara mereka sudah putus, bahkan dia mengembalikan cincin pertunangan mereka. Mendapat surat dan telepon dari si pemuda, dia hanya bisa menitikkan air mata&#8230; Ayahnya tidak tahan melihat penderitaannya, dan memutuskan untuk pindah. Berharap bahwa dia dapat melupakan segalanya dan menjadi lebih bahagia&#8230;</p>
<p>Pindah ke tempat baru, si gadis mulai belajar bahasa isyarat. Dia berusaha melupakan sang pemuda&#8230; Suatu hari sahabatnya memberitahukan bahwa pemuda itu telah kembali dan mencarinya ke mana-mana. Dia meminta sahabatnya untuk tidak memberitahukan dimana dia berada dan menyuruh pemuda tsb. untuk melupakannya&#8230;. Lebih dari setahun, tidak terdengar lagi kabar pemuda itu sampai akhirnya sahabat si gadis menyampaikan bahwa sang pemuda akan menikah dan menyerahkan surat undangan. Dia membuka surat undangan itu dengan hati pedih, dan menemukan namanya tercantum dlm undangan. Sebelum dia sempat bertanya kepada sahabatnya, tiba-tiba sang pemuda muncul di hadapannya.Dengan bahasa isyarat yang kaku, ia menyampaikan bahwa&#8230;.<br />
Aku telah menghabiskan waktu lebih dari setahun untuk mempelajari bahasa isyarat, agar dapat memberitahukan kepadamu bahwa aku belum melupakan janji kita, berikan aku kesempatan, biarkan aku menjadi suaramu.</p>
<p>sumber dari http://www.kaskus.us/showthread.php?t=913612</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://pengharapan.com/love.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Love'>Love</a> <small>LOVE Is &#8230;&#8230;. Love is patience Love is kind Love...</small></li>
</ol></p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/isyarat-i-love-you.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Love</title>
		<link>http://pengharapan.com/love.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/love.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Mar 2011 01:48:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[murah hati]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>
		<category><![CDATA[tidak cemburu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=1041</guid>
		<description><![CDATA[LOVE Is &#8230;&#8230;.
Love is patience
Love is kind
Love envieth not
Love vaunteth not itself
and not puffed up
It doesn&#8217;t behave itself unseemly
seeked not her own
Love is not easily provoked
&#38; thinketh no evil
Rejoiceth not in inquity
but rejoiceth in the truth
Love Beareth all things
Love believeth all things
Love hopeth all things
and endureth all things
Love never faileth
CINTA Adalah
Kasih itu sabar
Kasih itu murah [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>LOVE Is &#8230;&#8230;.</strong><br />
Love is patience<br />
Love is kind<br />
Love envieth not<br />
Love vaunteth not itself<br />
and not puffed up<br />
It doesn&#8217;t behave itself unseemly<br />
seeked not her own<span id="more-1041"></span><br />
Love is not easily provoked<br />
&amp; thinketh no evil<br />
Rejoiceth not in inquity<br />
but rejoiceth in the truth<br />
Love Beareth all things<br />
Love believeth all things<br />
Love hopeth all things<br />
and endureth all things<br />
Love never faileth</p>
<p><strong>CINTA Adalah</strong><br />
Kasih itu sabar<br />
Kasih itu murah hati<br />
Kasih itu tidak cemburu<br />
Kasih tidak memegahkan diri<br />
dan tidak sombong<br />
Kasih itu sopan &amp;<br />
tak menguntungkan diri sendiri<br />
Kasih tidak gampang marah &amp;<br />
tak menyimpan kesalahan orang<br />
Kasih tidak bersukacita<br />
karena ketidak adilan,<br />
tetapi bahagia krn kebenaran<br />
Kasih menutupi banyak kesalahan<br />
Kasih Percaya segala sesuatu<br />
Kasih Mengharap segala sesuatu<br />
&amp; sabar menanggung segala sesuatu<br />
Kasih takkan berkesudahan</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/love.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perkataan Ibu Teresa</title>
		<link>http://pengharapan.com/perkataan-ibu-teresa.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/perkataan-ibu-teresa.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Dec 2010 01:38:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[ibu Teresa]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[perjuangan]]></category>
