<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pengharapan.com &#187; kebaikan</title>
	<atom:link href="http://pengharapan.com/tag/kebaikan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pengharapan.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 20 May 2012 02:21:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Gadis Pembawa Apel</title>
		<link>http://pengharapan.com/gadis-pembawa-apel.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/gadis-pembawa-apel.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Apr 2011 01:00:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[apel]]></category>
		<category><![CDATA[gadis]]></category>
		<category><![CDATA[kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[ketulusan]]></category>
		<category><![CDATA[membawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=1091</guid>
		<description><![CDATA[Kisah Herman Rosenblat, Miami Beach, Florida.
Bulan Agustus 1942, di Piotrkow, Polandia.
Langit mendung pagi itu ketika kami menunggu dengan gelisah. Semua pria, wanita dan anak-anak dari perkampungan Yahudi Piotrokow telah digiring ke arah sebuah lapangan. Menurut kabar yang terdengar, kami akan dipindahkan. Ayahku baru saja meninggal karena penyakit tifus, yang berjangkit dengan ganas di perkampungan yang [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Kisah Herman Rosenblat, Miami Beach, Florida.<br />
Bulan Agustus 1942, di Piotrkow, Polandia.</p>
<p style="text-align: justify;">Langit mendung pagi itu ketika kami menunggu dengan gelisah. Semua pria, wanita dan anak-anak dari perkampungan Yahudi Piotrokow telah digiring ke arah sebuah lapangan. Menurut kabar yang terdengar, kami akan dipindahkan. Ayahku baru saja meninggal karena penyakit tifus, yang berjangkit dengan ganas di perkampungan yang padat ini. Ketakutanku yang paling besar adalah apabila keluarga kami dipisahkan.<br />
&#8220;Apapun yang kamu lakukan,&#8221; Isidore, kakakku yang tertua, berbisik,<br />
&#8220;jangan sebutkan umurmu yang sebenarnya. Katakan saja kamu enam belas tahun!&#8221;<br />
Aku termasuk anak lelaki yang tinggi untuk umur 11 tahun, sehingga aku dapat menuakan diri. Mungkin dengan cara ini aku dianggap menjadi pekerja yang berguna.</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang serdadu Nazi menghampiriku, derap sepatu boot-nya menghentak di bebatuan. Ia memandangku dari atas ke bawah, kemudian menanyakan umurku. &#8220;Enam belas,&#8221; jawabku. Ia menyuruhku ke sisi kiri, dimana tiga kakakku dan para pria lain yang sehat sudah berbaris.<br />
<span id="more-1091"></span><br />
Ibuku dikumpulkan di sebelah kanan bersama para wanita lain, anak-anak, orang-orang sakit dan orang-orang tua. Aku berbisik kepada Isidore, &#8220;Kenapa?&#8221; tanyaku. Ia tidak menjawab. Aku berlari ke arah mama dan berkata bahwa aku ingin ikut dengannya.<br />
&#8220;Jangan!&#8221; katanya dengan tegas. &#8220;Pergilah. Jangan mengganggu. Pergilah bersama kakak-kakakmu.&#8221; Ibu tak pernah berkata dengan keras seperti itu sebelumnya. Tetapi aku mengerti. Ia sedang melindungiku. Ia mengasihiku sedemikian besar, sehingga kali ini ia berpura-pura sebaliknya. Itulah kali terakhir aku melihat ibu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kakak-kakakku dan aku sendiri dipindahkan dalam truk ternak ke Jerman. Kami tiba di Kamp Konsentrasi Buchenwald pada malam hari seminggu kemudian dan kami digiring ke sebuah barak yang sesak. Hari berikutnya, kami diberi pakaian seragam dan nomor pengenal. &#8220;Jangan panggil aku Herman lagi.&#8221; kataku kepada kakak-kakakku. &#8220;Panggil saja si 94983&#8243;.<br />
Aku ditugaskan untuk bekerja di bagian krematorium di kamp itu, mengangkut jenazah ke dalam elevator yang digerakkan tangan. Aku juga merasa sudah mati. Hatiku beku, aku telah menjadi sebuah angka belaka.</p>
