<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pengharapan.com &#187; mama</title>
	<atom:link href="http://pengharapan.com/tag/mama/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pengharapan.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Feb 2012 12:52:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mandikan aku MAMA</title>
		<link>http://pengharapan.com/mandikan-aku-mama.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/mandikan-aku-mama.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 13:15:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[aku]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[mama]]></category>
		<category><![CDATA[mandikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=1279</guid>
		<description><![CDATA[Aku punya sahabat, sebut saja namanya Pita. Ketika masih kuliah, aku mengenalnya sebagai seorang yang berotak cemerlang. Universitas mengirimnya ke negeri bunga Tulip untuk mempelajari hukum internasional di Universitas Utrecht, sedangkan aku memilih menyelesaikan pendidikanku di bidang kedokteran. Pita terus mengejar impiannya hingga suatu saat ia mendapatkan seorang suami yang sama-sama berprestasi. Bertepatan dengan diangkatnya [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://pengharapan.com/aku-menangis-untuk-adikku-sebanyak-6-kali.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Aku Menangis Untuk Adikku Sebanyak 6 Kali'>Aku Menangis Untuk Adikku Sebanyak 6 Kali</a> <small>Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari...</small></li>
</ol>

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku punya sahabat, sebut saja namanya Pita. Ketika masih kuliah, aku mengenalnya sebagai seorang yang berotak cemerlang. Universitas mengirimnya ke negeri bunga Tulip untuk mempelajari hukum internasional di Universitas Utrecht, sedangkan aku memilih menyelesaikan pendidikanku di bidang kedokteran. Pita terus mengejar impiannya hingga suatu saat ia mendapatkan seorang suami yang sama-sama berprestasi. Bertepatan dengan diangkatnya Pita menjadi staf diplomat dan selesainya suaminya meraih gelar doktor, lahirlah seorang anak laki-laki buah cinta mereka, Eka namanya. Pita semakin sibuk dengan pekerjaannya sedangkan Eka baru berumur 6 bulan. Pita sangat sering meninggalkan Eka pergi dari satu kota ke kota lain, bahkan dari satu negara ke negara lain.</p>
<p>Aku pernah bertanya kepadanya, &#8220;Bukankah Eka masih terlalu kecil untuk ditinggalkan ?&#8221; &#8220;Tidak, aku sudah mempersiapkan segalanya dan semua pasti berjalan baik&#8221;, jawab Pita.<span id="more-1279"></span></p>
<p>Di bawah perawatan baby-sitter dan pengawasan kakek-neneknya, Eka tumbuh menjadi anak yang cerdas dan lincah. Kakek neneknya tidak pernah lupa menceritakan kepada Eka akan kehebatan kedua orang tuanya yang telah menjadi kebanggaan mereka semua. Meskipun kedua orang tuanya begitu sibuk, namun Eka bisa memahami kesibukan mereka.</p>
<p>Suatu hari, Eka pernah meminta seorang adik kepada kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya menjelaskan tentang kesibukan mereka yang belum memungkinkan untuk memberikan Eka seorang adik. Kali ini, Eka lagi-lagi mengerti kondisi orang tuanya. Karena sikap Eka yang begitu pengertian dan dewasa, Pita menyebutnya &#8220;Dewi kecil&#8221;. Meskipun kedua orang tuanya sering pulang larut malam, namun Eka tetap bersikap manis dan tidak ngambek. Karena kemanisan sikap Eka, aku pernah mengimpikan seorang anak sepertinya.</p>
<p>Pagi yang cerah di hari itu, entah kenapa Eka tidak mau dimandikan oleh baby sitternya. &#8220;Eka ingin mama yang memandikan&#8221;, katanya.</p>
<p>Pita yang setiap hari berpacu dengan waktu tentu saja menjadi gusar. Eka mengajukan permohonan yang sama selama kurang lebih seminggu, tetapi Pita dan suaminya tidak begitu peduli. &#8220;Mungkin ia sedang dalam masa peralihan sehingga ia minta perhatian yang lebih&#8221;, pikir mereka.</p>