		<category><![CDATA[perkataan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=874</guid>
		<description><![CDATA[Inilah perkataan yang diucapkan ibu Teresa sebelum kematiannya :
&#8220;Kalau saya memungut seseorang yang lapar dari jalan, saya beri dia sepiring nasi, sepotong roti. Tetapi seseorang yang hatinya tertutup, yang merasa tidak dibutuhkan, tidak dikasihi, dalam ketakutan, seseorang yang telah dibuang dari masyarakat &#8211; kemiskinan spiritual seperti itu jauh lebih sulit untuk diatasi.&#8221;
Mereka yang miskin secara [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Inilah perkataan yang diucapkan ibu Teresa sebelum kematiannya :</p>
<p>&#8220;Kalau saya memungut seseorang yang lapar dari jalan, saya beri dia sepiring nasi, sepotong roti. Tetapi seseorang yang hatinya tertutup, yang merasa tidak dibutuhkan, tidak dikasihi, dalam ketakutan, seseorang yang telah dibuang dari masyarakat &#8211; kemiskinan spiritual seperti itu jauh lebih sulit untuk diatasi.&#8221;</p>
<p>Mereka yang miskin secara materi bisa menjadi orang yang indah.</p>
<p>Pada suatu petang kami pergi keluar, dan memungut empat orang dari jalan. Dan salah satu dari mereka ada dalam kondisi yang sangat buruk. <span id="more-874"></span></p>
<p>Saya memberitahu para suster : &#8220;Kalian merawat yang tiga; saya akan merawat orang itu yang kelihatan paling buruk.&#8221;</p>
<p>Maka saya melakukan untuk dia segala sesuatu yang dapat dilakukan, dengan kasih tentunya. Saya taruh dia di tempat tidur dan ia memegang tangan saya sementara ia hanya mengatakan satu kata : &#8221; Terima kasih &#8221; lalu ia meninggal.</p>
<p>Saya tidak bisa tidak harus memeriksa hati nurani saya sendiri. Dan saya bertanya : &#8221; Apa yang akan saya katakan, seandainya saya menjadi dia ?&#8221; dan jawaban saya sederhana sekali. Saya mungkin berusaha mencari sedikit perhatian untuk diriku sendiri.</p>
<p>Mungkin saya berkata : &#8221; Saya lapar, saya hampir mati, saya kedinginan, saya kesakitan, atau lainnya&#8221;. Tetapi ia memberi saya jauh lebih banyak ia memberi saya ucapan syukur atas dasar kasih. Dan ia mati dengan senyum di wajahnya.</p>
<p>Lalu ada seorang laki-laki yang kami pungut dari selokan, sebagian badannya sudah dimakan ulat, dan setelah kami bawa dia ke rumah perawatan ia hanya berkata : &#8220;Saya telah hidup seperti hewan di jalan, tetapi saya akan mati seperti malaikat, dikasihi dan dipedulikan.&#8221;</p>
<p>Lalu, setelah kami selesai membuang semua ulat dari tubuhnya, yang ia katakan dengan senyum ialah : &#8220;Ibu, saya akan pulang kepada Tuhan&#8221; &#8211; lalu ia mati.</p>
<p>Begitu indah melihat orang yang dengan jiwa besar tidak mempersalahkan siapapun, tidak membandingkan dirinya dengan orang lain. Seperti malaikat, inilah jiwa yang besar dari orang-orang yang kaya secara rohani sedangkan miskin secara materi.</p>
<p>* Hidup adalah kesempatan, gunakan itu.<br />
* Hidup adalah keindahan, kagumi itu.<br />
* Hidup adalah mimpi, wujudkan itu.<br />
* Hidup adalah tantangan, hadapi itu.<br />
* Hidup adalah kewajiban, penuhi itu.<br />
* Hidup adalah pertandingan, jalani itu.<br />
* Hidup adalah mahal, jaga itu.<br />
* Hidup adalah kekayaan, simpan itu.<br />
* Hidup adalah kasih, nikmati itu.<br />
* Hidup adalah janji, genapi itu.<br />
* Hidup adalah kesusahan, atasi itu.<br />
* Hidup adalah nyanyian, nyanyikan itu.<br />
* Hidup adalah perjuangan, terima itu.<br />
* Hidup adalah tragedi, hadapi itu.<br />
* Hidup adalah petualangan, lewati itu.<br />
* Hidup adalah keberuntungan, laksanakan itu.<br />
* Hidup adalah terlalu berharga, jangan rusakkan itu.</p>
<p>Hidup adalah hidup, berjuanglah untuk itu.</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/perkataan-ibu-teresa.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kasih Tidak Melihat Seperti Itu</title>
		<link>http://pengharapan.com/kasih-tidak-melihat-seperti-itu.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/kasih-tidak-melihat-seperti-itu.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Dec 2010 01:35:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[buruk rupa]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[luka hati]]></category>