<p style="text-align: justify;">Segera aku dan kakak-kakakku dikirim ke Schlieben, salah satu cabang kamp Buchenwald, dekat Berlin.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu pagi aku pikir aku mendengar suara ibuku. &#8220;Nak,&#8221; Katanya dengan lembut namun jelas, &#8220;aku mengirimkan kepadamu seorang malaikat.&#8221; Kemudian aku bangun. Cuma mimpi. Mimpi yang indah. Namun di tempat seperti ini mana ada malaikat? Yang ada hanya bekerja dan kelaparan dan ketakutan.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa hari kemudian, aku sedang berjalan-jalan keliling kamp, di belakang barak-barak, dekat pagar yang beraliran listrik dimana para penjaga tidak mudah melihat. Aku sendirian. Di seberang pagar itu, aku melihat seseorang:<br />
seorang gadis muda dengan rambut ikal yang berkilauan. Ia setengah bersembunyi di belakang pohon murad. Aku melihat ke sekeliling untuk memastikan tidak ada orang lain yang melihatku.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku memanggilnya pelan-pelan dalam bahasa Jerman. &#8220;Apakah kamu punya makanan?&#8221; Ia tidak mengerti. Aku bergeser sedikit ke arah pagar dan mengulangi pertanyaan tadi dalam bahasa Polandia. Ia melangkah maju. Aku kurus kering, dengan kain rombeng menutup sekeliling kakiku, namun gadis itu nampak tidak ketakutan. Di matanya kulihat kehidupan. Ia mengambil sebutir apel dari jaket wolnya dan melemparkannya ke arah pagar. Aku menangkap buah itu, dan begitu aku akan berlari menjauh, aku mendengar perkataannya yang lemah, &#8220;Aku akan ketemu kamu lagi besok.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku kembali lagi ke tempat yang sama dekat pagar itu pada waktu yang sama setiap hari. Ia selalu ada di sana dengan makanan buatku:  sepotong roti atau, lebih bagus lagi, sebutir apel. Kami tidak berani ngobrol atau berlama-lama. Kalau kami tertangkap, kami bisa mati. Aku tidak mengenal gadis itu, ia cuma gadis desa, kecuali bahwa ia mengerti bahasa Polandia. Siapa namanya? Mengapa ia mempertaruhkan nyawanya bagiku? Aku selalu berharap akan pemberian makanannya yang dilemparkan gadis ini dari seberang pagar, sebagai makanan yang menyehatkan dalam bentuk roti dan apel.</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir tujuh bulan kemudian, kakak-kakakku dan aku dimuat ke dalam sebuah kereta batu bara dan dikapalkan ke kamp Theresienstadt di Cekoslovakia.<br />
&#8220;Jangan datang lagi,&#8221; kataku kepada gadis itu. &#8220;Kami akan pergi besok.&#8221;<br />
Aku berbalik menuju barak-barak dan tak menoleh ke belakang lagi, bahkan aku juga tidak mengatakan selamat tinggal kepada gadis yang aku tak tahu namanya, gadis pembawa apel itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami berada di Theresienstadt selama tiga bulan. Perang mulai mereda dan pasukan Sekutu mulai mendekat, namun nasibku rupanya sudah ditentukan. Pada tanggal 10 Mei, 1945, aku sudah dijadwalkan untuk mati di kamar gas pada jam 10 pagi. Di dalam ketenangan fajar pagi hari, aku berusaha mempersiapkan diriku. Begitu sering kematian nampaknya sudah siap menjemputku, namun agaknya aku selalu selamat. Kini, semuanya sudah selesai. Aku memikirkan orangtuaku. Paling tidak, aku pikir kami akan dipertemukan di akhirat.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada jam 8 pagi ada keributan. Aku mendengar teriakan, dan melihat orang-orang Berlarian ke segala arah ke luar kamp. Aku pergi bersama kakak-kakakku. Pasukan Rusia telah membebaskan kamp ini! Pintu kamp terbuka lebar. Setiap orang berlarian, begitu juga aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara mengherankan, semua kakak-kakakku selamat. Aku tidak tahu bagaimana caranya. Namun aku tahu bahwa gadis pemberi apel itu telah menjadi kunci bagi kelangsungan hidupku. Di tempat yang nampaknya kejahatan merajalela, kebaikan seseorang telah menyelamatkan hidupku, telah memberiku harapan di tempat dimana tidak ada harapan. Ibuku telah berjanji mengirimkan seorang malaikat, dan malaikat itu telah datang.