<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pengharapan.com &#187; kehidupan</title>
	<atom:link href="http://pengharapan.com/tag/kehidupan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pengharapan.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Feb 2012 12:52:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Nilai Kehidupan</title>
		<link>http://pengharapan.com/nilai-kehidupan-2.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/nilai-kehidupan-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Apr 2011 00:24:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[berfikir positif]]></category>
		<category><![CDATA[bersyukur]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[menghargai]]></category>
		<category><![CDATA[optimis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=1137</guid>
		<description><![CDATA[Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan  rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya  raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati  kesehariannya dengan baik.
Pada suatu ketika, si pemuda merasa  jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya  hidup di dunia [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align: justify;"><!-- .fullpost { display: inline; } -->Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan  rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya  raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati  kesehariannya dengan baik.</p>
<p>Pada suatu ketika, si pemuda merasa  jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya  hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap  nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda  itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.</p>
<p>&#8220;Daripada  tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku  mengakhiri saja kehidupan ini,&#8221; katanya dalam hati. Disiapkannya seutas  tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon.<span id="more-1137"></span></p>
<p>Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti  itu, tiba-tiba menyela lembut. &#8220;Anak muda yang tampan dan baik hati,  tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini.  Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang  hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di  sekitar sini.&#8221;</p>
<p>Dengan bersungut-sungut, si pemuda pergi  melanjutkan memilih pohon yang lain, tidak jauh dari situ. Saat  bersiap-siap, kembali terdengar suara lirih si pohon, &#8220;Hai anak muda.  Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon yang sedang dikerjakan oleh  begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin. Jika kamu mau bunuh diri,  silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah dan manusia yang telah  bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati hasilnya.&#8221;</p>
<p>Sekali  lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon  yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, &#8220;Anak muda, karena  rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk  sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan  mati di sini.&#8221;</p>
<p>Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda  termenung dan berpikir, &#8220;Bahkan sebatang pohonpun begitu menghargai  kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak  terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat  bagi makhluk lain&#8221;.</p>
<p>Segera timbul kesadaran baru. &#8220;Aku manusia;  masih muda, kuat, dan sehat. Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku  sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya cita-cita dan akan bekerja  dengan baik untuk bisa pula bermanfaat bagi makhluk lain&#8221;.</p>
<p>Si  pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.</p>
<p><strong>=====================================================</strong></p>
<p>Kalau  kita mengisi kehidupan ini dengan menggerutu, mengeluh, dan pesimis,  tentu kita menjalani hidup ini (dengan) terasa terbeban dan saat tidak  mampu lagi menahan akan memungkinkan kita mengambil jalan pintas yaitu  bunuh diri.</p>
<p>Sebaliknya, kalau kita mampu menyadari sebenarnya  kehidupan ini begitu indah dan menggairahkan, tentu kita akan menghargai  kehidupan ini. Kita akan mengisi kehidupan kita, setiap hari penuh  dengan optimisme, penuh harapan dan cita-cita yang diperjuangkan, serta  mampu bergaul dengan manusia-manusia lainnya.</p>
<p>Maka, <strong>jangan  melayani perasaan negatif. Usir segera. Biasakan memelihara pikiran  positif, sikap positif, dan tindakan positif. Dengan demikian kita akan  menjalani kehidupan ini penuh dengan syukur, semangat, dan sukses luar  biasa</strong>!</p>
<p>Sumber : andriewongso.com</p>
</div>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/nilai-kehidupan-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kehidupan Seekor Elang</title>
		<link>http://pengharapan.com/kehidupan-seekor-elang.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/kehidupan-seekor-elang.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Jan 2011 01:01:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[berubah]]></category>
		<category><![CDATA[elang]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[kita]]></category>
		<category><![CDATA[menyakitkan]]></category>
		<category><![CDATA[proses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=940</guid>
		<description><![CDATA[Elang merupakan jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang di dunia. Umurnya dapat mencapai 70 tahun. Tetapi untuk mencapai umur sepanjang itu seekor elang harus membuat suatu keputusan yang sangat berat pada umurnya yang ke 40.