<p>Sampai suatu sore, aku dikejutkan oleh telepon Ida, sang baby sitter. Ada kepanikan di dalam suaranya, &#8220;Bu dokter, Eka sakit demam dan kejang-kejang. Sekarang ia di UGD&#8221;.</p>
<p>Tanpa pikir panjang aku langsung menuju UGD, tetapi semua sudah terlambat. Kematian telah menjemput Eka yang lincah, pintar dan pengertian. Saat kejadian, mamanya sedang meresmikan kantor barunya.</p>
<p>Dalam keadaan terpukul, Pita pulang ke rumah dan satu-satunya yang ingin ia lakukan adalah memandikan anaknya Eka. Keinginan untuk memandikan Eka memang tercapai, walau dalam keadaan tubuh yang terbujur kaku. Ia memandikan Eka diiringi deraian air mata dan rintihan pedih, &#8220;Ini mama sayang &#8230; mama yang memandikan Eka&#8221;.</p>
<p>Tubuh kecil Eka telah tertimbun tanah, tetapi kami masih berdiri membisu disana. Aku membiarkan Pita mengucapkan kata-kata yang bisa menghibur dirinya sendiri atas kepergian Eka-nya. Hening sejenak, sebelum Pita akhirnya tertunduk, &#8220;Bangun Eka, mama mau mandikan Eka, berikan mama kesempatan sekali lagi, Ka &#8230;&#8221;</p>
<p>Rintihan itu begitu menyayat kalbu, tapi semua sudah terlanjur. Penyesalan selalu datang terlambat dan kesempatan yang sama tidak akan pernah terulang.</p>
<p>Nyatakanlah perhatian dan kasih kepada orang-orang yang kita kasihi, selama masih ada kesempatan.</p>
<p>Semua berjalan sesuai dengan Hukum sebab-akibat. Ada sebab maka ada akibat dalam kehidupan ini.</p>
<p>Kita bisa mencari waktu lain untuk berkarier dan berusaha, tetapi orang-orang yang kita kasihi tidak selamanya bisa bersama kita. Siapa yang tahu berapa lama seseorang hidup di dunia ini?</p>
<p>Berbuat baik dan nyatakanlah cinta kasih kita selama masih ada kesempatan.</p>
<p>Semoga semua makhluk berbahagia.</p>
<p>(Diposting oleh Muryati Hapsari di http://facebook.com/pengharapan tanggal 19 Januari 2012)</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://pengharapan.com/aku-menangis-untuk-adikku-sebanyak-6-kali.html' rel='bookmark' title='Permanent Link: Aku Menangis Untuk Adikku Sebanyak 6 Kali'>Aku Menangis Untuk Adikku Sebanyak 6 Kali</a> <small>Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari...</small></li>
</ol></p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/mandikan-aku-mama.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Los Felidas</title>
		<link>http://pengharapan.com/los-felidas.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/los-felidas.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jun 2010 07:42:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[kasih]]></category>
		<category><![CDATA[kemiskinan]]></category>
		<category><![CDATA[mama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=195</guid>
		<description><![CDATA[Di-kota. itu, ada seorang pengemis wanita yang juga ibu dari seorang gadis kecil. Tak seorangpun tahu nama aslinya, tapi beberapa orang tahu sedikit masa lalunya, yaitu bahwa ia bukan penduduk asli disitu, melainkan dibawa oleh bekas suaminya dari kampung halamannya. Seperti kebanyakan kota besar di dunia ini, kehidupan masyarakat kota terlalu berat untuk mereka. Belum [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">Di-kota. itu, ada seorang pengemis wanita yang juga ibu dari seorang gadis kecil. Tak seorangpun tahu nama aslinya, tapi beberapa orang tahu sedikit masa lalunya, yaitu bahwa ia bukan penduduk asli disitu, melainkan dibawa oleh bekas suaminya dari kampung halamannya. Seperti kebanyakan kota besar di dunia ini, kehidupan masyarakat kota terlalu berat untuk mereka. Belum setahun mereka di kota itu, mereka kehabisan seluruh uangnya, dan pada suatu pagi mereka sadar bahwa mereka tidak tahu dimana mereka tidur malam