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya aku mencapai Inggris dimana aku disponsori oleh sebuah yayasan Yahudi, diinapkan di sebuah hotel dengan para pemuda lain yang telah selamat dari Pembantaian Massal dan dilatih di bidang elektronika. Kemudian aku pergi ke Amerika, dimana kakakku Sam telah lebih dahulu pindah. Aku masuk dinas ketentaraan Amerika Serikat selama Perang Korea, dan kembali ke Kota New York setelah dua tahun. Pada bulan Agustus 1957 aku membuka toko servis elektronika milikku sendiri. Aku mulai hidup menetap.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada suatu hari, temanku Sid, yang aku kenal di Inggris, menelponku. &#8220;Aku punya teman kencan. Gadis ini punya kenalan seorang Polandia. Yuk, kita ajak kencan mereka berdua.&#8221; Kencan buta? Tidak, bukan untukku. Namun Sid terus mendesakku, dan beberapa hari kemudian kami pergi menuju Bronx untuk menjemput teman kencannya dan temannya Roma. Aku harus mengakui bahwa, untuk kencan buta seperti ini tidaklah terlalu buruk. Roma adalah seorang perawat di RS Bronx. Ia gadis yang baik dan cerdas. Juga cantik dengan rambut ikal yang cokelat, dan dengan bola mata hijau seperti buah badam yang berkilauan dengan kehidupan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami berempat pergi ke Pulau Coney. Roma adalah gadis yang mudah diajak berbicara, enak diajak bergaul. Ia juga ternyata bosan dengan kencan buta! Kami berdua hanya menolong para sahabat kami. Kami berjalan-jalan di sepanjang pantai, menikmati hembusan angin sepoi-sepoi yang bertiup dari Samudera Atlantik, dan kemudian makan malam di pantai. Aku tak dapat mengingat saat yang lebih indah lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kami semua bergegas menuju mobil Syd, aku dan Roma duduk di kursi belakang. Sebagai seorang Yahudi Eropa yang telah selamat dari perang, kami menyadari bahwa banyak hal yang belum kami bicarakan di antara kami. Ia memulai topik itu ketika ia bertanya, &#8220;Dimana kamu,&#8221; tanyanya lembut, &#8220;ketika perang?&#8221;. &#8220;Di kamp,&#8221; kataku, sambil mengingat kenangan mengerikan yang masih jelas terekam, kehilangan keluarga yang tak terpulihkan. Aku telah berjuang untuk melupakannya. Namun kita tak dapat melupakannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia mengangguk. &#8220;Keluargaku bersembunyi di sebuah peternakan di Jerman, tak jauh dari Berlin,&#8221; katanya kepadaku. &#8220;Ayahku mengenal seorang pendeta, Dan ia memberikan kami dokumen-dokumen keturunan Jerman.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dapat membayangkan betapa ia harus menanggung penderitaan juga, ketakutan yang selalu menyertai. Dan sekarang di sinilah kami, berdua selamat, di dunia yang baru. &#8220;Di sana ada sebuah kamp di dekat peternakan itu.&#8221; Roma melanjutkan. &#8220;Aku melihat seorang anak laki-laki dan aku melemparkan apel kepadanya setiap hari.&#8221; Kebetulan yang sangat mengherankan kalau ia menolong anak lelaki lain. &#8220;Seperti apa rupa anak lelaki itu?&#8221; tanyaku. &#8220;Ia tinggi, kurus, kelaparan. Aku pasti menemuinya setiap hari selama enam bulan.&#8221; Hatiku berdetak kencang. Aku tak dapat mempercayainya! Mustahil. &#8220;Apakah ia mengatakan kepadamu pada suatu hari bahwa kamu tidak perlu menemuinya lagi karena ia harus meninggalkan Schlieben?&#8221; Roma menatapku dengan heran.<br />
&#8220;Ya.&#8221;<br />
&#8220;Dialah aku!&#8221; Aku meluap dengan sukacita dan keheranan, perasaanku berkecamuk hebat.<br />
Aku tak percaya. Malaikatku!</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Aku tak akan membiarkanmu pergi.&#8221; kataku kepada Roma. Dan di kursi belakang mobil itu dalam suasana kencan buta, aku melamar Roma. Aku tidak ingin menunggu lagi.<br />
