<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pengharapan.com &#187; keinginan</title>
	<atom:link href="http://pengharapan.com/tag/keinginan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pengharapan.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 20 May 2012 02:21:41 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Apa Yang Kau Inginkan Dalam Hidupmu</title>
		<link>http://pengharapan.com/apa-yang-kau-inginkan-dalam-hidupmu.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/apa-yang-kau-inginkan-dalam-hidupmu.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jul 2010 03:24:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[hidup]]></category>
		<category><![CDATA[keinginan]]></category>
		<category><![CDATA[kerja keras]]></category>
		<category><![CDATA[pantang menyerah]]></category>
		<category><![CDATA[Shang Da]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=261</guid>
		<description><![CDATA[Di Propinsi Zhejiang China, ada seorang anak laki-laki yang luar biasa, sebut saja namanya Zhang Da. Perhatiannya yang besar kepada Papanya, hidupnya yang pantang menyerah dan mau bekerja keras, serta tindakan dan perkataannya yang menyentuh hati membuat Zhang Da, anak lelaki yang masih berumur 10 tahun ketika memulai semua itu, pantas disebut anak yang luar [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">Di Propinsi Zhejiang China, ada seorang anak laki-laki yang luar biasa, sebut saja namanya Zhang Da. Perhatiannya yang besar kepada Papanya, hidupnya yang pantang menyerah dan mau bekerja keras, serta tindakan dan perkataannya yang menyentuh hati membuat Zhang Da, anak lelaki yang masih berumur 10 tahun ketika memulai semua itu, pantas disebut anak yang luar biasa. Saking jarangnya seorang anak yang berbuat demikian, sehingga ketika Pemerintah China mendengar dan menyelidiki apa yang Zhang Da perbuat maka merekapun memutuskan untuk menganugerahi penghargaan Negara yang Tinggi kepadanya. Zhang Da adalah salah satu dari sepuluh orang yang dinyatakan telah melakukan perbuatan yang luar biasa dari antara 1,4 milyar penduduk China. Tepatnya 27 Januari 2006 Pemerintah China, di Propinsi Jiangxu, kota Nanjing, serta disiarkan secara Nasional keseluruh pelosok negeri, memberikan penghargaan kepada 10 (sepuluh) orang yang luar biasa, salah satunya adalah Zhang Da.Mengikuti kisahnya di televisi, membuat saya ingin menuliskan cerita ini untuk melihat semangatnya yang luar biasa.</div>
<div><span id="more-261"></span></div>
<div>Bagi saya Zhang Da sangat istimewa dan luar biasa karena ia termasuk 10 orang yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar manusia. Atau lebih tepatnya ia adalah yang terbaik diantara 140 juta manusia. Tetapi jika kita melihat apa yang dilakukannya dimulai ketika ia berumur 10 tahun dan terus dia lakukan sampai sekarang (ia berumur 15 tahun), dan satu-satunya anak diantara 10 orang yang luar biasa tersebut maka saya bisa katakan bahwa Zhang Da yang paling luar biasa di antara 1,4 milyar penduduk China.</div>
<div>Pada waktu tahun 2001, Zhang Da ditinggal pergi oleh Mamanya yang sudah tidak tahan hidup menderita karena miskin dan karena suami yang sakit keras. Dan sejak hari itu Zhang Da hidup dengan seorang Papa yang tidak bisa bekerja, tidak bisa berjalan, dan sakit-sakitan. Kondisi ini memaksa seorang bocah ingusan yang waktu itu belum genap 10 tahun untuk mengambil tanggungjawab yang sangat berat. Ia harus sekolah, ia harus mencari makan untuk Papanya dan juga dirinya sendiri, ia juga harus memikirkan obat-obat yang pasti tidak murah untuk dia. Dalam kondisi yang seperti inilah kisah luar biasa Zhang Da dimulai. Ia masih terlalu kecil untuk menjalankan tanggung jawab yang susah dan pahit ini. Ia adalah salah satu dari sekian banyak anak yang harus menerima kenyataan hidup yang pahit di dunia ini. Tetapi yang membuat Zhang Da berbeda adalah bahwa ia tidak menyerah.</div>