Ketika elang berumur 40 tahun, kukunya mulai menua, paruhnya menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dadanya. Sayapnya menjadi sangat [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Elang merupakan jenis unggas yang mempunyai umur paling panjang di dunia. Umurnya dapat mencapai 70 tahun. Tetapi untuk mencapai umur sepanjang itu seekor elang harus membuat suatu keputusan yang sangat berat pada umurnya yang ke 40.</p>
<p>Ketika elang berumur 40 tahun, kukunya mulai menua, paruhnya menjadi panjang dan membengkok hingga hampir menyentuh dadanya. Sayapnya menjadi sangat berat karena bulunya telah tumbuh lebat dan tebal, sehingga sangat menyulitkan waktu terbang.<br />
<span id="more-940"></span><br />
Pada saat itu, elang hanya mempunyai dua pilihan:</p>
<ul>
<li>Menunggu kematian, atau</li>
<li>Mengalami suatu proses transformasi yang sangat menyakitkan &#8212; suatu proses transformasi yang panjang selama 150 hari.</li>
</ul>
<p>Untuk melakukan transformasi itu, elang harus berusaha keras terbang ke atas puncak gunung untuk kemudian membuat sarang di tepi jurang, berhenti dan tinggal disana selama proses transformasi berlangsung.</p>
<p>Pertama-tama, elang harus mematukkan paruhnya pada batu karang sampai paruh tersebut terlepas dari mulutnya, kemudian berdiam beberapa lama menunggu tumbuhnya paruh baru. Dengan paruh yang baru tumbuh itu, ia harus mencabut satu persatu kuku-kukunya dan ketika kuku yang baru sudah tumbuh, ia akan mencabut bulu badannya satu demi satu. Suatu proses yang panjang dan menyakitkan.</p>
<p>Lima bulan kemudian, bulu-bulu elang yang baru sudah tumbuh. Elang mulai dapat terbang kembali. Dengan paruh dan kuku baru, elang tersebut mulai menjalani 30 tahun kehidupan barunya dengan penuh bertenaga!</p>
<p><strong>PENGAJARAN:</strong></p>
<p>Dalam kehidupan kita ini, kadang kita juga harus melakukan suatu keputusan yang sangat berat untuk memulai sesuatu proses pembaharuan. Kita harus berani dan mau membuang semua kebiasaan lama yang konservatif, meskipun kebiasaan lama itu adalah sesuatu yang menyenangkan dan melelahkan.</p>
<p>Kita harus rela untuk meninggalkan perilaku lama kita agar kita dapat mulai terbang lagi menggapai tujuan yang lebih baik di masa depan. Hanya bila kita bersedia melepaskan beban lama, membuka diri untuk belajar hal- hal yang baru, kita baru mempunyai kesempatan untuk mengembangkan kemampuan kita yang terpendam, mengasah keahlian baru dan menatap masa depan dengan penuh keyakinan.</p>
<p>Halangan terbesar untuk berubah terletak di dalam diri sendiri dan andalah sang penguasa atas diri anda.</p>
<p>Jangan biarkan masa lalu menumpulkan rasa dan melayukan semangat kita. Anda adalah elang-elang itu. Perubahan pasti terjadi. Maka itu, kita harus berubah!</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/kehidupan-seekor-elang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JIKA</title>
		<link>http://pengharapan.com/jika.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/jika.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Nov 2010 01:03:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[bersyukur]]></category>
		<category><![CDATA[jika]]></category>
		<category><![CDATA[karunia]]></category>
		<category><![CDATA[keberuntungan]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=825</guid>
		<description><![CDATA[Jika anda tinggal di rumah yang baik, memiliki cukup makanan dan dapat membaca &#8230; anda adalah bagian dari kelompok terpilih.
Jika anda bangun pagi ini dan merasa sehat &#8230;
anda lebih beruntung dari jutaan orang yang mungkin tidak akan dapat bertahan hidup minggu ini.
Jika anda tidak pernah merasakan bahaya perang, kesepian karena dipenjara, kesakitan karena penyiksanaan, atau [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika anda tinggal di rumah yang baik, memiliki cukup makanan dan dapat membaca &#8230; anda adalah bagian dari kelompok terpilih.</p>
<p>Jika anda bangun pagi ini dan merasa sehat &#8230;<br />
anda lebih beruntung dari jutaan orang yang mungkin tidak akan dapat bertahan hidup minggu ini.</p>
<p>Jika anda tidak pernah merasakan bahaya perang, kesepian karena dipenjara, kesakitan karena penyiksanaan, atau kelaparan &#8230;<br />
anda berada selangkah lebih maju dibandingkan 500 juta orang di dunia.</p>
<p>Jika anda dapat menghadiri pertemuan politik atau keagamaan tanpa merasa takut akan dilecehkan, ditangkap, disiksa, atau mati &#8230;<br />
anda beruntung, karena lebih dari 3 milyar orang di dunia tidak dapat melakukannya.<span id="more-825"></span><br />
Jika anda memiliki makanan di lemari pendingin, baju-baju di lemari pakaian, dan memiliki atap yang menaungi tempat anda beristirahat, anda lebih kaya dari 75% penduduk di dunia ini.</p>
<p>Jika anda memiliki uang di bank, di dompet, dan mampu membelanjakan sebagian<br />
uang untuk menikmati hidangan di restoran &#8230;<br />
Anda merupakan anggota dari 8% kelompok orang-orang kaya di dunia.</p>
<p>Jika orang tua anda masih hidup &amp; menikmati kebahagiaan kehidupan pernikahan<br />
mereka &#8230;<br />
maka anda termasuk salah satu dari kelompok orang yang dikategorikan langka.</p>
<p>Jika anda mampu menegakkan kepala dengan senyuman dibibir dan merasa benar-benar bahagia &#8230;<br />
Anda memiliki keistimewaan tersendiri, karena sebagian besar orang tidak<br />
memperoleh kenikmatan tersebut.</p>
<p>Jika anda dapat membaca pesan ini&#8230;&#8230;<br />
anda baru saja menerima karunia ganda, karena seseorang memikirkan<br />
anda, dan anda jauh lebih beruntung dibandingkan lebih dari 1 milyar<br />
orang yang tidak dapat membaca sama sekali</p>
<p>Semoga anda menikmati hari yang indah ini.<br />
Hitunglah karunia keberuntungan anda, dan sampaikan hal ini kepada orang lain untuk mengingatkan bahwa sebenarnya, kita adalah orang-orang yang sangat beruntung. Dengan bersyukur, anda akan lebih menikmati hidup yang hanya sebentar ini.</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/jika.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Makan Siang Bersama Tuhan</title>
		<link>http://pengharapan.com/makan-siang-bersama-tuhan.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/makan-siang-bersama-tuhan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Nov 2010 01:04:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[makan siang]]></category>
		<category><![CDATA[merubah]]></category>
		<category><![CDATA[senyuman]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=807</guid>
		<description><![CDATA[Ada seorang anak yang rindu bertemu dengan Tuhannya. Ia menyadari bahwa perjalanan panjang diperlukan ke rumah Tuhan, karena itu dikemaslah tasnya dengan kue Twinkies dan satu pack root beer berisi 6 kaleng lalu memulaikan perjalanannya.