&#8220;Kamu gila ya!&#8221; katanya tertawa. Namun ia mengajakku menemui orangtuanya dalam suatu makan malam Sabat pada minggu berikutnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak hal yang ingin kuketahui tentang Roma, namun hal yang paling penting aku Ketahui: keteguhan hatinya, kebaikannya. Selama beberapa bulan, di dalam keadaan yang terburuk, ia selalu datang ke pagar dan memberikanku pengharapan. Sekarang aku telah menemukannya lagi, aku tidak akan pernah membiarkannya pergi. Pada hari itu, ia menyetujui lamaranku. Dan aku selalu setia pada janjiku. Setelah hampir lima puluh tahun perkimpoian kami, dengan dua orang anak dan tiga cucu, aku tidak pernah membiarkannya pergi.</p>
<p style="text-align: justify;">sumber http://www.kaskus.us/showthread.php?t=913612﻿</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/gadis-pembawa-apel.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apa Yang Kita Sombongkan ?</title>
		<link>http://pengharapan.com/apa-yang-kita-sombongkan.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/apa-yang-kita-sombongkan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Dec 2010 01:39:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[kecerdasan]]></category>
		<category><![CDATA[materi]]></category>
		<category><![CDATA[melawan]]></category>
		<category><![CDATA[merasa lebih]]></category>
		<category><![CDATA[muncul]]></category>
		<category><![CDATA[sombong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=878</guid>
		<description><![CDATA[Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya  bercucuran deras.
Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, &#8220;Apa yang sedang Anda lakukan?&#8221; Sang Guru menjawab, &#8220;Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya  bercucuran deras.</p>
<p>Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, &#8220;Apa yang sedang Anda lakukan?&#8221; Sang Guru menjawab, &#8220;Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka. Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya.&#8221;<span id="more-878"></span><br />
Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari.</p>
<p>Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.</p>
<p>Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.</p>
<p>Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain. Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya.</p>
<p>Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita. Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence) . Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.</p>
<p>Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi. Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan. Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati.</p>
<p>Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong.</p>
<p>Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala &#8220;tampak luar&#8221; lainnya. Yang kini kita lihat adalah &#8220;tampak dalam&#8221;. Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego. Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri. Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam.</p>
<p>Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan ?</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/apa-yang-kita-sombongkan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Letak Kekuatan</title>
		<link>http://pengharapan.com/letak-kekuatan.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/letak-kekuatan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Nov 2010 01:18:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[kedamaian]]></category>
		<category><![CDATA[kekuatan]]></category>
		<category><![CDATA[kelemah lembutan]]></category>
		<category><![CDATA[kesabaran]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[letak]]></category>
		<category><![CDATA[masalah]]></category>
		<category><![CDATA[murah hati]]></category>
		<category><![CDATA[penguasaan diri]]></category>
		<category><![CDATA[tawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=740</guid>
		<description><![CDATA[Ada kekuatan di dalam cinta, dan orang yang sanggup memberikan cinta adalah
orang yang kuat, karena ia bisa mengalahkan keinginannya untuk mementingkan
diri sendiri.