nanti &amp; tak sepeserpun uang ada di kantong, padahal mereka sedang menggendong bayi mereka yg berumur 1 tahun. Dalam keadaan panik &amp; putus asa, mereka berjalan dari satu jalan ke jalan lainnya, dan akhirnya tiba di sebuah jalan sempit dimana puing-puing sebuah toko seperti memberi mereka sedikit tempat utk berteduh.Saat itu angin Desember bertiup kencang, membawa titik-titik air yg dingin. Ketika mereka beristirahat dibawah atap toko itu. Sang suami berkata &#8220;Saya harus meninggalkan kalian sekarang. Saya harus mendapatkan pekerjaan apapun, kalau tidak malam nanti kita akan tidur di sini.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</div>
<div id="_mcePaste">Setelah mencium bayinya ia pergi. Dan sejak itu, ia tak pernah kembali ke-Los Felidas. Tak seorangpun tahu pasti kemana pria itu pergi.</div>
<div id="_mcePaste">Selama beberapa hari berikutnya sang ibu yang malang terus menunggu kedatangan suaminya, &amp; bila malam tidur di emperan toko itu.Pada hari ketiga, ketika mereka sudah kehabisan susu, orang-orang yang lewat mulai memberi mereka uang kecil &amp; jadilah mereka pengemis disana selama 6 bulan berikutnya. Suatu hari, tergerak oleh semangat untuk mendapatkan kehidupan lebih baik, ibu itu bangkit &amp; memutuskan utk bekerja. Masalahnya adalah dimana ia hrs menitipkan anaknya, yg kini sudah hampir 2 tahun &amp; tampak cantik jelita. Tiada jalan lain kecuali meninggalkan anak itu di situ &amp; berharap agar nasib tak memperburuk keadaan mereka.</div>
<div id="_mcePaste"><span id="more-195"></span></div>
<div>Sudah pasti ia berpesan pada anak gadisnya, agar ia tak kemana-mana, tidak ikut siapapun yg mengajaknya pergi atau menawarkan permen. Pendek kata, gadis kecil itu tak boleh berhubungan dg siapapun selama ibunya tak ditempat &#8220;Dalam beberapa hari mama akan dapatkan cukup uang untuk menyewa kamar kecil yang berpintu &amp; kita takkan lagi tidur dengan angin di rambut kita. Gadis itu mematuhi pesan ibunya dengan penuh kesungguhan. Maka sang ibu mengatur kotak kardus dimana mereka tinggal selama 7 bulan agar tampak kosong &amp; membaringkan anaknya dengan hati2 di dlmnya, di sebelahnya ia meletakkan sepotong roti. kemudian dengan mata basah ibu menuju ke pabrik sepatu, dimana ia bekerja sebagai pemotong kulit.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Begitulah kehidupan mereka selama beberapa hari, hingga di kantong sang ibu kini terdapat cukup uang untuk menyewa sebuah kamar berpintu di daerah kumuh. Dengan suka cita ia menuju ke penginapan orang2 miskin itu &amp; membayar uang muka sewa kamarnya. Tapi siang itu ada sepasang suami istri pengemis yg jahat menculik gadis cilik itu dengan paksa &amp; membawanya sejauh 300 kilometer ke pusat kota. Disitu mereka mendandani gadis cilik itu dengan baju baru. Membedaki wajahnya, menyisir rambutnya &amp; membawanya ke sebuah rumah mewah di pusat kota. Disitu gadis cilik itu dijual. Pembelinya adalah pasangan suami istri dokter kaya yang tak pernah bisa punya anak sendiri walaupun mereka telah menikah selama 18 tahun.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Mereka memberi nama anak gadis itu Serrafona &amp; memanjakannya dengan amat sangat. Ditengah2 kemewahan istana itulah gadis kecil itu tumbuh dewasa. Ia belajar kebiasaan2 orang terpelajar seperti merangkai bunga, menulis puisi dan bermain piano. Ia bergabung dengan kalangan2 kelas atas &amp; mengendarai Mercedes Benz ke manapun ia pergi. Pada umurnya yang ke-24, Serrafona dikenal sebagai anak gadis Gubernur yg amat jelita, pandai bermain piano, aktif digereja &amp; sedang</div>