Ketika telah melampaui beberapa blok dari rumahnya, ia bertemu dengan seorang tua. Ia sedang duduk di taman dekat air memperhatikan burung-burung.
Sang [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada seorang anak yang rindu bertemu dengan Tuhannya. Ia menyadari bahwa perjalanan panjang diperlukan ke rumah Tuhan, karena itu dikemaslah tasnya dengan kue Twinkies dan satu pack root beer berisi 6 kaleng lalu memulaikan perjalanannya.<br />
Ketika telah melampaui beberapa blok dari rumahnya, ia bertemu dengan seorang tua. Ia sedang duduk di taman dekat air memperhatikan burung-burung.<br />
Sang anak duduk dekat dengannya lalu membuka tas. Ketika ia mengambil root beer (bir tidak beralkohol) untuk melepaskan dahaganya ia perhatikan bahwa orang tua itu kelihatan lapar sedang memandang padanya. Dengan segera ia menawarkan kue Twinkie kepada orang tua itu.<br />
Dengan gembira orang tua itu menerima dan memberikan senyum padanya. senyum itu luar biasa menarik sehingga anak ini senang untuk menikmatinya lagi. Itu sebabnya anak ini menawarkan lagi kepada orang tua itu sekaleng root beer.<span id="more-807"></span><br />
Sekali lagi, orang tua itu tersenyum kepadanya. Anak ini sangat gembira! Sepanjang petang mereka duduk disana, makan dan tersenyum, tanpa mengeluarkan sepatah kata.<br />
Ketika malam turun, anak ini merasa lelah, ia berdiri untuk meninggalkan tempat itu, namun sebelum ia melangkahkan kakinya, ia berbalik dan lari ke orang tua itu dan memberikan sebuah pelukan.</p>
<p>Orang tua itu memberikan senyumnya yang lebar. Ketika anak ini membuka pintu rumahnya beberapa waktu kemudian, ibunya terkejut melihat kegembiraan memancar di wajah anaknya. Ia bertanya: Apa yang terjadi hari ini sehingga membuat kamu begitu senang?<br />
Sang anak menjawab: &#8220;Saya berkesempatan makan siang bersama Tuhan&#8221;.<br />
Dan sebelum ibu memberikan responsnya, anak ini menambahkan: &#8221; Ibu, Ibu tahu senyumnya, itulah senyum paling indah yang pernah saya lihat&#8221;.<br />
Sementara itu, si orang tua di taman tadi, juga penuh dengan kegembiraan, pulang kerumahnya. Anaknya terpesona melihat kedamaian memancar diwajahnya dan bertanya: &#8220;Ayah, apa yang terjadi hari ini membuat kamu sangat bergembira?<br />
Ia menjawab: &#8220;Saya makan Kue Twinkies di taman bersama Tuhan&#8221;.<br />
Dan sebelum anaknya merespon, ia menambahkan: &#8220;Kamu tahu, Dia lebih muda dari yang saya duga.&#8221;<br />
Terlalu sering kita menganggap remeh kuasa dalam senyum, jamahan, kata-kata yang baik, telinga yang mendengar, pemberian yang tulus atau perhatian-perhatian kecil. Semua itu berpotensi membuat kehidupan seseorang menjadi istimewa atau bahkan merubah kehidupan seseorang.</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/makan-siang-bersama-tuhan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kolonel Sanders</title>
		<link>http://pengharapan.com/kolonel-sanders.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/kolonel-sanders.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Nov 2010 01:36:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[apes]]></category>
		<category><![CDATA[Harlan Sanders]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[KFC]]></category>
		<category><![CDATA[pantang menyerah]]></category>
		<category><![CDATA[pecundang]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=737</guid>