Ada kekuatan dalam tawa kegembiraan, dan orang tertawa gembira adalah orang
yang kuat, karena ia tidak pernah terlarut dengan tantangan dan cobaan.
Ada kekuatan di dalam kedamaian diri, dan orang yang dirinya penuh damai
bahagia adalah orang [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada kekuatan di dalam cinta, dan orang yang sanggup memberikan cinta adalah<br />
orang yang kuat, karena ia bisa mengalahkan keinginannya untuk mementingkan<br />
diri sendiri.</p>
<p>Ada kekuatan dalam tawa kegembiraan, dan orang tertawa gembira adalah orang<br />
yang kuat, karena ia tidak pernah terlarut dengan tantangan dan cobaan.</p>
<p>Ada kekuatan di dalam kedamaian diri, dan orang yang dirinya penuh damai<br />
bahagia adalah orang yang kuat, karena ia tidak pernah tergoyahkan dan tidak<br />
mudah diombang-ambingkan.<span id="more-740"></span><br />
Ada kekuatan di dalam kesabaran, dan orang yang sabar adalah orang yang<br />
kuat, karena ia sanggup menanggung segala sesuatu dan ia tidak pernah merasa<br />
disakiti.</p>
<p>Ada kekuatan di dalam kemurahan, dan orang yang murah hati adalah orang yang<br />
kuat, karena ia tidak pernah menahan mulut dan tangannya untuk melakukan<br />
yang baik bagi sesamanya.</p>
<p>Ada kekuatan di dalam kebaikan, dan orang yang baik adalah orang yang kuat,<br />
karena ia bisa selalu mampu melakukan yang baik bagi semua orang.</p>
<p>Ada kekuatan di dalam kesetiaan, dan orang yang setia adalah orang yang kuat<br />
karena ia bisa mengalahkan nafsu dan keinginan pribadi dengan kesetiaannya<br />
kepada Allah dan sesama.</p>
<p>Ada kekuatan di dalam kelemah-lembutan, dan orang yang lemah lembut adalah<br />
orang yang kuat, karena ia bisa menahan diri untuk tidak membalas dendam.</p>
<p>Ada kekuatan di dalam penguasaan diri, dan orang yang bisa menguasai diri<br />
adalah orang yang kuat, karena ia bisa mengendalikan segala nafsu<br />
keduniawian.</p>
<p>Disitulah semua letak-letak dimana Kekuatan Sejati berada&#8230;.</p>
<p>Dan sadarlah bahwa kalian juga memiliki cukup kekuatan untuk mengatasi<br />
segala masalah kalian. Dimanapun juga, seberat dan serumit apapun juga.</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/letak-kekuatan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rantai Kebaikan</title>
		<link>http://pengharapan.com/rantai-kebaikan.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/rantai-kebaikan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Oct 2010 06:11:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[Bryan Anderson.]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[kesulitan]]></category>
		<category><![CDATA[menolong]]></category>
		<category><![CDATA[pelayan]]></category>
		<category><![CDATA[rantai]]></category>
		<category><![CDATA[wanita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=604</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu hari seorang pria melihat seorang wanita lanjut usia sedang berdiri kebingungan di pinggir jalan. Meskipun hari agak gelap, pria itu dapat melihat bahwa sang nyonya sedang membutuhkan pertolongan. Maka pria itu menghentikan mobilnya di depan mobil Benz wanita itu dan keluar menghampirinya. Mobil Pontiac-nya masih menyala ketika pria itu mendekati sang nyonya.