		<category><![CDATA[menyembuhkan]]></category>
		<category><![CDATA[penerimaan]]></category>
		<category><![CDATA[penolakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=850</guid>
		<description><![CDATA[Di sebuah panti asuhan ada seorang bayi, bayi itu lahir prematur dari seorang ibu muda tanpa suami. Bayi itu tertolak, hendak digugurkan ibunya &#38; tidak diakui bapaknya sejak lahir. Karna lahir sebelum waktunya, si bayi tampak kecil, lemah, pucat dan kurus. Cuma kulit kisut pembalut tulang, bibirnya agak sumbing &#38; kepala membesar (Hydrocepallus), kelihatannya buruk [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di sebuah panti asuhan ada seorang bayi, bayi itu lahir prematur dari seorang ibu muda tanpa suami. Bayi itu tertolak, hendak digugurkan ibunya &amp; tidak diakui bapaknya sejak lahir. Karna lahir sebelum waktunya, si bayi tampak kecil, lemah, pucat dan kurus. Cuma kulit kisut pembalut tulang, bibirnya agak sumbing &amp; kepala membesar (Hydrocepallus), kelihatannya buruk sekali. Begitu buruknya sampai dia diberi nama julukan ET, singkatan dari Extra Terrestrial, nama tokoh film makhluk luar angkasa yg terkenal buruk rupa.</p>
<p>Sudah banyak pasangan suami istri yg ingin mengadopsinya, namun saat datang ke-panti asuhan &amp; menjenguknya, mereka membatalkan adopsi, karena melihat kondisi si-ET yg buruk rupa. Hingga suatu hari ada sepasang suami istri hendak mengadopsinya. Sayang, beberapa hari menjelang kedatangan calon orang tua asuhnya, si ET terserang demam. Badannya panas, beratnya turun drastis, bertambah pucat &amp; makin kisut. Sudah buruk jadi tambah buruk lagi. Semua perawat &amp; pengasuh panti asuhan itu kuatir. Bagaimana sikap calon ibu angkatnya kalau nanti melihat si ET menjadi anak angkatnya ? Sungguh kasihan si -ET itu.<span id="more-850"></span><br />
Tetapi apa yg terjadi ? Ketika si ET diserahkan kepada ibu angkatnya, sang ibu mengulurkan tangannya, dengan gembira menyambut si ET, ia memeluk mesra si ET &amp; dengan penuh sikap keibuan ia mendekapnya erat2 ke dadanya. &#8220;Anakku &#8220;, bisiknya, &#8221; Betapa manisnya, anakku sayang &#8221; bisiknya.<br />
Saat ibu itu tahu bahwa bayinya biasa disebut ET, dengan serta merta ia mengatakan, &#8221; Saya suka nama itu. Manis sekali kedengarannya.&#8221; Suster2 panti jadi heran &amp; bertanya mengapa sang ibu bersikap demikian terhadap si ET yg buruk rupa itu, ibu itu menjawab, &#8221; Ketika saya mendengar bahwa saya akan mendapat seorang anak angkat, saya menjadi sangat gembira. Saya sudah mulai mencintainya. Ketika saya menerima ET kedalam pelukan, saya melihat anak saya sendiri, darah daging saya. Dalam diri ET saya melihat diri saya sendiri. Saya gembira sekali, bahagia, dan saya menyayangi ET.<br />
Suster di-panti itu bertanya lagi, &#8220;Tapi bu, bukankah kondisinya buruk, apakah ibu tidak menyesal nanti?&#8221; Kemudian ibu itu tersenyum &amp; bertanya dengan lembut, &#8220;Bukankah Kasih Sejati tidak memandang hal-hal seperti itu?&#8221;</p>
<p>5 tahun kemudian&#8230;, hidup dalam rawatan ibu angkatnya yg penuh kasih sayang, si ET sembuh dari sakitnya dan bertumbuh menjadi anak yg montok, sehat, lucu dan menyenangkan.<br />
&#8220;Penerimaan &amp; Kasih menyembuhkan banyak luka hati&#8221;</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/kasih-tidak-melihat-seperti-itu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beginilah Jika Bersaudara</title>
		<link>http://pengharapan.com/beginilah-jika-bersaudara.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/beginilah-jika-bersaudara.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Nov 2010 01:34:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[harta]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[perekat]]></category>
		<category><![CDATA[saudara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=747</guid>
		<description><![CDATA[Dua orang bersaudara bekerja bersama menggarap ladang milik keluarga
mereka. Yang seorang, si kakak, telah menikah, dan memiliki keluarga
yang cukup besar. Si adik masih lajang, dan berencana tidak menikah.