		<description><![CDATA[Harlan Sanders adalah pecundang &#38; pria paling apes yang pernah ada dimuka bumi sebelumnya. la drop-out sekolah pd umur 14 tahun. Jadi buruh tani tapi sering dimarahi majikannya. Umur 16 thn ia jadi kondektur &#38; 3 bln kemudian dipecat. Mendaftar sebagai tentara, hanya kuat beberapa bulan karena tak tahan latihan2 beratnya, akhirnya ia menjadi stocker [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Harlan Sanders adalah pecundang &amp; pria paling apes yang pernah ada dimuka bumi sebelumnya. la drop-out sekolah pd umur 14 tahun. Jadi buruh tani tapi sering dimarahi majikannya. Umur 16 thn ia jadi kondektur &amp; 3 bln kemudian dipecat. Mendaftar sebagai tentara, hanya kuat beberapa bulan karena tak tahan latihan2 beratnya, akhirnya ia menjadi stocker Iokomotif &amp; karena mengira bahwa ia sudah mapan maka ia nekat menikahi pacarnya.</p>
<p>Akhirnya iapun dipecat juga pada hari dimana istrinya ketahuan hamil. Ia segera memburu berbagai pekerjaan yg bisa ia dapatkan, namun tetap tak mendapat pekerjaan layak. Hingga suatu hari, saat pulang ke-rumahnya, ia melihat seluruh barang dirumahnya telah dijual &amp; istrinya kembali ke-rumah orangtuanya. Istrinya tak tahan lagi hidup dgn orang yg dilahirkan sebagai orang yg kalah ini.<span id="more-737"></span><br />
Namun Sanders tidak menyerah, ia mencoba belajar ilmu hukum melalui korespondensi tapi tidak tamat. jualan ban &amp; rugi, jualan asuransi tapi tak laku, bahkan mengelola kapal ferry &amp; akhirnya bangkrut. Hingga suatu hari ia mendengar acara radio yg berkata &#8220;Hidup dimulai pada usia 40&#8243;. Akhirnya ia nekat buka pom bensin &amp; restoran kecil2an di-Kentucky-USA dijalan tol utama ke-Florida. Hingga akhirnya ia menemuKan resep ayam gorengnya yg enak yg ia beri nama &#8220;Harlan Sanders Kentucky Fried Chicken Secret with Eleven Herbs &amp; Spices&#8221; (Resep Rahasia Ayam Goreng Kentucky Harlan Sanders dgn 11 bumbu &amp; rempah2). Ayam gorengnya ini mulai dikenal orang terutama sopir2 truk bahkan gubernur Kentucky menjulukinya Kentucky Colonel (yg dipakainya hingga kini) atas jasanya membuka restoran pinggir jalan. Namun malang saat gerbang tol dipindah hingga 12 km dari restonya, maka segera bisnisnya sepi &amp; bangkrut. Bahkan ia terpaksa mengandalkan cek jaminan sosial 100 US$ /bln karena jatuh miskin.<br />
Didesak keadaan bangkrut pd usia 65 tahun, maka ia nekat menjajakan ayam gorengnya ke-seluruh negeri, ia mengetuk hingga lebih dari 1000 pintu sebelum akhirnya ia mendapat pesanan pertama &amp; ia mulai berpromosi mewaralabakan ayam gorengnya kpd lebih dari 500 calon investor &amp; mereka semua menolaknya. Hingga akhirnya ada satu orang yg mau membeli hak waralabanya. Perlahan tapi pasti restoran KFC-nya terus berkembang. Sanders meninggal tahun 1980 dgn mewariskan 32.500 resto KFC di-lebih dari 100 negara. Suksesnya dikenang sepanjang masa.</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/kolonel-sanders.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lingkungan Kita Adalah Pikiran Kita</title>
		<link>http://pengharapan.com/lingkungan-kita-adalah-pikiran-kita.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/lingkungan-kita-adalah-pikiran-kita.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Nov 2010 01:28:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[cara pandang]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[negatif]]></category>
		<category><![CDATA[Norman Vincent Peale]]></category>
		<category><![CDATA[pikiran]]></category>
		<category><![CDATA[positif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=732</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika seorang pria menelepon Norman Vincent Peale. Ia tampak sedih. Tidak ada lagi yang dimilikinya dalam hidup ini. Norman mengundang pria itu untuk datang ke kantornya.
“Semuanya telah hilang. Tak ada harapan lagi,” kata pria itu.
“Aku sekarang hidup dalam kegelapan yang amat dalam. Aku telah kehilangan hidup ini”.