Meskipun pria [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada suatu hari seorang pria melihat seorang wanita lanjut usia sedang berdiri kebingungan di pinggir jalan. Meskipun hari agak gelap, pria itu dapat melihat bahwa sang nyonya sedang membutuhkan pertolongan. Maka pria itu menghentikan mobilnya di depan mobil Benz wanita itu dan keluar menghampirinya. Mobil Pontiac-nya masih menyala ketika pria itu mendekati sang nyonya.</p>
<p>Meskipun pria itu tersenyum, wanita itu masih ketakutan. Tak ada seorangpun berhenti menolongnya selama beberapa jam ini. Apakah pria ini akan melukainya? Pria itu kelihatan tak baik. Ia kelihatan miskin dan kelaparan.</p>
<p>Sang pria dapat melihat bahwa wanita itu ketakutan, sementara berdiri di sana kedinginan. Ia mengetahui bagaimana perasaan wanita itu. Ketakutan itu membuat sang nyonya tambah kedinginan. Kata pria itu, “Saya di sini untuk menolong anda, Nyonya. masuk ke dalam mobil saja supaya anda merasa hangat! Ngomong-ngomong, nama saya Bryan Anderson.”<br />
<span id="more-604"></span><br />
Wah, sebenarnya ia hanya mengalami ban kempes, namun bagi wanita lanjut seperti dia, kejadian itu cukup buruk. Bryan merangkak ke bawah bagian sedan, mencari tempat untuk memasang dongkrak. Selama mendongkrak itu beberapa kali jari-jarinya membentur tanah. Segera ia dapat mengganti ban itu. Namun akibatnya ia jadi kotor dan tangannya terluka.</p>
<p>Ketika pria itu mengencangkan baut-baut roda ban, wanita itu menurunkan kaca mobilnya dan mencoba ngobrol dengan pria itu. Ia mengatakan kepada pria itu bahwa ia berasal dari St. Louis dan hanya sedang lewat di jalan ini. Ia sangat berutang budi atas pertolongan pria itu.</p>
<p>Bryan hanya tersenyum ketika ia menutup bagasi mobil wanita itu. Sang nyonya menanyakan berapa yang harus ia bayar sebagai ungkapan terima kasihnya. Berapapun jumlahnya tidak menjadi masalah bagi wanita kaya itu. Ia sudah membayangkan semua hal mengerikan yang mungkin terjadi seandainya pria itu tak menolongnya..</p>
<p>Bryan tak pernah berpikir untuk mendapat bayaran. Ia menolong orang lain tanpa pamrih. Ia biasa menolong orang yang dalam kesulitan, dan Tuhan mengetahui bahwa banyak orang telah menolong dirinya pada waktu yang lalu. Ia biasa menjalani kehidupan seperti itu, dan tidak pernah ia berbuat hal sebaliknya.</p>
<p>Pria itu mengatakan kepada sang nyonya bahwa seandainya ia ingin membalas kebaikannya, pada waktu berikutnya wanita itu melihat seseorang yang memerlukan bantuan, ia dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan kepada orang itu, dan Bryan menambahkan, “Dan ingatlah kepada saya.”</p>
<p>Bryan menunggu sampai wanita itu menyalakan mobilnya dan berlalu. Hari itu dingin dan membuat orang depresi, namun pria itu merasa nyaman ketika ia pulang ke rumah, menembus kegelapan senja.</p>
<p>Beberapa kilometer dari tempat itu sang nyonya melihat sebuah kafe kecil. Ia turun dari mobilnya untuk sekedar mencari makanan kecil, dan menghangatkan badan sebelum pulang ke rumah. Restoran itu nampak agak kotor. Di luar kafe itu ada dua pompa bensin yang sudah tua. Pemandangan di sekitar tempat itu sangat asing baginya.</p>
