Aku punya sahabat, sebut saja namanya Pita. Ketika masih kuliah, aku mengenalnya sebagai seorang yang berotak cemerlang. Universitas mengirimnya ke negeri bunga Tulip untuk mempelajari hukum internasional di Universitas Utrecht, sedangkan aku memilih menyelesaikan pendidikanku di bidang kedokteran. Pita terus mengejar impiannya hingga suatu saat ia mendapatkan seorang suami yang sama-sama berprestasi. Bertepatan dengan diangkatnya Pita menjadi staf diplomat dan selesainya suaminya meraih gelar doktor, lahirlah seorang anak laki-laki buah cinta mereka, Eka namanya. Pita semakin sibuk dengan pekerjaannya sedangkan Eka baru berumur 6 bulan. Pita sangat sering meninggalkan Eka pergi dari satu kota ke kota lain, bahkan dari satu negara ke negara lain.
Aku pernah bertanya kepadanya, “Bukankah Eka masih terlalu kecil untuk ditinggalkan ?” “Tidak, aku sudah mempersiapkan segalanya dan semua pasti berjalan baik”, jawab Pita. Read the rest of this entry »
Di-kota. itu, ada seorang pengemis wanita yang juga ibu dari seorang gadis kecil. Tak seorangpun tahu nama aslinya, tapi beberapa orang tahu sedikit masa lalunya, yaitu bahwa ia bukan penduduk asli disitu, melainkan dibawa oleh bekas suaminya dari kampung halamannya. Seperti kebanyakan kota besar di dunia ini, kehidupan masyarakat kota terlalu berat untuk mereka. Belum setahun mereka di kota itu, mereka kehabisan seluruh uangnya, dan pada suatu pagi mereka sadar bahwa mereka tidak tahu dimana mereka tidur malam nanti & tak sepeserpun uang ada di kantong, padahal mereka sedang menggendong bayi mereka yg berumur 1 tahun. Dalam keadaan panik & putus asa, mereka berjalan dari satu jalan ke jalan lainnya, dan akhirnya tiba di sebuah jalan sempit dimana puing-puing sebuah toko seperti memberi mereka sedikit tempat utk berteduh.Saat itu angin Desember bertiup kencang, membawa titik-titik air yg dingin. Ketika mereka beristirahat dibawah atap toko itu. Sang suami berkata “Saya harus meninggalkan kalian sekarang. Saya harus mendapatkan pekerjaan apapun, kalau tidak malam nanti kita akan tidur di sini.”
——————————————————————————–
Setelah mencium bayinya ia pergi. Dan sejak itu, ia tak pernah kembali ke-Los Felidas. Tak seorangpun tahu pasti kemana pria itu pergi.
Selama beberapa hari berikutnya sang ibu yang malang terus menunggu kedatangan suaminya, & bila malam tidur di emperan toko itu.Pada hari ketiga, ketika mereka sudah kehabisan susu, orang-orang yang lewat mulai memberi mereka uang kecil & jadilah mereka pengemis disana selama 6 bulan berikutnya. Suatu hari, tergerak oleh semangat untuk mendapatkan kehidupan lebih baik, ibu itu bangkit & memutuskan utk bekerja. Masalahnya adalah dimana ia hrs menitipkan anaknya, yg kini sudah hampir 2 tahun & tampak cantik jelita. Tiada jalan lain kecuali meninggalkan anak itu di situ & berharap agar nasib tak memperburuk keadaan mereka.
Baca kisah ini terharu banget. Apapun kondisi anak kita, tetaplah anak titipan Tuhan yg wajib kita jaga, pelihara, sayangi, bagaimanapun kondisi fisik atau yg lainnya.
Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan.
Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah. Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya.
Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal.
Cassie menunggu dengan antusias. Kaki kecilnya bolak-balik melangkah dari ruang tamu ke pintu depan. Diliriknya jalan raya depan rumah. Belum ada. Cassie masuk lagi. Keluar lagi. Belum ada. Masuk lagi. Keluar lagi. Begitu terus selama hampir satu jam. Suara si Mbok yang menyuruhnya berulang kali untuk makan duluan tidak digubrisnya. Pukul 18.30.
“Tinnn.. Tiiiinnnnn…!!”
Cassie kecil melompat girang! Mama pulang! Papa pulang! Dilihatnya dua orang yang sangat dicintainya itu masuk ke rumah.