Ketika musim panen tiba, mereka selalu membagi hasil sama rata.
Selalu begitu.
Pada suatu hari, si adik yang masih lajang itu berpikir, &#8220;Tidak adil
jika kami membagi rata semua hasil yang [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua orang bersaudara bekerja bersama menggarap ladang milik keluarga<br />
mereka. Yang seorang, si kakak, telah menikah, dan memiliki keluarga<br />
yang cukup besar. Si adik masih lajang, dan berencana tidak menikah.<br />
Ketika musim panen tiba, mereka selalu membagi hasil sama rata.<br />
Selalu begitu.</p>
<p>Pada suatu hari, si adik yang masih lajang itu berpikir, &#8220;Tidak adil<br />
jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku masih<br />
lajang dan kebutuhanku hanya sedikit.&#8221; Maka, demi si kakak, setiap<br />
malam, dia akan mengambil sekarung padi miliknya, dan dengan diam-<br />
diam, meletakkan karung itu di lumbung milik kakaknya. Sekarung itu<br />
ia anggap cukuplah untuk mengurangi beban si kakak dan keluarganya.<span id="more-747"></span><br />
Sementara itu, si kakak yang telah menikah pun merasa gelisah akan<br />
nasib adiknya. Ia berpikir, &#8220;Tidak adil jika kami selalu membagi rata<br />
semua hasil yang kami peroleh. Aku punya istri dan anak-anak yang<br />
akan mampu merawatku kelak ketika tua. Sedangkan adikku, tak punya<br />
siapa-siapa, tak akan ada yang peduli jika nanti dia tua dan miskin.<br />
Ia berhak mendapatkan hasil lebih daripada aku.&#8221;</p>
<p>Karena itu, setiap malam, secara diam-diam, ia pun mengambil sekarung<br />
padi dari lumbungnya, dan memasukkan ke lumbung milik adik satu-<br />
satunya itu. Ia berharap, satu karung itu dapatlah mengurangi beban<br />
adiknya, kelak.</p>
<p>Begitulah, selama bertahun-tahun kedua bersaudara itu saling<br />
menyimpan rahasia. Sementara padi di lumbung keduanya tak pernah<br />
berubah jumlah. Sampai&#8230;, suatu malam, keduanya bertemu, ketika<br />
sedang memindahkan satu karung ke masing-masing lumbung saudaranya.<br />
Di saat itulah mereka sadar, dan saling menangis, berpelukan. Mereka<br />
tahu, dalam diam, ada cinta yang sangat dalam yang selama ini menjaga<br />
persaudaraan mereka. Ada harta, yang justru menjadi perekat cinta,<br />
bukan perusak. Demikianlah jika bersaudara.</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/beginilah-jika-bersaudara.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelajaran dari Seorang Gelandangan</title>
		<link>http://pengharapan.com/pelajaran-dari-seorang-gelandangan.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/pelajaran-dari-seorang-gelandangan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Nov 2010 01:09:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[gelandangan]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[menilai]]></category>
		<category><![CDATA[pelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[pendeta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=693</guid>
		<description><![CDATA[Hari itu, hari Minggu yang dingin di musim gugur. Pelataran parkir menuju gereja sudah hampir penuh. Ketika aku keluar dari mobilku, aku melihat bahwa teman-temanku sesama anggota gereja saling berbisik-bisik sementara mereka berjalan menuju gereja.