<div id="_mcePaste">Hidup harus terus berjalan, tapi tidak dengan melakukan kejahatan, melainkan memikul tanggungjawab untuk meneruskan kehidupannya dan papanya. Demikian ungkapan Zhang Da ketika menghadapi utusan pemerintah yang ingin tahu apa yang dikerjakannya. Ia mulai lembaran baru dalam hidupnya dengan terus bersekolah. Dari rumah sampai sekolah harus berjalan kaki melewati hutan kecil. Dalam perjalanan dari dan ke sekolah itulah, Ia mulai makan daun, biji-bijian dan buah-buahan yang ia temui. Kadang juga ia menemukan sejenis jamur, atau rumput dan ia coba memakannya. Dari mencoba-coba makan itu semua, ia tahu mana yang masih bisa ditolerir oleh lidahnya dan mana yang tidak bisa ia makan. Setelah jam pulang sekolah di siang hari dan juga sore hari, ia bergabung dengan beberapa tukang batu untuk membelah batu-batu besar dan memperoleh upah dari pekerjaan itu. Hasil kerja sebagai tukang batu ia gunakan untuk membeli beras dan obat-obatan untuk papanya. Hidup seperti ini ia jalani selama lima tahun tetapi badannya tetap sehat, segar dan kuat.</div>
<div></div>
<div>Sejak umur 10 tahun, ia mulai tanggungjawab untuk merawat papanya. Ia menggendong papanya ke WC, ia menyeka dan sekali-sekali memandikan papanya, ia membeli beras dan membuat bubur, dan segala urusan papanya, semua dia kerjakan dengan rasa tanggungjawab dan kasih. Semua pekerjaan ini menjadi tanggungjawabnya sehari-hari.</div>
<div>Obat yang mahal dan jauhnya tempat berobat membuat Zhang Da berpikir untuk menemukan cara terbaik untuk mengatasi semua ini. Sejak umur sepuluh tahun ia mulai belajar tentang obat-obatan melalui sebuah buku bekas yang ia beli. Yang membuatnya luar biasa adalah ia belajar bagaimana seorang suster memberikan injeksi/suntikan kepada pasiennya. Setelah ia rasa ia mampu, ia nekad untuk menyuntik papanya sendiri. Saya sungguh kagum, kalau anak kecil main dokter-dokteran dan suntikan itu sudah biasa. Tapi jika anak 10 tahun memberikan suntikan seperti layaknya suster atau dokter yang sudah biasa memberi injeksi saya baru tahu hanya Zhang Da.</div>
<div>Orang bisa bilang apa yang dilakukannya adalah perbuatan nekad, sayapun berpendapat demikian. Namun jika kita bisa memahami kondisinya maka saya ingin katakan bahwa Zhang Da adalah anak cerdas yang kreatif dan mau belajar untuk mengatasi kesulitan yang sedang ada dalam hidup dan kehidupannya. Sekarang pekerjaan menyuntik papanya sudah dilakukannya selama lebih kurang lima tahun, maka Zhang Da sudah trampil dan ahli menyuntik.</div>
<div>Ketika mata pejabat, pengusaha, para artis dan orang terkenal yang hadir dalam acara penganugerahan penghargaan tersebut sedang tertuju kepada Zhang Da, Pembawa Acara (MC) bertanya kepadanya, &#8220;Zhang Da, sebut saja kamu mau apa, sekolah di mana, dan apa yang kamu rindukan untuk terjadi dalam hidupmu, berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah, besar nanti mau kuliah di mana, sebut saja. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebut saja, di sini ada banyak pejabat, pengusaha, orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!&#8221; Zhang Da pun terdiam dan tidak menjawab apa-apa. MC pun berkata lagi kepadanya, &#8220;Sebut saja, mereka bisa membantumu&#8221; Beberapa menit Zhang Da masih diam, lalu dengan suara bergetar iapun menjawab, &#8220;Aku Mau Mama Kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu Papa, aku bisa cari makan sendiri, Mama Kembalilah!&#8221; demikian Zhang Da bicara dengan suara yang keras dan penuh harap.</div>
<div>Saya bisa lihat banyak pemirsa menitikkan air mata karena terharu, saya pun tidak menyangka akan apa yang keluar dari bibirnya. Mengapa ia tidak minta kemudahan untuk pengobatan papanya, mengapa ia tidak minta deposito yang cukup untuk meringankan hidupnya dan sedikit bekal untuk masa depannya, mengapa ia tidak minta rumah kecil yang dekat dengan rumah sakit, mengapa ia tidak minta sebuah kartu kemudahan dari pemerintah agar ketika ia membutuhkan, melihat katabelece yang dipegangnya semua akan membantunya. Sungguh saya tidak mengerti, tapi yang saya tahu apa yang dimintanya, itulah yang paling utama bagi dirinya. Aku Mau Mama Kembali, sebuah ungkapan yang mungkin sudah dipendamnya sejak saat melihat mamanya pergi meninggalkan dia dan papanya.</div>
