Di suatu Koran Itali, muncullah berita pencarian orang yang istimewa.

17 Mei 1992 di parkiran mobil ke 5 Wayeli (nama kota , tak tahu aku bener ngak nulisnya), seorang wanita kulit putih diperkosa oleh seorang kulit hitam. Tak lama kemudian, sang wanita melahirkan seorang bayi perempuan berkulit hitam. Ia dan suaminya tiba-tiba saja menanggung tanggung jawab untuk memelihara anak ini. Sayangnya, sang bayi kini menderita leukemia kanker darah dan ia memerlukan transfer sumsum tulang belakang segera. Ayah kandungnya merupakan satu-satunya penyambung harapan hidupnya. Berharap agar pelaku pada waktu itu saat melihat berita ini, bersedia menghubungi Dr. Adely di RS Elisabeth.

Berita pencarian orang ini membuat seluruh masyarakat gempar. Setiap orang membicarakannya. Masalahnya adalah apakah orang hitam ini berani muncul. Padahal jelas, ia akan menghadapi kesulitan besar. Jika ia berani muncul, ia akan menghadapi masalah hukum, dan ada kemungkinan merusak kehidupan rumah tangganya sendiri. Jika ia tetap bersikeras untuk diam, ia sekali lagi membuat dosa yang tak terampuni. Kisah ini akan berakhir bagaimanakah? Read the rest of this entry »

Cerita Sedih Di Lampu Merah

Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jack segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu perempatan di situ cukup padat sehingga lampu merah biasanya menyala cukup lama. Kebetulan jalan di depannya agak lenggang. Lampu berganti kuning. Hati Jack berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter menjelang garis jalan, lampu merah menyala. Jack bimbang, haruskah ia berhenti atau terus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem mendadak,” pikirnya sambil terus melaju.

Prit! Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya berhenti. Jack menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati. Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing.
Read the rest of this entry »

Duel

Dunia ini, penuh Dendam & Permusuhan. Didalam Keluarga, lingkungan sekitar, hingga dunia Bisnis. Semuanya penuh persaingan & saling menjatuhkan. Adakah Cara menghentikannya ???

Pada saat itu udara di luar sangat dingin, sehingga danau2 di sekitar gunung Tay San telah menjadi es semua, walaupun demikian di bawah satu pohon yang rindang duduk bersila seorang pria dengan badan bagian atasnya terbuka, seperti orang lagi kepanasan. Anehnya walaupun di luar udara sangat dingin, namun keluar asap mengepul dari kepala orang itu, seperti asap dari kawah gunung, kalau orang tidak mengetahuinya, pasti akan menduga bahwa orang ini kepalanya sedang kebakaran.
Kenyataannya tidaklah demikian, pendekar ini sedang menjalankan dan mempraktekkan ilmu “Api panas” yang dalam bahasa Mandarin-nya disebut Hot Fai Ya (alias ‘Hot Fire’ hehehe…). Kalau beras mentah digenggam di tangannya dlm jangka waktu 10 menit saja pasti sudah bisa jadi nasi, karena tangannya bisa berfungsi seperti rice cooker untuk menanak nasi.
Puluhan tahun waktu & tenaganya telah ia korbankan untuk mempelajari ilmu ini. Setiap hari ia diharuskan minum darah ular Kobra yang panas minimum 2 liter, makan kambing hidup 1 ekor, dsb, hanya dengan satu tujuan saja ialah untuk membalas dendam terhadap suhengnya (kakak seperguruannya) sendiri, walaupun sebenarnya ia dahulu dihajar oleh suhengnya, ketika ia tertangkap basah karena berzinah dengan perempuan tetangganya. Sekarang tibalah saatnya dimana ia merasa bisa membalas dendam kesumat ini terhadap suheng-nya karena telah mempermalukannya di depan rekan2 seperguruan.

Read the rest of this entry »

Judul aslinya: Forgiveness and the Freedom of Letting go

 

Selalu, saya akan tenggelam dalam luasnya danau di keriput garis mata wanita itu; garis yang berkisah tentang kesabaran, perjuangan hidup, penderitaan dan pengorbanan serta maaf. Menelusuri peta yang ada di wajahnya, saya tak pernah tersesat dalam membaca atau mencari sebuah kota bernama: keikhlasan. Kali ini, saya berusaha menyusun kepingan kesabaran dan danau maaf yang ada padanya dari sebuah drama kecil yang meluruhkan air mata saya pada akhir Februari 2003 lalu, di sebuah bangsal kelas II Rumah Sakit Umum Giriwono, Wonogiri.
Tubuh renta wanita itu melangkah ragu, mungkin beberapa bagian disebabkan perjalanan sekitar dua jam dengan memakai bus. Ia memang hampir selalu mabuk dalam perjalanan semacam itu kendati hanya dalam bilangan jam.
“Mbah…!” suaranya bergetar saat berada di ambang pintu.
Nanap, ia menatap sesosok tubuh yang tergolek di atas tempat tidur dengan berbagai selang; infus, bantuan pernapasan, dan saluran pembuangan… Laki-laki yang tergolek itu membalas tatapnya, menahan sejenak, lantas pelan-pelan dialihkan ke tempat lain. Ada sedu tertahan, sesak dalam dada.
“Bagaimana, Mbah?” kembali sapa wanita itu seraya mendekat dan meraba kening si lelaki.
“Yang sakit bagian mana?” lanjutnya.
Tangannya membelai kening lelaki itu dan turun ke telinganya. Lelaki itu telah dua hari dirawat di rumah sakit karena penyakit stroke. Tubuh bagian kanannya lumpuh. Lemah, tangan kiri si lelaki berusaha meraih tangan wanita itu, menggenggamnya lama, tetap dengan mata menghindari bertatap dengannya. Ada kepundan yang bergolak-golak di sana dan tangis yang enggan dipurnakan.