Norman Vincent Peale, penulis buku “The Power of [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu ketika seorang pria menelepon Norman Vincent Peale. Ia tampak sedih. Tidak ada lagi yang dimilikinya dalam hidup ini. Norman mengundang pria itu untuk datang ke kantornya.</p>
<p>“Semuanya telah hilang. Tak ada harapan lagi,” kata pria itu.<br />
“Aku sekarang hidup dalam kegelapan yang amat dalam. Aku telah kehilangan hidup ini”.<br />
Norman Vincent Peale, penulis buku “The Power of Positive Thinking”, tersenyum penuh simpati. “Mari kita pelajari keadaan anda,” katanya Norman dengan lembut.</p>
<p>Pada selembar kertas ia menggambar sebuah garis lurus dari atas ke bawah tepat di tengah-tengah halaman. Ia menyarankan agar pada kolom kiri pria itu menuliskan apa-apa yang telah hilang dari hidupnya. Sedangkan pada kolom kanan, ia menulis apa-apa yang masih tersisa. <span id="more-732"></span><br />
“Kita tak perlu mengisi kolom sebelah kanan,” kata pria itu dalam kesedihan.<br />
“Aku sudah tak punya apa-apa lagi.”<br />
“Lalu kapan kau bercerai dari istrimu?” tanya Norman.<br />
“Hei, apa maksudmu? Aku tidak bercerai dari istriku. Ia amat mencintaiku!”<br />
“Kalau begitu bagus sekali,” sahut Norman penuh antusias.<br />
“Mari kita catat itu sebagai nomor satu di kolom sebelah kanan “Istri yang amat mencintai”.<br />
“Nah, sekarang kapan anakmu itu masuk penjara?”<br />
“Anda ini konyol sekali. Tak ada anakku yang masuk penjara!&#8221;<br />
“Bagus! Itu nomor dua untuk kolom sebelah kanan “Anak-anak tidak berada dalam penjara.”</p>
<p>Setelah beberapa pertanyaan dengan nada yang serupa, akhirnya pria itu menangkap apa maksud Norman dan tertawa pada diri sendiri.                                                                            “Menggelikan sekali,betapa segala sesuatunya berubah ketika kita berpikir dgn cara seperti itu,” katanya.<br />
Kata orang bijak, bagi hati yang sedih lagu yang riangpun terdengar memilukan. Sedangkan orang bijak berkata lain, sekali pikiran negatif terlintas di pikiran,duniapun akan terjungkir balik. Maka mulailah hari dengan selalu berfikir positif.<br />
Tuliskanlah hal-hal positif yang Kita pernah dan sedang anda miliki dalam hidup ini, bebaskan pikiran-pikiran kita dari hal-hal negatif yg hanya akan menyedot energi negatif dari luar diri kita. Dgn berfikir positif, kehidupan akan terasa amat indah dan tidak sekejam yg kita bayangkan. Segala yang berada di sekitar kita sangatlah tergantung dari bagaimana cara kita memandang dan mempersepsikannya.<br />
Lingkungan Kita adalah Pikiran Kita. Lingkungan akan berdampak positif kepada Kita jika Kita mempersepsikannya baik, sebaliknya Lingkungan akan berdampak negatif kepada kita ketika kita mempersepsikan negatif.</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/lingkungan-kita-adalah-pikiran-kita.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tujuh Keajaiban Dunia</title>
		<link>http://pengharapan.com/tujuh-keajaiban-dunia.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/tujuh-keajaiban-dunia.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Oct 2010 01:19:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[keajaiban]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>
		<category><![CDATA[tujuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=636</guid>
		<description><![CDATA[Sekelompok siswa kelas geografi sedang mempelajari &#8220;Tujuh Keajaiban Dunia.&#8221;
Pada awal dari pelajaran, mereka diminta untuk membuat daftar apa yang
mereka pikir merupakan &#8220;Tujuh Keajaiban Dunia&#8221; saat ini. Walaupun ada
beberapa ketidaksesuaian, sebagian besar daftar berisi;

Piramida
Taj Mahal
Tembok Besar Cina
Menara Pisa
Kuil Angkor
Menara Eiffel
Kuil Parthenon

Ketika mengumpulkan daftar pilihan, sang guru memperhatikan seorang pelajar,
seorang gadis yang pendiam, yang belum mengumpulkan kertas [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left;">Sekelompok siswa kelas geografi sedang mempelajari &#8220;Tujuh Keajaiban Dunia.&#8221;<br />
Pada awal dari pelajaran, mereka diminta untuk membuat daftar apa yang<br />
mereka pikir merupakan &#8220;Tujuh Keajaiban Dunia&#8221; saat ini. Walaupun ada<br />
beberapa ketidaksesuaian, sebagian besar daftar berisi;</p>
<ol>
<li>Piramida</li>
<li>Taj Mahal</li>
<li>Tembok Besar Cina</li>
<li>Menara Pisa</li>
<li>Kuil Angkor</li>
<li>Menara Eiffel</li>
<li>Kuil Parthenon</li>
</ol>
<p style="text-align: left;">Ketika mengumpulkan daftar pilihan, sang guru memperhatikan seorang pelajar,<span id="more-636"></span><br />
seorang gadis yang pendiam, yang belum mengumpulkan kertas kerjanya. Jadi,<br />
sang guru bertanya kepadanya apakah dia mempunyai kesulitan dengan daftarnya.</p>
<p style="text-align: left;">Gadis pendiam itu menjawab, &#8220;Ya, sedikit. Saya tidak bisa memilih karena<br />
sangat banyaknya.&#8221; Sang guru berkata, &#8220;Baik, katakan pada kami apa yang<br />
kamu miliki, dan mungkin kami bisa membantu memilihnya.&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">Gadis itu ragu sejenak, kemudian membaca,  Saya pikir  &#8220;Tujuh Keajaiban</p>
<p style="text-align: left;">Dunia&#8221; adalah :</p>
<ol>
<li>Bisa melihat</li>
<li>Bisa mendengar</li>
<li>Bisa menyentuh</li>