<div>Tidak semua orang bisa sekuat dan sehebat Zhang Da dalam mensiasati kesulitan hidup ini. Tapi setiap kita pastinya telah dikaruniai kemampuan dan kekuatan yg istimewa untuk menjalani ujian di dunia. Sehebat apapun ujian yg dihadapi pasti ada jalan keluarnya&#8230;ditiap-tiap kesulitan ada kemudahan dan Allah tidak akan menimpakan kesulitan diluar kemampuan umat-Nya. Jadi janganlah menyerah dengan keadaan, jika sekarang sedang kurang beruntung, sedang mengalami kekalahan&#8230;. bangkitlah! karena sesungguhnya kemenangan akan diberikan kepada siapa saja yg telah berusaha sekuat kemampuannya.</div>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/apa-yang-kau-inginkan-dalam-hidupmu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepasang Kaos Kaki</title>
		<link>http://pengharapan.com/sepasang-kaos-kaki.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/sepasang-kaos-kaki.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 04:55:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[kaos kaki]]></category>
		<category><![CDATA[keinginan]]></category>
		<category><![CDATA[pengorbanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=185</guid>
		<description><![CDATA[Menjadi &#8220;sama dan serupa&#8221; atau dengan panggilan &#8220;cool&#8221;, trendy dengan remaja lain merupakan keinginan semua remaja. Saya masih ingat bagaimana sebagai seorang remaja dalam tahun 70an saya merasakan harus memiliki sepasang kaus kaki sport fesyen yang terbaru yang sedang &#8220;in&#8221;. Persoalannya, bulan lalu saya baru saja membeli sepasang kaus kaki sekolah.
Tetapi, kaus kaki sport sekarang [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">Menjadi &#8220;sama dan serupa&#8221; atau dengan panggilan &#8220;cool&#8221;, trendy dengan remaja lain merupakan keinginan semua remaja. Saya masih ingat bagaimana sebagai seorang remaja dalam tahun 70an saya merasakan harus memiliki sepasang kaus kaki sport fesyen yang terbaru yang sedang &#8220;in&#8221;. Persoalannya, bulan lalu saya baru saja membeli sepasang kaus kaki sekolah.</div>
<div>Tetapi, kaus kaki sport sekarang sedang menjadi kegilaan anak-anak muda, oleh sebab itu saya menjumpai ayah meminta bantuannya.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Ayah, Saya perlukan sedikit uang untuk kaus kaki sport&#8221;, ujar saya satu petang di bengkel di mana ayah saya bekerja sebagai mekanik.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Nak&#8221; ayah kelihatannya terkejut.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;kaus kakimu baru berumur satu bulan, tapi mengapa kini kau perlukan kaus kaki baru?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Setiap orang memakai kaus kaki sport yah!&#8221; sahut ku.</div>
<div id="_mcePaste">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Memanglah begitu keadaannya nak, namun untuk ayah mendapatkannya untuk mu amatlah payah&#8221; ayah diam seketika.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Gaji ayah kecil dan sering tidak mencukupi untuk memenuhi keperluan sehari-harian&#8221; sambung ayah.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Ayah, saya akan kelihatan seperti budak bodoh memakai kaus kaki jenis ini &#8221; kataku sambil menunjuk kepada sepasang kaus kaki yang sedang saya pakai.</div>
<div id="_mcePaste">Ayah memandang dalam-dalam ke mataku.</div>
<div>Kemudian dia menjawab, &#8220;Begini saja, Kau pakai kaus kaki ini untuk satu hari lagi. Besok, di sekolah, perhatikan semua kaus kaki dari kawan-kawanmu. Bila selesai sekolah jika kau masih berkeyakinan bahwa kaus kakimu paling buruk jika dibandingkan dengan kawan-kawanmu, ayah akan memotong uang belanja ibumu dan membelikan sepasang kaus kaki sports&#8221;</div>