Ketika aku hampir sampai, aku melihat seorang pria terbaring di dinding di luar gereja. Dia tergeletak sedemikian rupa seakan-akan dia sedang [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari itu, hari Minggu yang dingin di musim gugur. Pelataran parkir menuju gereja sudah hampir penuh. Ketika aku keluar dari mobilku, aku melihat bahwa teman-temanku sesama anggota gereja saling berbisik-bisik sementara mereka berjalan menuju gereja.<br />
Ketika aku hampir sampai, aku melihat seorang pria terbaring di dinding di luar gereja. Dia tergeletak sedemikian rupa seakan-akan dia sedang tidur. Dia mengenakan sebuah mantel panjang yang robek-robek dan sebuah topi di kepalanya, jatuh ke bawah menutupi wajahnya. Dia memakai sepatu yang kelihatannya sudah berumur 30 tahun, terlalu kecil untuk kakinya, dengan lubang disana sini, jarinya menyembul keluar.<br />
Kelihatannya pria ini seorang gelandangan yang tidak memiliki rumah (tuna wisma), dan sedang tertidur, sehingga aku terus berjalan ke pintu gereja.<span id="more-693"></span></p>
<p>Kami berkumpul selama beberapa menit, dan seseorang menyampaikan tentang pria yang terbaring di luar. Orang-orang mentertawakan dan berbisik-bisik membicarakan masalah ini tetapi tidak ada yang mau mengajak pria itu untuk masuk ke dalam, termasuk aku.<br />
Beberapa lama kemudian kebaktian dimulai. Kami semua menunggu Pendeta yang akan maju ke depan dan menyampaikan Firman Tuhan, ketika pintu gereja terbuka.<br />
Muncullah pria tunawisma itu berjalan di lorong gereja dengan kepala tertunduk.<br />
Semua orang menarik nafas dan berbisik-bisik dan terkejut.<br />
Pria itu terus berjalan dan akhirnya sampai di panggung, dia membuka topi dan mantelnya. Hatiku terguncang.<br />
Disana berdiri pendeta kami &#8230; dialah &#8220;gelandangan&#8221; itu.<br />
Tidak ada seorangpun yang berbicara.<br />
Pendeta mengambil Alkitabnya dan meletakkannya di mimbar.<br />
&#8220;Jemaat, saya kira tidak perlu bagi saya untuk mengatakan apa yang akan saya khotbahkan hari ini. Jika kamu terus menghakimi / menilai orang, kamu tidak akan punya waktu untuk mengasihi mereka.&#8221;</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/pelajaran-dari-seorang-gelandangan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rantai Kebaikan</title>
		<link>http://pengharapan.com/rantai-kebaikan.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/rantai-kebaikan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Oct 2010 06:11:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[Bryan Anderson.]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[kesulitan]]></category>
		<category><![CDATA[menolong]]></category>
		<category><![CDATA[pelayan]]></category>
		<category><![CDATA[rantai]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=604</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu hari seorang pria melihat seorang wanita lanjut usia sedang berdiri kebingungan di pinggir jalan. Meskipun hari agak gelap, pria itu dapat melihat bahwa sang nyonya sedang membutuhkan pertolongan. Maka pria itu menghentikan mobilnya di depan mobil Benz wanita itu dan keluar menghampirinya. Mobil Pontiac-nya masih menyala ketika pria itu mendekati sang nyonya.
Meskipun pria [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada suatu hari seorang pria melihat seorang wanita lanjut usia sedang berdiri kebingungan di pinggir jalan. Meskipun hari agak gelap, pria itu dapat melihat bahwa sang nyonya sedang membutuhkan pertolongan. Maka pria itu menghentikan mobilnya di depan mobil Benz wanita itu dan keluar menghampirinya. Mobil Pontiac-nya masih menyala ketika pria itu mendekati sang nyonya.</p>
<p>Meskipun pria itu tersenyum, wanita itu masih ketakutan. Tak ada seorangpun berhenti menolongnya selama beberapa jam ini. Apakah pria ini akan melukainya? Pria itu kelihatan tak baik. Ia kelihatan miskin dan kelaparan.</p>