<li>Bisa menyayangi, Dia ragu lagi sebentar dan kemudian melanjutkan …</li>
<li>Bisa merasakan</li>
<li>Bisa tertawa. Dan&#8230;</li>
<li>Bisa mencintai</li>
</ol>
<p style="text-align: left;">Ruang kelas tersebut sunyi seketika. Alangkah mudahnya bagi kita untuk<br />
melihat pada eksploitasi manusia dan menyebutnya &#8220;keajaiban&#8221;. Sementara<br />
kita lihat lagi semua yang telah Tuhan karuniakan untuk kita, kita<br />
menyebutnya sebagai &#8220;biasa&#8221;. Semoga anda hari ini diingatkan tentang segala<br />
hal yang betul betul ajaib dalam kehidupan anda.</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/tujuh-keajaiban-dunia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Kisah Kehidupan</title>
		<link>http://pengharapan.com/sebuah-kisah-kehidupan.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/sebuah-kisah-kehidupan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Oct 2010 01:52:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[berjudi]]></category>
		<category><![CDATA[kaya]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[kepedulian]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[mencopet]]></category>
		<category><![CDATA[miskin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=615</guid>
		<description><![CDATA[Mahluk yang paling menakjubkan adalah manusia, karena dia bisa memilih untuk menjadi &#8220;setan atau malaikat&#8221; (John Scheffer)
Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya.Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya. Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mahluk yang paling menakjubkan adalah manusia, karena dia bisa memilih untuk menjadi &#8220;setan atau malaikat&#8221; (John Scheffer)</p>
<p>Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya.Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya. Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? <span id="more-615"></span><br />
Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak saya? Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua.</p>
<p>Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk.</p>
<p>Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk. Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya,atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi di zaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah?</p>
<p>Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya.</p>
<p>Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul. Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.</p>
<p>***<br />
Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu, Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.<br />
Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang. Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan?</p>
<p>Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini:</p>
<p>***<br />
&#8220;Ibu yang baik, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya. Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.<br />
Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras. Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.</p>
<p>Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya?</p>
<p>Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi.</p>
<p>Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan.</p>
<p>Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang. Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet. Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih.</p>
<p>Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter. Tapi Ibu, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita.</p>
<p>Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf.&#8221;</p>
<p>***<br />
Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya.<br />
Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya.Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja. Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya.</p>
<p>Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali. Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan.</p>
<p>Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir dimata saya. Yuni menghampiri saya dan bilang, &#8220;Mama, saya bangga jadi anak Mama.&#8221; Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/sebuah-kisah-kehidupan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kehidupan</title>
		<link>http://pengharapan.com/kehidupan.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/kehidupan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Oct 2010 01:25:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[anak kecil]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[dunia]]></category>
		<category><![CDATA[gambar]]></category>
		<category><![CDATA[jessica]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[keindahan]]></category>
		<category><![CDATA[potongan]]></category>
		<category><![CDATA[susun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=587</guid>
		<description><![CDATA[Suatu sore, Jessica sedang duduk bersama ayahnya di ruang keluarga. Keduanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Jessica, gadis kecil berumur 5 tahun itu sedang bermain dengan buku gambarnya. Sedang sang ayah, tampak tekun membaca majalah.