<div id="_mcePaste">menyelesaikan gelar dokternya. la adalah figur gadis yang menjadi impian tiap pemuda, tapi cintanya direbut seorang dokter muda yang welas asih bernama Geraldo. Merekapun menikah. Setahun setelah perkawinan Serrafona &amp; Geraldo, ayahnya wafat. Serrafona beserta suaminya mewarisi beberapa perusahaan &amp; sebuah real-estate sebesar 14 hektar berisi taman bunga &amp; istana termegah dikota itu. Menjelang ultahnya yg ke-27, sesuatu terjadi yg merubah kehidupan Serrafona.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Pagi itu Serrafona sedang membersihkan kamar mendiang ayahnya yang sudah tak pernah dipakai lagi. Di laci meja kerja ayahnya ia melihat selembar foto anak bayi yang digendong sepasang suami istri. Selimut yg dipakai untuk menggendong bayi itu lusuh &amp; bayi itu sendiri tampak tak terurus karena walaupun wajahnya dilapisi bedak tetapi rambutnya tetap kusam. Sesuatu ditelinga kiri bayi itu membuat jantungnya berdegup kencang. la mengambil kaca pembesar &amp; mengkonsentrasikan pandangannya pada telinga kiri itu. Kemudian ia membuka lemarinya sendiri &amp; mengeluarkan sebuah kotak kayu mahoni. Didalam kotak berukir indah itu dia menyimpan semua barang2 pribadinya, dari kalung2 berlian hingga surat2 pribadi. Tapi diantara benda2 mewah itu sesuatu terbungkus kapas kecil, sebentuk anting2 melingkar yg amat sederhana, ringan &amp; bukan emas murni. Ibunya almarhum memberinya benda itu sambil berpesan untuk tidak kehilangan benda itu.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Ia sempat bertanya, kalau itu anting2, dimana satunya. lbunya menjawab bahwa hanya itu yang ia punya. Serrafona menaruh anting-anting itu di dekat foto. Sekali lagi ia mengerahkan seluruh kemampuan melihatnya &amp; perlahan2 air matanya berlinang. Kini tak ada keraguan lagi bahwa bayi itu adalah dirinya sendiri. Tapi kedua pria wanita yang menggendongnya, yang tersenyum dibuat2, belum pernah dilihatnya sama sekali. Foto itu seolah membuka pintu lebar2 pada ruangan yang selama ini mengungkungi pertanyaan-pertanyaannya, Misalnya kenapa jenis wajahnya &amp; wajah kedua orang tuanya berbeda, kenapa ia tak menuruni golongan darah ayahnya. Saat itulah, sepotong ingatan yg sudah seperempat abad terpendam, berkilat dibenaknya, samar2 bayangan seorang wanita membelai kepalanya &amp; mendekapnya di dada.</div>
<div></div>
<div>Di ruangan itu mendadak Serrafona merasakan betapa dinginnya sekelilingnya tetapi ia juga merasa betapa hangat kasih sayang &amp; rasa aman yang dipancarkan dari dada wanita itu. Ia seolah merasakan dan mendengar lewat dekapan itu bahwa daripada berpisah lebih-baik mereka mati bersama.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Matanya basah ketika ia keluar dari kamar &amp; menghampiri suaminya yang sedang membaca koran.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Geraldo, saya adalah anak seorang pengemis &amp; mungkin ibu saya masih ada dijalanan sekarang setelah 25 tahun.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Itu adalah awal dan kegiatan baru mereka mencari masa lalu Serrafonna. Foto hitam putih yang kabur itu diperbanyak puluhan ribu lembar dan disebar ke seluruh jaringan kepolisian di seluruh negeri. Sebagai anak tunggal mantan pejabat yg cukup berpengaruh di kota itu, Serrafonna mendapatkan dukungan seluruh kantor kearsipan, kantor surat kabar &amp; kantor catatan sipil. la membentuk yayasan2 untuk mendapatkan data seluruh panti2 jompo &amp; badan2 sosial diseluruh negeri &amp; mencari data tentang seorang wanita, ibu kandungnya. Bulan demi bulan lewat, tapi tak ada perkembangan apapun dalam usahanya. Mencari seorang wanita yang mengemis 25 tahun lalu di negeri dengan populasi 90 juta bukan sesuatu yg mudah. Tapi Serrafona tak menyerah. Dibantu suaminya yang penuh pengertian, mereka terus menerus meningkatkan pencarian mereka. Kini tiap kali bermobil, mereka sengaja memilih daerah2 kumuh, sekedar untuk lebih akrab dengan nasib baik.