<p>Sang pelayan mendatangi wanita itu dan membawakan handuk bersih untuk mengelap rambut wanita itu yang basah. Pelayan itu tersenyum manis meskipun ia tak dapat menyembunyikan kelelahannya berdiri sepanjang hari. Sang nyonya melihat bahwa pelayan wanita itu sedang hamil hampir delapan bulan, namun pelayan itu tak membiarkan keadaan dirinya mempengaruhi sikap pelayanannya kepada para pelanggan restoran. Wanita lanjut itu heran bagaimana pelayan yang tidak punya apa-apa ini dapat memberikan suatu pelayanan yang baik kepada orang asing seperti dirinya. Dan wanita lanjut itu ingat kepada Bryan.</p>
<p>Setelah wanita itu menyelesaikan makanannya, ia membayar dengan uang kertas $100. Pelayan wanita itu dengan cepat pergi untuk memberi uang kembalian kepada wanita itu. Ketika kembali ke mejanya, sayang sekali wanita itu sudah pergi. Pelayan itu bingung kemana perginya wanita itu. Kemudian ia melihat sesuatu tertulis pada lap di meja itu.</p>
<p>Ada butiran air mata ketika pelayan itu membaca apa yang ditulis wanita itu: “Engkau tidak berutang apa-apa kepada saya. Saya juga pernah ditolong orang. Seseorang yang telah menolong saya, berbuat hal yang sama seperti yang saya lakukan. Jika engkau ingin membalas kebaikan saya, inilah yang harus engkau lakukan: ‘Jangan biarkan rantai kasih ini berhenti padamu.’ Di bawah lap itu terdapat empat lembar uang kertas $ 100 lagi.</p>
<p>Wah, masih ada meja-meja yang harus dibersihkan, toples gula yang harus diisi, dan orang-orang yang harus dilayani, namun pelayan itu memutuskan untuk melakukannya esok hari saja. Malam itu ketika ia pulang ke rumah dan setelah semuanya beres ia naik ke ranjang. Ia memikirkan tentang uang itu dan apa yang telah ditulis oleh wanita itu. Bagaimana wanita baik hati itu tahu tentang berapa jumlah uang yang ia dan suaminya butuhkan? Dengan ke lahiran bayinya bulan depan, sangat sulit mendapatkan uang yang cukup.</p>
<p>Ia tahu betapa suaminya kuatir tentang keadaan mereka, dan ketika suaminya sudah tertidur di sampingnya, pelayan wanita itu memberikan ciuman lembut dan berbisik lembut dan pelan, “Segalanya akan beres. Aku mengasihimu, Bryan Anderson!”</p>
<p>Ada pepatah lama yang berkata, “Berilah maka engkau diberi.” Hari ini saya mengirimkan kisah menyentuh ini dan saya harapkan anda meneruskannya. Biarkan terang kehidupan kita bersinar. Jangan hapus kisah ini, jangan biarkan saja!</p>
<p>Kirimkan kepada teman-teman anda! Teman baik itu seperti bintang-bintang di langit. Anda tidak selalu dapat melihatnya, namun anda tahu mereka selalu ada. Tuhan memberkati anda!</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/rantai-kebaikan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lihatlah Dengan Kasih</title>
		<link>http://pengharapan.com/lihatlah-dengan-kasih.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/lihatlah-dengan-kasih.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jul 2010 08:39:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[hati]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[margaret]]></category>
		<category><![CDATA[pekerjaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=317</guid>
		<description><![CDATA[Seperti ribuan remaja lainnya, Margaret sedang berusaha mendapatkan suatu pekerjaan. Dia membaca tentang adanya lowongan kerja di sebuah pabrik,dan dia merencanakan untuk pergi ke sana.