Sesaat kemudian, Jessica mendekati ayahnya. Ia lalu bertanya, “Ayah, ini gambar apa? Belum selesai ayahnya menjawab, Jessica kembali bertanya, “Kok, hewan ini [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu sore, Jessica sedang duduk bersama ayahnya di ruang keluarga. Keduanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Jessica, gadis kecil berumur 5 tahun itu sedang bermain dengan buku gambarnya. Sedang sang ayah, tampak tekun membaca majalah.</p>
<p>Sesaat kemudian, Jessica mendekati ayahnya. Ia lalu bertanya, “Ayah, ini gambar apa? Belum selesai ayahnya menjawab, Jessica kembali bertanya, “Kok, hewan ini ada buntutnya? Sang Ayah, dengan sabar menjelaskan semuanya. Disisihkannya majalah di tangannya dan dipeluknya Jessica.</p>
<p>Beberapa lama berselang, Ayah lalu berkata, “Baik, kalau sudah selesai, ayo teruskan saja sendiri ya, sayang. Ayah sibuk. Jessica pun kembali ke tempatnya semula.<span id="more-587"></span></p>
<p>Namun, belum lima menit usai, Jessica kembali datang dan bertanya banyak hal. Dia mengoceh tentang hewan, hingga hal-hal yang di luar khayalan. Ayah pun mulai tampak segan dengan semua pertanyaan itu. Sebab, ia ingin sekali menyelesaikan bacaannya. “Ah, kalau saja aku bisa menyibukkan anak ini dengan pekerjaan lain, ” gumam Ayah,” tentu, ia tak akan membuatku repot. Begitu pikirnya dalam hati.</p>
<p>Aha, Ayah pun menemukan ide. Diambilnya gambar rumah dari sebuah majalah lama. Dan diguntingnya gambar itu menjadi beberapa bagian. Ia ingin membuat puzzle!. Tentu, anak umur 5 tahun, akan sulit sekali menyusun puzzle yang bergambar rumah. Ia lalu berkata pada Jessica yang sejak tadi memperhatikannya.</p>
<p>” Jessica, sekarang Ayah punya permainan. Ayo, coba susun kembali kertas ini jadi gambar rumah. Nanti, kalau sudah selesai, baru kamu boleh kembali ke sini. (–Hmm..tenanglah aku sekarang. Aku akan bisa menyelesaikan bacaanku, dan ia pasti akan sibuk sekali dengan pekerjaan ini, begitu gumam ayah.–)</p>
<p>Tiba-tiba. “Aku sudah selesai!” Belum 5 menit berlalu, kini, Jessica sudah kembali dengan susunan gambar rumah itu. Ayah pun bingung, bagaimana bisa ia menyelesaikan tugas yang sulit itu? Ayah lalu bertanya, “Bagaimana caranya kamu menyusun gambar rumah ini? Pasti kamu minta tolong Bunda deh.”</p>
<p>Mata bulat gadis itu berbinar, “Nggak kok. Aku membuatnya sendiri. Sebab, dibalik gambar ini, ada gambar boneka kesukaanku. Jadi, aku menyusun gambar itu saja. Ini, gambar bonekaku, aku senang sekali dengannya.</p>
<p>Sang Ayah pun terdiam. Ia kalah, dan harus siap kembali menerima semua ocehan gadis kecilnya ini.</p>
<p>***<br />
Sahabat, seringkali, kita menganggap anak-anak dengan naif. Kita kerap meremehkan pola pikir yang mereka miliki. Kita, yang sok dewasa, sering berpendapat, anak kecil, bukanlah guru yang terbaik buat kehidupan. Mereka semua hanyalah penganggu, dan sesuatu yang selalu mengusik setiap ketenangan.</p>
<p>Namun sayang, kita kerap salah. Dan Jessica, bisa jadi membuktikannya. Kita, seringkali menganggap dunia ini sebagai sesuatu yang sulit. Dunia, dalam pikiran kita, adalah potongan gambar-gambar yang tak runut. Potongan-potongan itu pulalah yang kita susun dengan perasaan takut. Dunia, bagi kita, adalah tempat segala masalah bersatu. Dan kita merangkainya dengan hati penuh pilu.</p>
<p>Dengan kata lain, dunia, bagi kita, adalah layaknya benang kusut, yang penuh dengan keruwetan, ketidakteraturan, dan kesumpekan. Dunia, bagi kita yang mengaku dewasa, adalah amarah, angkara, dengki, dan dendam, iri dan maki serta tangis dan nestapa.</p>
<p>Padahal, kalau kita mau menjenguk sisi lain dunia, ada banyak keindahan yang hadir di sana. Ada banyak kenyamanan dan kesenangan yang mampu diwujudkannya. Ya, asalkan kita mau menjenguknya, melihat dengan lebih tekun dan jeli. Mencermati setiap bagian dari dunia yang kita sukai.</p>
<p>Jalin-jemalin kenyamanan yang dapat dirangkai dalam dunia, adalah sesuatu yang indah. Disana akan kita temukan kesejukan, ketenangan, kesunyian, keteraturan, keterpaduan dan segalanya, asalkan kita mau menjenguknya.</p>
<p>Jadi, potongan gambar dunia mana yang akan Anda susun? Dunia yang penuh angkara, atau dunia yang penuh cinta? Dunia yang penuh duri, atau dunia yang penuh peduli? Anda sendirilah yang akan menyusun potongan-potongan gambar itu. Susunan yang Anda pilih, akan membentuk kehidupan Anda.<br />
Selamat menyusun potongan hidup Anda!!</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/kehidupan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Kau Menceraikanku</title>
		<link>http://pengharapan.com/ketika-kau-menceraikanku.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/ketika-kau-menceraikanku.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Oct 2010 01:58:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[bercerai]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[mesra]]></category>
		<category><![CDATA[rumah tangga]]></category>
		<category><![CDATA[selingkuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=571</guid>
		<description><![CDATA[Pada hari pernikahanku, aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti di depan flat kami yg cuma berkamar satu. Sahabat-sahabatku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami. Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yg sangat bahagia. Ini adalah kejadian 10 tahun yg lalu.
Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada hari pernikahanku, aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti di depan flat kami yg cuma berkamar satu. Sahabat-sahabatku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami. Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yg sangat bahagia. Ini adalah kejadian 10 tahun yg lalu.</p>
<p>Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening : Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. Setiap pagi kami berangkat kerja bersama-sama dan sampai dirumah juga pada waktu yg bersamaan. Anak kami sedang belajar di luar negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yg tidak kusangka-sangka, Dew hadir dalam kehidupanku.<br />
<span id="more-571"></span></p>
<p>Waktu itu adalah hari yg cerah. Aku berdiri di balkon dengan Dew yg sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. Ini adalah apartemen yg kubelikan untuknya.</p>
<p>Dew berkata, “kamu adalah jenis pria terbaik yg menarik para gadis.” Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru menikah, istriku pernah berkata, “Pria sepertimu, begitu sukses, akan menjadi sangat menarik bagi para gadis.” Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu-ragu. Aku tahu kalau aku telah menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya.</p>
<p>Aku melepaskan tangan Dew dan berkata, “kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.?.Aku ada sedikit urusan di kantor”. Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya. Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku walaupun kelihatan tidak mungkin.</p>
<p>Bagaimanapun, aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun ku jelaskan, ia pasti akan sangat terluka. Sejujurnya ia adalah seorang istri yg baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai di depan TV. Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama-sama. Atau aku akan menghidupkan komputer, membayangkan tubuh Dew. Ini adalah hiburan bagiku.</p>
<p>Suatu hari aku berbicara dalam guyon, “seandainya kita bercerai, apa yg akan kau lakukan? ” Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yg sangat jauh dari dirinya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa aku serius.</p>
<p>Ketika istriku mengunjungi kantorku, Dew baru saja keluar dari ruanganku. Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengannya. Dia kelihatan sedikit curiga. Dia berusaha tersenyum pada bawahan-bawahanku. Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya.</p>
<p>Sekali lagi, Dew berkata padaku,”He Ning, ceraikan ia, O.K.? Lalu kita akan hidup bersama.” Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu-ragu lagi. Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, aku memegang tangannya. “Ada sesuatu yg harus kukatakan”.</p>
<p>Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka di matanya. Tiba-tiba aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalau aku terus berpikir. “Aku ingin bercerai”, ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang.</p>
<p>Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata-kataku,tapi ia bertanya secara lembut,”kenapa?” “Aku serius.”Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah. Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku, “Kamu bukan laki-laki!”.</p>
<p>Pada malam itu, kami sekali saling membisu. Ia sedang menangis. Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yg telah terjadi dengan perkawinan kami. Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yg memuaskan sebab hatiku telah dibawa pergi oleh Dew.</p>
<p>Dengan perasaan yg amat bersalah, aku menuliskan surai perceraian dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku. Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian. Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yg telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang yg asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa menarik kembali apa yg telah kuucapkan.</p>
<p>Akhirnya ia menangis dengan keras di depanku, dimana hal tersebut tidak pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku. Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh-sungguh telah terjadi.</p>
<p>Pada larut malam, aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran. Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali. Ia menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya : ia tidak menginginkan apapun dariku, tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya, dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya. Alasannya sangat sederhana : Anak kami akan segera menyelesaikan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami.</p>
<p>Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya,” He Ning, apakah kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan kita? Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku. Aku mengangguk dan mengiyakan. “Kamu membopongku dilenganmu”, katanya, “jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongku pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu.” Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yg telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana romantis.</p>
<p>Aku memberitahukan Dew soal syarat-syarat perceraian dari istriku. Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. “Bagaimanapun trik yg ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini,” ia mencemooh Kata- katanya membuatku merasa tidak enak.</p>
<p>Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu. kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami menepuk punggung kami,”wah, papa membopong mama, mesra sekali”. Kata-katanya membuatku merasa sakit. Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan dirinya dalam lenganku. Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut,”mari kita mulai hari ini, jangan memberitahukan pada anak kita.” Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang. Aku melepaskan ia di pintu. Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor.</p>
<p>Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku, Kami begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium wangi di bajunya. Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi. Beberapa kerut tampak di wajahnya.</p>
<p>Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, “kebun diluar sedang dibongkar. Hati-hati kalau kamu lewat sana.” Hari keempat,ketika aku membangunkannya, aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku di lenganku.</p>
<p>Bayangan Dew menjadi samar.</p>
<p>Pada hari kelima dan keenam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal, seperti dimana ia telah menyimpan baju-bajuku yg telah ia setrika, aku harus hati-hati saat memasak, dll. Aku mengangguk. Perasaan kedekatan terasa semakin erat.</p>
<p>Aku tidak memberitahu Dew tentang hal ini. Aku merasa begitu ringan membopongnya. Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya, “kelihatannya tidaklah sulit membopongmu sekarang”</p>
<p>Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yg cocok. Lalu ia melihat, “semua pakaianku kebesaran”. Aku tersenyum. Tapi tiba-tiba aku menyadarinya, sebab ia semakin kurus, itu sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati. Sekali lagi, aku merasakan perasaan sakit.</p>
<p>Tanpa sadar ku sentuh kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut. “Pa, sudah waktunya membopong mama keluar.” Baginya, melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yg penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia di lenganku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk ke teras. Tangannya memegangku secara lembut dan alami. aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih.</p>
<p>Pada hari terakhir, ketika aku membopongnya di lenganku, aku melangkah dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. Ia berkata, “sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua.” Aku memeluknya dengan kuat dan berkata “antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra”.</p>
<p>Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga. Dew membuka pintu. Aku berkata padanya,” Maaf Dew, aku tidak ingin bercerai. Aku serius”.</p>
<p>Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku. “Kamu tidak demam.” Kutepiskan tangannya dari dahiku. “Maaf Dew, aku cuma bisa bilang maaf padamu, aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai-nilai dari kehidupan, bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi. Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu”.</p>
<p>Dew tiba-tiba seperti tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak. Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor.</p>
<p>Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga. Ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku. Penjualnya bertanya apa yg mesti ia tulis dalam kartu ucapan? Aku tersenyum dan menulis : “Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua.”</p>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/ketika-kau-menceraikanku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