<div><span id="more-185"></span></div>
<div>Dengan gembira saya pergi ke sekolah, keesokan paginya, penuh berkeyakinan bahwa hari itu merupakan hari terakhir bagiku memakai kaus kaki yang ketinggalan zaman ini. Saya lakukan seperti apa yang ayah perintahkan, namun tidak saya ceritakan apa yang saya lihat secara teliti.</div>
<div id="_mcePaste">kaus kaki coklat, kaus kaki hitam, kaus kaki tennis yang sudah kusam, semua menjadi pusat perhatianku. Pada petang hari, saya akan memiliki perbendaharaan baru walaupun dalam ingatanku betapa banyaknya lagi teman-teman di sekolah yang juga memakai kaus kaki bukan jenis sport, bahkan kaus kaki-kaus kaki rosak, berlobang, menganga dan lain-lain bentuk yang sudah mendekati kepunahan sebagai alat pelindung kaki.</div>
<div>Namun banyak juga yang memakai kaus kaki sport yang gagah, yang senantiasa membuat pemiliknya kelihatan penuh bergaya bila si pemiliknya menghentakkannya dengan gagah perkasa.</div>
<div id="_mcePaste">Setelah sekolah selesai, saya berjalan cepat ke bengkel di mana ayah bekerja. Saya hampir yakin bahwa Senin depan saya juga akan termasuk dalam kelompok yang sedang &#8220;in&#8221;. Setiap kali saya menghentakkan tumit saya di jalan, saya membayangkan telah memakai kaus kaki sport idaman saya.</div>
<div>Bengkel sepi sekali saat itu. Suara yang terdengar hanya dentingan hentakan besi dari bawah sebuah mobil tua buatan tahun 1956. Udara berbau minyak, namun pada hemat penciuman saya, asyik sekali. Hanya seorang pelanggan sedang menunggu ayah yang sedang bergelut di bawah mobil tua itu.</div>
<div id="_mcePaste">&#8221; Paman &#8221; tanya saya kepada pelanggan yang sedang menunggu, &#8221; masih lamakah? &#8220;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Entahlah. Kau kan tahu sifat ayahmu. Dia sedang membetulkan transmission, namun bila dia mendapati bahwa adanya bagian lain yang tidak betul, dia akan menyelesaikannya juga.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Saya bersandar pada mobil tua itu. Apa yang dapat saya lihat hanyalah sepasang kaki ayah yang menjulur keluar dari bawah mobil. Sambil menjentik-jentik lampu belakang mobil, secara tidak sadar saya menatap kaki ayah. Pakaian kerjanya berwarna biru tua, kusam dan kotor terkena minyak, lusuh pula. kaus kakinya, berwarna putih tua&#8230;. ah &#8230;. bukan hitam muda&#8230;&#8230;, dan sungguh-sungguh buruk, sebagaimana mestinya kaus kaki seorang mekanik.</div>
<div>kaus kaki kirinya sudah tidak bertapak, dan bahagian kanan masih memiliki sepotong kecil kulit tipis, yang dahulu bernama tapak kaus kaki. Di hujungnya, sebaris staples mencengkeram kuat kedua belah kulit, mencegah ibu jari kakinya mengintip keluar. Tali rafia menjadi pengikat kaus kakinya dan sebuah lubang memperlihatkan sebagian dari jari kelingkingnya yang terbalut dari cebisan kotak kadbod.</div>
<div>&#8221; Sudah pulang nak? &#8221; ayah berkata sambil menggelungsur keluar dari bawah mobil.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Yes sir&#8221; kataku.</div>
<div id="_mcePaste">&#8221; Telah kau lakukan seperti apa yang ku perintahkan hari ini?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Yes sir&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Nah, apa jawabanmu ?&#8221; Ayah memandangku, seolah-olah tahu apa yang akan saya ucapkan.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Saya tetap inginkan kaus kaki sport &#8221; Saya berkata tegas, dan berusaha seboleh-bolehnya untuk tidak memandang kaus kaki ayah.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Kalau begitu, ayah harus potong uang belanja ibumu&#8230;.. kenapa tak pergi dan membelinya sekarang?&#8221; lalu ayah mengeluarkan selembar uang sepuluh ringgit.</div>
<div>Saya menerima uang itu dan segera berangkat ke pusat membeli-belah berdekatan dengan bengkel di mana ayah bekerja.</div>