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Terkadang ia berharap agar ibunya sudah almarhum agar ia tak terlalu menanggung dosa mengabaikannya selama seperempat abad. Tetapi ia tahu, entah bagaimana, perasaannya berkata bahwa ibunya masih ada &amp; sedang menantinya sekarang. la memberitahu suaminya keyakinan itu berkali-kali &amp; suaminya mengangguk-angguk penuh pengertian. Saat itu waktu sudah memasuki masa Natal. Seluruh negeri bersiap untuk menyambut hari kelahiran Kristus &amp; bahkan untuk kasus Serrafona-pun orang- orang tak lagi menaruh perhatian. Melihat pohon2 terang mulai menyala dimana2, mendengar lagu2 Natal dimainkan, Serrafona menjadi amat sedih. Pagi siang &amp; sore ia berdoa: &#8220;Tuhan, saya bukannya tidak berniat merayakan Natal, tapi ijinkan satu permintaan terbesar dlm hidup saya, temukan saya dgn ibu saya.&#8221; Dan Tuhan mendengarkan doa itu.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Suatu sore mereka terima kabar bahwa ada seorang wanita yg mungkin bisa membantu mereka menemukan ibunya. Tanpa buang waktu, mereka terbang ke tempat itu, sebuah rumah kumuh di daerah lampu merah, 600 km dari kota mereka. Sekali melihat, mereka tahu bahwa wanita yg separoh buta itu, yg kini terbaring sekarat, adalah wanita di dalam foto.</div>
<div></div>
<div>Dengan suara putus2, wanita itu mengakui bahwa ia memang pernah mencuri seorang gadis kecil di tepi jalan, sekitar 25 tahun yang lalu. Tak banyak yg diingatnya, tapi diluar dugaan ia masih ingat kota &amp; bahkan potongan jalan dimana ia mengincar gadis kecil itu &amp; kemudian menculik &amp; menjualnya. Serrafona memberi anak perempuan yang menjaga wanita itu sejumlah uang, dan malam itu juga mereka mengunjung kota dimana Serrafonna diculik.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Mereka tinggal di sebuah hotel &amp; mengerahkan orang2 mereka untuk mencari nama kenalan itu. Semalaman Serrafona tidak bisa tidur. Untuk kesekian kalinya ia bertanya2 kenapa ia begitu yakin bahwa ibunya masih hidup sekarang &amp; sedang menunggunya &amp; ia tetap tidak tahu jawabannya. Hari lewat tanpa kabar. Pada hari ke-3. mereka menerima telepon dari seorang staff mereka.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>&#8220;Tuhan maha kasih, Nyonya, kalau memang Tuhan ijinkan, kami mungkin telah menemukan ibu Nyonya. Hanya cepat sedikit, waktunya mungkin tidak banyak lagi, ia sakit keras.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Mobil mereka memasuki sebuah jalanan sepi, di pinggiran kota yg kumuh &amp; banyak angin. Rumah2 di sepanjang jalan itu tua2 &amp; kusam.</div>
<div id="_mcePaste">Anak2 kecil tanpa baju bermain2 di tepi jalan. Dari jalanan pertama, mobil berbelok lagi ke jalanan yang lebih kecil, kemudian masih belok lagi ke jalanan berikutnya yang lebih kecil lagi. Semakin lama mereka masuk ke dalam lingkungan yang semakin menunjukkan kemiskinan.</div>
<div></div>
<div>Tubuh Serrrafona gemetar, ia seolah bisa mendengar panggilan itu berbisik &#8220;Lekas,Serrafonna, mama menunggumu, sayang&#8221;. Ia mulai berdoa: &#8220;Tuhan beri saya setahun untuk melayani mama. Saya akan melakukan apa saja.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Ketika mobil berbelok memasuki jalan yang lebih kecil, ia bisa mencium kemiskinan yang amat sangat, ia berdoa: &#8220;Tuhan beri saya sebulan saja.&#8221; Mobil belok lagi kejalanan yg lebih kecil &amp; angin yg penuh derita bertiup, berebut masuk melewati celah jendela mobil yg terbuka. Ia mendengar lagi panggilan mamanya, dan ia mulai menangis: Tuhan, kalau sebulan terlalu banyak, cukup beri kami seminggu untuk saling memanjakan.&#8221;</div>
<div></div>