Hari itu angin keras &#38; hujan turun deras. Di dalam bis, margaret melihat ada beberapa gadis yg lebih cantik &#38; berpakaian lebih baik dari dirinya. Mereka turun dari bis di tempat [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">Seperti ribuan remaja lainnya, Margaret sedang berusaha mendapatkan suatu pekerjaan. Dia membaca tentang adanya lowongan kerja di sebuah pabrik,dan dia merencanakan untuk pergi ke sana.</div>
<div>Hari itu angin keras &amp; hujan turun deras. Di dalam bis, margaret melihat ada beberapa gadis yg lebih cantik &amp; berpakaian lebih baik dari dirinya. Mereka turun dari bis di tempat yg sama. Rupanya mereka juga ingin melamar bekerja di situ juga. &#8220;Ya Tuhan..&#8221; Margaret berdoa dalam hati, &#8220;bantulah saya. Keluarga saya sangat membutuhkan uang.&#8221;</div>
<div>Tepat pada saat itu, seorang wanita setengah baya turun dari bis, dan tergelincir jatuh di trotoar. Anak2 gadis itu melirik ke arahnya tetapi terus berjalan. Wanita itu tampak pusing. Topi, kaca mata, dan dompetnya tergeletak di kakinya. Untuk beberapa saat Margaret ragu2. Jika dia membantunya, anak2 gadis itu akan lebih cepat memasukkan lamaran kerja mereka daripada dia.</div>
<div id="_mcePaste"><span id="more-317"></span></div>
<div>Dia merasa bahwa dia tidak punya kesempatan. Tiba2 nasehat ibunya terus menerus bergema di pikirannya &#8220;Lihatlah segala sesuatu dengan Kasih &amp; Kebaikan hati&#8221; Margaret berhenti dan membantu wanita itu berdiri dan memungut semua barang miliknya.</div>
<div>&#8220;Bisakah kamu membantu saya ke kantor?&#8221; pinta wanita itu. &#8220;Saya merasa agak gemetar.&#8221; Mereka pun berjalan sangat perlahan2 ke pabrik. Margaret memberitahu wanita itu bahwa dia datang untuk melamar pekerjaan. Ketika mereka sampai di kantor pabrik itu, nyonya itu berterima kasih kepadanya dan masuk ke aula. Beberapa saat kemudian, Margaret diantar ke kantor manajer dan ia melihat bahwa nyonya yg baru saja pergi itu sedang duduk di sana.</div>
<div>Nyonya itu berkata kepadanya, &#8220;Saya telah menunggumu,&#8221; katanya. &#8220;lowongan yg ada adalah sebagai resepsionis. Seorang gadis cerdas yg penuh perhatian sepertimu memenuhi syarat untuk pekerjaan itu.&#8221; Margaret lalu diterima bekerja di kantor pabrik itu.</div>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/lihatlah-dengan-kasih.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Delapan Kebohongan Seorang Ibu Selama Hidupnya</title>
		<link>http://pengharapan.com/delapan-kebohongan-seorang-ibu-selama-hidupnya.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/delapan-kebohongan-seorang-ibu-selama-hidupnya.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jun 2010 04:59:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kebaikan]]></category>
		<category><![CDATA[kebohongan]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[pengorbanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=203</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.</div>
<div></div>
<div>Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata: &#8220;Makanlah nak, aku tidak lapar&#8221; &#8212;&#8212;&#8212;- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA</div>
<div></div>
<div>Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sendokku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : &#8220;Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan&#8221; &#8212;&#8212;&#8212;- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA</div>
<div><span id="more-203"></span></div>
<div>Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :&#8221;Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.&#8221; Ibu tersenyum dan berkata :&#8221;Cepatlah tidur nak, aku tidak capek&#8221; &#8212;&#8212;&#8212;- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA</div>
<div></div>
<div>Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :&#8221;Minumlah nak, aku tidak haus!&#8221; &#8212;&#8212;&#8212;- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT</div>
<div></div>
<div>Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : &#8220;Saya tidak butuh cinta&#8221; &#8212;&#8212;&#8212;- KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA</div>
<div></div>
<div>Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : &#8220;Saya punya duit&#8221; &#8212;&#8212;&#8212;- KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM</div>
<div></div>
<div>Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku &#8220;Aku tidak terbiasa&#8221; &#8212;&#8212;&#8212;- KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH</div>
<div></div>
<div>Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : &#8220;jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan&#8221; &#8212;&#8212;&#8212;- KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.</div>
<div>Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.</div>
<div></div>
<div>Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : &#8221; Terima kasih ibu !&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.</div>
<div></div>
<div>Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita.</div>
<div id="_mcePaste">Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi..</div>
<div></div>
<div>Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata &#8220;MENYESAL&#8221; di kemudian hari.</div>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/delapan-kebohongan-seorang-ibu-selama-hidupnya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