<p>Sang pria dapat melihat bahwa wanita itu ketakutan, sementara berdiri di sana kedinginan. Ia mengetahui bagaimana perasaan wanita itu. Ketakutan itu membuat sang nyonya tambah kedinginan. Kata pria itu, “Saya di sini untuk menolong anda, Nyonya. masuk ke dalam mobil saja supaya anda merasa hangat! Ngomong-ngomong, nama saya Bryan Anderson.”<br />
<span id="more-604"></span><br />
Wah, sebenarnya ia hanya mengalami ban kempes, namun bagi wanita lanjut seperti dia, kejadian itu cukup buruk. Bryan merangkak ke bawah bagian sedan, mencari tempat untuk memasang dongkrak. Selama mendongkrak itu beberapa kali jari-jarinya membentur tanah. Segera ia dapat mengganti ban itu. Namun akibatnya ia jadi kotor dan tangannya terluka.</p>
<p>Ketika pria itu mengencangkan baut-baut roda ban, wanita itu menurunkan kaca mobilnya dan mencoba ngobrol dengan pria itu. Ia mengatakan kepada pria itu bahwa ia berasal dari St. Louis dan hanya sedang lewat di jalan ini. Ia sangat berutang budi atas pertolongan pria itu.</p>
<p>Bryan hanya tersenyum ketika ia menutup bagasi mobil wanita itu. Sang nyonya menanyakan berapa yang harus ia bayar sebagai ungkapan terima kasihnya. Berapapun jumlahnya tidak menjadi masalah bagi wanita kaya itu. Ia sudah membayangkan semua hal mengerikan yang mungkin terjadi seandainya pria itu tak menolongnya..</p>
<p>Bryan tak pernah berpikir untuk mendapat bayaran. Ia menolong orang lain tanpa pamrih. Ia biasa menolong orang yang dalam kesulitan, dan Tuhan mengetahui bahwa banyak orang telah menolong dirinya pada waktu yang lalu. Ia biasa menjalani kehidupan seperti itu, dan tidak pernah ia berbuat hal sebaliknya.</p>
<p>Pria itu mengatakan kepada sang nyonya bahwa seandainya ia ingin membalas kebaikannya, pada waktu berikutnya wanita itu melihat seseorang yang memerlukan bantuan, ia dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan kepada orang itu, dan Bryan menambahkan, “Dan ingatlah kepada saya.”</p>
<p>Bryan menunggu sampai wanita itu menyalakan mobilnya dan berlalu. Hari itu dingin dan membuat orang depresi, namun pria itu merasa nyaman ketika ia pulang ke rumah, menembus kegelapan senja.</p>
<p>Beberapa kilometer dari tempat itu sang nyonya melihat sebuah kafe kecil. Ia turun dari mobilnya untuk sekedar mencari makanan kecil, dan menghangatkan badan sebelum pulang ke rumah. Restoran itu nampak agak kotor. Di luar kafe itu ada dua pompa bensin yang sudah tua. Pemandangan di sekitar tempat itu sangat asing baginya.</p>
<p>Sang pelayan mendatangi wanita itu dan membawakan handuk bersih untuk mengelap rambut wanita itu yang basah. Pelayan itu tersenyum manis meskipun ia tak dapat menyembunyikan kelelahannya berdiri sepanjang hari. Sang nyonya melihat bahwa pelayan wanita itu sedang hamil hampir delapan bulan, namun pelayan itu tak membiarkan keadaan dirinya mempengaruhi sikap pelayanannya kepada para pelanggan restoran. Wanita lanjut itu heran bagaimana pelayan yang tidak punya apa-apa ini dapat memberikan suatu pelayanan yang baik kepada orang asing seperti dirinya. Dan wanita lanjut itu ingat kepada Bryan.</p>
<p>Setelah wanita itu menyelesaikan makanannya, ia membayar dengan uang kertas $100. Pelayan wanita itu dengan cepat pergi untuk memberi uang kembalian kepada wanita itu. Ketika kembali ke mejanya, sayang sekali wanita itu sudah pergi. Pelayan itu bingung kemana perginya wanita itu. Kemudian ia melihat sesuatu tertulis pada lap di meja itu.</p>
<p>Ada butiran air mata ketika pelayan itu membaca apa yang ditulis wanita itu: “Engkau tidak berutang apa-apa kepada saya. Saya juga pernah ditolong orang. Seseorang yang telah menolong saya, berbuat hal yang sama seperti yang saya lakukan. Jika engkau ingin membalas kebaikan saya, inilah yang harus engkau lakukan: ‘Jangan biarkan rantai kasih ini berhenti padamu.’ Di bawah lap itu terdapat empat lembar uang kertas $ 100 lagi.</p>