<div id="_mcePaste">Di cermin pamiran disebuah kedai, saya berhenti untuk melihat apakah kaus kaki sportku masih dipamir. Ternyata masih! Dan harganya sembilan ringgit sembilan puluh lima sen. Namun wang saya tidak akan cukup bila saya harus membeli stokin yang akan dipadankan dengan kaus kaki itu agar kelihatan lebih bergaya. Saya berfikir, untuk lari ke rumah dan meminta bantuan dana dari ibu, sebab tidak mungkin untuk saya kembali kepada ayah dan meminta kekurangannya.</div>
<div>Pada saat itu, saya teringat kepada ayah, kaus kaki tuanya terbayang melintasi kedua mataku. Jelas nampak keburukannya, sisinya yang compang-camping, paku paku yang telah mengintip keluar dan sebaris staples yang umumnya dipakai untuk menyepit kertas. kaus kaki kulit usang yang dipakainya untuk menghidupi keluarganya. Pada waktu musim hujan lebat, kaus kaki yang sama dipakainya melintasi jalan-jalan yang banjir, menuju kepada mobil-mobil yang mogok.</div>
<div>Namun ayah tidak pernah mengeluh. Terfikir olehku, betapa banyaknya benda-benda yang seharusnya diingini ayah, namun tidak pernah dimilikinya, semata-mata agar saya mendapatkan apa yang saya ingini. Dan keinginan memiliki kaus kaki sport yang ada di balik kaca pamiran di hadapanku mulai memudar.</div>
<div>Apa jadinya bila ayah bersikap sepertiku. kaus kaki jenis apa yang akan ku pakai saat ini, bila ayahku bersikap seperti saya. Saya masuk ke dalam kedai kaus kaki itu. Sebuah rak besar terpampang megah, penuh berisi kaus kaki sport yang sungguh impressive. Di sebelahnya, terdapat sebuah rak lain, dengan sebingkai tulisan &#8220;BIG SALE!! 50% DISCOUNT&#8221;.</div>
<div>Dibawah bingkai itu tergeletak kaus kaki-kaus kaki seperti model kaus kaki ayah, beberapa generasi lebih muda, tentunya. Otakku bermain ping-pong. Mula-mula kaus kaki ayah yang buruk. Dan sekarang kaus kaki baru. Fikiran mengenai menjadi &#8220;in&#8221; dan seirama dengan remaja lain di sekolah. Dan kemudian fikiran mengenai ayah,&#8230;. telah mengalahkannya.</div>
<div>Saya mengambil kaus kaki ukuran 42 dari rak yang berdiscount. Dengan segera berjalan ke arah kaunter pembayaran dan membayar harganya sebanyak lima ringgit.</div>
<div>Saya kembali ke bengkel dan meletakkan kaus kaki baru ayah di atas tempat duduknya di dalam mobil. Saya mendapatkan ayah dan mengembalikan wang lebihan.</div>
<div>&#8221; Ayah ingat harganya sembilan ringgit sembilan puluh lima sen &#8221; kata ayah.</div>
<div id="_mcePaste">&#8221; Sale &#8221; kataku pendek.</div>
<div id="_mcePaste">Saya mengambil sapu, dan mulai membantu ayah membersihkan bengkel. Pukul lima petang, dia memberi tanda bahawa bengkel harus ditutup dan kami harus pulang.</div>
<div>Ayah mengangkat kotak kaus kaki ketika kami masuk ke dalam mobilnya. Ketika dia membuka kotak itu, dia hanya dapat memandang tanpa mengucapkan sepatah katapun. Dia memandang kaus kaki itu lama-lama, kemudian menoleh pandangannya kepadaku.</div>
<div id="_mcePaste">&#8221; Ayah ingat kau membeli kaus kaki sport &#8220;, katanya, nadanya perlahan.</div>
<div id="_mcePaste">&#8221; Sebetulnya ayah, saya memang berkeinginan memilikinya tetapi &#8230;. saya tak sanggup meneruskan niat saya. Bagaimana saya harus menjelaskannya bahwa saya sungguh ingin menjadi seperti ayah? Dan apabila saya menjadi dewasa kelak, saya sesungguhnya ingin menjadi seperti orang sebaik ini, yang Tuhan berikan kepada saya sebagai ayah saya.</div>
<div>Ayah meletakkan tangannya pada bahu saya, dan kami saling berpandangan buat seketika.</div>
<div id="_mcePaste">Tidak ada kata-kata yang perlu dikatakan.</div>
<div id="_mcePaste">Ayah menghidupkan mesin mobil, dan kami pulang.</div>
<div id="_mcePaste">Terima kasih Tuhan, karena engkau telah memberiku seorang ayah yang baik dan bertanggungjawab&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</div>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/sepasang-kaos-kaki.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