<div>Ketika mereka masuk belokan terakhir, tubuhnya menggigil begitu hebat sehingga Geraldo memeluknya erat-erat. Jalan itu bernama Los Felidas. Panjangnya sekitar 180 meter &amp; hanya kekumuhan yg tampak dari sisi ke sisi, dari ujung ke ujung. Di tengah2 jalan itu, di depan puing2 sebuah toko, tampak onggokan sampah &amp; kantong2 plastik, dan ditengah2nya terbaring seorang wanita tua dengan pakaian sehitam jelaga. tidak bergerak2. Mobil mereka berhenti diantara 4 mobil mewah lainnya &amp; 3 mobil polisi. Dibelakang mereka sebuah ambulans berhenti. Dari kanan kiri muncul pengemis2 yg segera memenuhi tempat itu.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Belum bergerak sejak tadi.&#8221; lapor salah seorang. Pandangan Serrafona gelap tapi ia menguatkan dirinya untuk meraih kesadarannya &amp; turun. Suaminya dengan sigap sudah meloncat keluar memburu ibu mertuanya. &#8220;Serrafona kemari cepat Ibumu masih hidup, tapi kau harus menguatkan hatimu.&#8221; Serrafona memandang tembok di hadapannya &amp; ingat saat ia menyandarkan kepalanya ke situ. la memandang lantai di kakinya &amp; ingat ketika ia belajar berjalan. Ia membaui bau jalanan yg busuk, tapi mengingatkannya pada masa kecilnya. Air matanya mengalir ketika ia melihat suaminya menyuntikkan obat ke tangan wanita yang terbaring itu &amp; memberinya isyarat untuk mendekat.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>&#8220;Ya,Tuhan&#8221;, ia meminta dengan seluruh jiwa raganya, &#8220;beri kami sehari, Tuhan, biarlah saya membiarkan mama mendekap saya &amp; memberinya tahu bahwa selama 25 tahun ini hidup saya amat bahagia. Jadi mama tak menyia-nyiakan saya.&#8221; la berlutut dan meraih kepala wanita itu ke dadanya. Wanita tua itu perlahan membuka matanya &amp; memandang sekeliling, ke arah kerumunan orang2 berbaju mewah itu, ke arah mobil2 mengkilat dan ke arah wajah Serrafona yg penuh air mata yang tampak seperti wajahnya sendiri ketika ia masih muda. &#8220;Mama, ia mendengar suara itu &amp; ia tahu bahwa apa yg ditunggunya tiap malam &#8211; antara waras &amp; tidak &amp; tiap hari &#8211; antara sadar &amp; tidak &#8211; kini menjadi kenyataan. Ia tersenyum &amp; dengan seluruh kekuatannya menarik lagi jiwanya yang akan lepas. Perlahan ia membuka genggaman tangannya, tampak sebentuk anting2 yg sudah menghitam.</div>
<div id="_mcePaste"></div>
<div>Serrafona mengangguk &amp; tanpa perduli sekelilingnya ia berbaring di atas jalanan itu &amp; merebahkan kepalanya di dada mamanya. &#8220;Mama, Saya tinggal di istana &amp; makan enak tiap hari. Mama jangan pergi dulu. Apapun yang mama mau bisa kita lakukan bersama2. Mama ingin makan, ingin tidur, ingin bertamasya, apapun bisa kita bicarakan. Mama jangan pergi dulu&#8230; Mama&#8230;&#8221; Ketika telinganya menangkap detak jantung yang melemah, ia berdoa lagi pada Tuhan: &#8220;Tuhan maha pengasih &amp; pemberi, Tuhan&#8230;. satu jam saja&#8230;. aku minta satu jam saja untuk memeluknya</div>
<div id="_mcePaste">Tapi dada yg didengarnya kini sunyi, sesunyi senja &amp; puluhan orang yg membisu. Orang yg dicintainya telah mati. Hanya senyum ibunya, yang menandakan bahwa penantiannya selama seperempat abad tidak berakhir sia-sia.</div>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/los-felidas.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan Benci Aku Mama</title>
		<link>http://pengharapan.com/jangan-benci-aku-mama.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/jangan-benci-aku-mama.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jun 2010 03:48:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[ditinggalkan]]></category>
		<category><![CDATA[eric]]></category>
		<category><![CDATA[kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[mama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=189</guid>
		<description><![CDATA[Baca kisah ini terharu banget. Apapun kondisi anak kita, tetaplah anak titipan Tuhan yg wajib kita jaga, pelihara, sayangi, bagaimanapun kondisi fisik atau yg lainnya.
Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">Baca kisah ini terharu banget. Apapun kondisi anak kita, tetaplah anak titipan Tuhan yg wajib kita jaga, pelihara, sayangi, bagaimanapun kondisi fisik atau yg lainnya.</div>
<div id="_mcePaste">Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan.</div>
<div>Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah. Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya.</div>
<div id="_mcePaste"><span id="more-189"></span></div>
<div>Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja.</div>
<div>Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.</div>
<div>Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya. Sampai suatu malam. Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali.</div>
<div>Ia melihat ke arah saya. Sambil tersenyum ia berkata, &#8220;Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada Mommy!&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya, “Tunggu, sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Nama saya Elic, Tante.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Eric? Eric&#8230; Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar di kepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati&#8230;, mati&#8230;, mati&#8230;</div>
<div>Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric&#8230; Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. &#8220;Mary, apa yang sebenarnya terjadi?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu.&#8221; Tapi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak. Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya.. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang.. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric… Eric… Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali&#8230;Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu. Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama&#8230; Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya.</div>
<div>Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya pun keluar dari ruangan itu&#8230; Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.</div>
<div>&#8220;Heii&#8230;! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, &#8220;Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Ia menjawab, &#8220;Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, &#8216;Mommy&#8230;, mommy!&#8217; Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu&#8230;&#8221;</div>
<div>Saya pun membaca tulisan di kertas itu&#8230; &#8220;Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi&#8230;? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom&#8230;&#8221;</div>
<div>Saya menjerit histeris membaca surat itu. &#8220;Bu, tolong katakan&#8230; katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras. &#8220;Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana &#8230; Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini&#8230; Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana . Nyonya, dosa anda tidak terampuni!&#8221;</div>
<div>Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.</div>
<div id="_mcePaste">(kisah nyata dari Irlandia Utara)</div>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/jangan-benci-aku-mama.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bukan Aku Tak Cinta</title>
		<link>http://pengharapan.com/bukan-aku-tak-cinta.html</link>
		<comments>http://pengharapan.com/bukan-aku-tak-cinta.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jun 2010 07:49:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>happy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Motivasi, Inspirasi dan Pengharapan]]></category>
		<category><![CDATA[cassie]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[mama]]></category>
		<category><![CDATA[marah]]></category>
		<category><![CDATA[papa]]></category>
		<category><![CDATA[pelampiasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pengharapan.com/?p=105</guid>
		<description><![CDATA[Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal.
Cassie menunggu dengan antusias. Kaki kecilnya bolak-balik melangkah dari ruang tamu ke pintu depan. Diliriknya jalan raya depan rumah. Belum ada. Cassie masuk lagi. Keluar lagi. Belum ada. Masuk lagi. Keluar lagi. Begitu terus selama hampir satu jam. Suara si [...]


No related posts.

Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste">Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal.</div>
<div>Cassie menunggu dengan antusias. Kaki kecilnya bolak-balik melangkah dari ruang tamu ke pintu depan. Diliriknya jalan raya depan rumah. Belum ada. Cassie masuk lagi. Keluar lagi. Belum ada. Masuk lagi. Keluar lagi. Begitu terus selama hampir satu jam. Suara si Mbok yang menyuruhnya berulang kali untuk makan duluan tidak digubrisnya. Pukul 18.30.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Tinnn.. Tiiiinnnnn&#8230;!!&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Cassie kecil melompat girang! Mama pulang! Papa pulang! Dilihatnya dua orang yang sangat dicintainya itu masuk ke rumah.</div>
<div id="_mcePaste"><span id="more-105"></span></div>
<div>Yang satu langsung menuju ke kamar mandi. Yang satu menghempaskan diri di sofa sambil mengurut-urut kepala. Wajah-wajah yang letih sehabis bekerja seharian, mencari nafkah bagi keluarga. Bagi si kecil Cassie juga yang tentunya belum mengerti banyak. Di otaknya yang kecil, Cassie cuma tahu, ia kangen Mama dan Papa, dan ia girang Mama dan Papa pulang.</div>
<div>&#8220;Mama, mama.. Mama, mama&#8230;&#8221; Cassie menggerak-gerakkan tangan Mama. Mama diam saja.</div>
<div id="_mcePaste">Dengan cemas Cassie bertanya, &#8220;Mama sakit ya? Mananya yang sakit? Mam, mana yang sakit?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Mama tidak menjawab. Hanya mengernyitkan alis sambil memejamkan mata.</div>
<div id="_mcePaste">Cassie makin gencar bertanya, &#8220;Mama, mama&#8230; mana yang sakit? Cassie ambilin obat ya? Ya? Ya?&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Tiba-tiba&#8230;</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Cassie!! Kepala mama lagi pusing! Kamu jangan berisik!&#8221; Mama membentak dengan suara tinggi.</div>
<div>Kaget, Cassie mundur perlahan. Matanya menyipit. Kaki kecilnya gemetar. Bingung. Cassie salah apa? Cassie sayang Mama&#8230; Cassie salah apa? Takut-takut, Cassie menyingkir ke sudut ruangan. Mengamati Mama dari jauh, yang kembali mengurut-ngurut kepalanya. Otak kecil Cassie terus bertanya-tanya: Mama, Cassie salah apa? Mama tidak suka dekat-dekat Cassie? Cassie mengganggu Mama? Cassie tidak boleh sayang Mama?</div>
<div>Berbagai peristiwa sejenis terjadi. Dan otak kecil Cassie merekam semuanya.</div>
<div id="_mcePaste">Maka tahun-tahun berlalu. Cassie tidak lagi kecil. Cassie bertambah tinggi. Cassie remaja. Cassie mulai beranjak menuju dewasa.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Tinnn.. Tiiiinnnnn&#8230;!!&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Mama pulang. Papa pulang. Cassie menurunkan kaki dari meja. Mematikan TV. Buru-buru naik ke atas, ke kamarnya, dan mengunci pintu. Menghilang dari pandangan.</div>
<div>&#8220;Cassie mana?&#8221;. &#8220;Sudah makan duluan, Tuan, Nyonya.&#8221;</div>
<div id="_mcePaste">Malam itu mereka kembali hanya makan berdua. Dalam kesunyian berpikir dengan hati terluka: &#8220;Mengapa anakku sendiri, yang kubesarkan dengan susah payah, dengan kerja keras, nampaknya tidak suka menghabiskan waktu bersama-sama denganku? Apa salahku? Apa dosaku? Ah, anak jaman sekarang memang tidak tahu hormat sama orangtua! Tidak seperti jaman dulu.&#8221;</div>
<div>Di atas, Cassie mengamati dua orang yang paling dicintainya dalam diam. Dari jauh. Dari tempat dimana ia tidak akan terluka.</div>
<div id="_mcePaste">&#8220;Mama, Papa, katakan padaku, bagaimana caranya memeluk seekor landak?&#8221;</div>


<p>No related posts.</p>
<p>Related posts brought to you by <a href='http://mitcho.com/code/yarpp/'>Yet Another Related Posts Plugin</a>.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pengharapan.com/bukan-aku-tak-cinta.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