<p>Wah, masih ada meja-meja yang harus dibersihkan, toples gula yang harus diisi, dan orang-orang yang harus dilayani, namun pelayan itu memutuskan untuk melakukannya esok hari saja. Malam itu ketika ia pulang ke rumah dan setelah semuanya beres ia naik ke ranjang. Ia memikirkan tentang uang itu dan apa yang telah ditulis oleh wanita itu. Bagaimana wanita baik hati itu tahu tentang berapa jumlah uang yang ia dan suaminya butuhkan? Dengan ke lahiran bayinya bulan depan, sangat sulit mendapatkan uang yang cukup.</p>
<p>Ia tahu betapa suaminya kuatir tentang keadaan mereka, dan ketika suaminya sudah tertidur di sampingnya, pelayan wanita itu memberikan ciuman lembut dan berbisik lembut dan pelan, “Segalanya akan beres. Aku mengasihimu, Bryan Anderson!”</p>
<p>Ada pepatah lama yang berkata, “Berilah maka engkau diberi.” Hari ini saya mengirimkan kisah menyentuh ini dan saya harapkan anda meneruskannya. Biarkan terang kehidupan kita bersinar. Jangan hapus kisah ini, jangan biarkan saja!</p>
<p>Kirimkan kepada teman-teman anda! Teman baik itu seperti bintang-bintang di langit. Anda tidak selalu dapat melihatnya, namun anda tahu mereka selalu ada. Tuhan memberkati anda!</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/rantai-kebaikan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membuat Perubahan</title>
		<link>http://pengharapan.com/membuat-perubahan.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/membuat-perubahan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Oct 2010 08:57:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[bu Hondrof]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[ketekunan]]></category>
		<category><![CDATA[percaya diri]]></category>
		<category><![CDATA[pertunjukan]]></category>
		<category><![CDATA[perubahan]]></category>
		<category><![CDATA[piano]]></category>
		<category><![CDATA[robby]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=558</guid>
		<description><![CDATA[Saya seorang mantan guru sekolah musik dari Des Moines, Iowa. Saya mendapat nafkah dengan mengajar piano &#8211; selama lebih dari 30 tahun. Selama itu, saya menyadari tiap anak punya kemampuan musik yang berbeda. Tapi saya tidak pernah merasa telah menolong walaupun saya telah mengajar beberapa murid berbakat.
Walaupun begitu, saya ingin bercerita tentang murid yang &#8220;tertantang [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya seorang mantan guru sekolah musik dari Des Moines, Iowa. Saya mendapat nafkah dengan mengajar piano &#8211; selama lebih dari 30 tahun. Selama itu, saya menyadari tiap anak punya kemampuan musik yang berbeda. Tapi saya tidak pernah merasa telah menolong walaupun saya telah mengajar beberapa murid berbakat.</p>
<p>Walaupun begitu, saya ingin bercerita tentang murid yang &#8220;tertantang secara musik&#8221;. Contohnya adalah Robby.</p>
<p>Robby berumur 11 tahun, ketika ibunya memasukkan dia dalam les untuk pertama kalinya. Saya lebih senang kalau murid (khususnya laki-laki) mulai ketika lebih muda, saya jelaskan itu pada Robby. Tapi Robby berkata, ibunya selalu ingin mendengar dia bermain piano. Jadi saya jadikan dia murid.<br />
<span id="more-558"></span>Robby memulai les pianonya dan dari awal saya pikir dia tidak ada harapan. Robby mencoba, tapi dia tak mempunyai perasaan nada maupun irama dasar yang perlu dipelajari. Tapi dia mempelajari benar-benar tangga nada dan beberapa pelajaran awal yang saya wajibkan untuk dipelajari semua murid.</p>
<p>Selama beberapa bulan, dia mencoba terus dan saya mendengarnya dengan ngeri dan terus mencoba menyemangatinya. Setiap akhir pelajaran mingguannya, dia berkata, &#8220;Ibu saya akan mendengar saya bermain pada suatu hari.&#8221;</p>
<p>Tapi rasanya sia-sia saja. Dia memang tak berkemampuan sejak lahir. Saya hanya mengetahui ibunya dari jauh ketika menurunkan Robby atau menjemput Robby. Dia hanya tersenyum dan melambaikan tangan tapi tidak pernah turun.</p>
<p>Pada suatu hari, Robby tidak datang lagi ke les kami. Saya berpikir untuk menghubunginya, tapi karena ketidakmampuannya, mungkin dia mau les yang lain saja. Saya juga senang dia tidak datang lagi. Dia menjadi iklan yang buruk untuk pengajaran saya!</p>
<p>Beberapa minggu sesudahnya, saya mengirimkan brosur ke tiap murid, mengenai pertunjukan yang akan dilaksanakan. Yang mengagetkan saya, Robby (yang juga menerima brosur) menanyakan saya apakah dia bisa ikut pertunjukan itu. Saya katakan kepadanya, pertunjukan itu untuk murid yang ada sekarang dan karena dia telah keluar, tentu dia tak bisa ikut. Dia katakan bahwa ibunya sakit sehingga tak bisa mengantarnya ke les, tapi dia tetap terus berlatih.</p>
<p>&#8220;Bu Hondrof.. saya mau main!&#8221; dia memaksa.</p>
<p>Saya tidak tahu apa yang membuat saya akhirnya membolehkan dia main di pertunjukan itu. Mungkin karena kegigihannya atau mungkin ada sesuatu yang berkata dalam hati saya bahwa dia akan baik-baik saja.</p>
<p>Malam pertunjukan datang. Aula itu dipenuhi dengan orang tua, teman, dan relasi. Saya menaruh Robby pada urutan terakhir sebelum saya ke depan untuk berterima kasih dan memainkan bagian terakhir. Saya rasa kesalahan yang dia buat akan terjadi pada akhir acara dan saya bisa menutupinya dengan permainan dari saya.</p>
<p>Pertunjukan itu berlangsung tanpa masalah. Murid-murid telah berlatih dan hasilnya bagus. Lalu Robby naik ke panggung. Bajunya kusut dan rambutnya bagaikan baru dikocok.</p>
<p>&#8220;Kenapa dia tak berpakaian seperti murid lainnya?&#8221; pikir saya. &#8220;Kenapa ibunya tidak menyisir rambutnya setidaknya untuk malam ini?&#8221;</p>
<p>Robby menarik kursi piano dan mulai. Saya terkejut ketika dia menyatakan bahwa dia telah memilih Mozart&#8217;s Concerto #21 in C Major. Saya tidak dapat bersiap untuk mendengarnya.</p>
<p>Jarinya ringan di tuts nada, bahkan menari dengan gesit. Dia berpindah dari pianossimo ke fortissimo&#8230; dari allegro ke virtuoso. Akord tergantungnya yang diinginkan Mozart sangat mengagumkan! Saya tak pernah mendengar lagu Mozart dimainkan orang seumur dia sebagus itu!</p>
<p>Setelah enam setengah menit, dia mengakhirinya dengan crescendo besar dan semua terpaku disana dengan tepuk tangan yang meriah. Dalam air mata, saya naik ke panggung dan memeluk Robby dengan sukacita.</p>
<p>&#8220;Saya belum pernah mendengar kau bermain seperti itu, Robby! Bagaimana kau melakukannya?&#8221;</p>
<p>Melalui pengeras suara Robby menjawab, &#8220;Bu Hondorf.. ingat saya berkata bahwa ibu saya sakit? Ya, sebenarnya dia sakit kanker dan dia telah berlalu pagi ini. Dan sebenarnya.. dia tuli sejak lahir jadi hari inilah dia pertama kali mendengar saya bermain. Saya ingin bermain secara khusus.&#8221;</p>
<p>Tidak ada satu pun mata yang kering malam itu. Ketika orang-orang dari Layanan sosial membawa Robby dari panggung ke ruang pemeliharaan, saya menyadari meskipun mata mereka merah dan bengkak, betapa hidup saya jauh lebih berarti karena mengambil Robby sebagai murid saya.</p>
<p>Tidak, saya tidak pernah menjadi penolong, tapi malam itu saya menjadi orang yang ditolong Robby. Dialah gurunya dan sayalah muridnya. Karena dialah yang mengajarkan saya arti ketekunan, kasih, percaya pada dirimu sendiri, dan bahkan mau memberi kesempatan pada seseorang yang tak anda ketahui mengapa.</p>
<p>Peristiwa ini semakin berarti ketika, setelah bermain di Desert Storm, Robby terbunuh oleh pengeboman yang tak masuk akal oleh Alfred P. Murrah Federal Building di Oklahoma pada April 1995, ketika dilaporkan&#8230; dia sedang main piano.</p>
<p>Kita semua mempunyai ribuan kesempatan tiap hari untuk menyadari rencana Tuhan. Banyak sekali interaksi antara dua orang memberi kita suatu pilihan: Apakah kita meneruskan percikan Ilahi? Atau kita membiarkan kesempatan itu, dan membiarkan dunia semakin dingin dalam prosesnya?</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/membuat-perubahan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

