Inilah perkataan yang diucapkan ibu Teresa sebelum kematiannya :
“Kalau saya memungut seseorang yang lapar dari jalan, saya beri dia sepiring nasi, sepotong roti. Tetapi seseorang yang hatinya tertutup, yang merasa tidak dibutuhkan, tidak dikasihi, dalam ketakutan, seseorang yang telah dibuang dari masyarakat – kemiskinan spiritual seperti itu jauh lebih sulit untuk diatasi.”
Mereka yang miskin secara materi bisa menjadi orang yang indah.
Pada suatu petang kami pergi keluar, dan memungut empat orang dari jalan. Dan salah satu dari mereka ada dalam kondisi yang sangat buruk. Read the rest of this entry »
Seorang eksekutif muda sedang beristirahat siang di sebuah kafe terbuka. Sambil sibuk mengetik di laptopnya, saat itu seorang gadis kecil yang membawa beberapa tangkai bunga menghampirinya.
”Om beli bunga Om.”
”Tidak Dik, saya tidak butuh,” ujar eksekutif muda itu tetap sibuk dengan laptopnya.
”Satu saja Om, kan bunganya bisa untuk kekasih atau istri Om,” rayu si gadis kecil. Read the rest of this entry »
Si-Lumpuh dari kota Tennese
Wilma Rudolph, lahir dari keluarga yg sangat miskin 23 Juni 1940, diTennesee, USA. Anak ke-20 dari 22 bersaudara. Ayahnya hanya seorang porter KA / kuli angkut barang & ibunya hanya tukang masak & cuci baju tetangga. Hidup mereka benar2 miskin.
Saat usia 4 tahun, ia menderita radang paru2 & demam tinggi yg menyebabkan kakinya lumpuh karena polio. Orgtuanya tak mampu membeli obat karena waktu itu Amerika masih ada rasialisme yg membuat orang2 kulit hitam mendapatkan perlakuan buruk dalam kesehatan & pendidikan. Akhirnya, la harus menggunakan kruk/penyangga & dokter menyatakan bahwa kakinya akan lumpuh selamanya. Tetapi ibunya terus berdoa pd TUHAN & memberi keyakinan pd Wilma bahwa ia pasti normal kembali. Di-saat yg buruk, kakinya yg lumpuh semakin mengecil & hanya terjuntai kebawah tak bereaksi apapun. Namun Wilma terus mengucapkan kata2 iman & berkata “Aku akan menjadi wanita tercepat di-dunia di-lintasan lari.” & ia terus mencoba berdiri, walau sdh ribuan kali ia mencoba & jatuh. Ia tak menyerah.
Saat bayi, dijual ibunya untuk biaya rumah sakit. Jackie Chan, lahir di-Hong Kong 7 April 1954 dengan nama Chan Kong Sang. Ayah & ibunya adalah pesuruh di-kedutaan Francis. Saking miskinnya, saat lahir, Jackie dijual ke-dokter yang membantunya lahir karena orang tuanya tak sanggup membayar biaya obat. Untunglah salah satu teman ayahnya mau memberi pinjaman 500HK (Rp. 250.000) untuk menebus Jackie.
Saat 7 tahun orang tuanya terpaksa meninggalkannya mencari nafkah di kedutaan Cina di-Australia. Jackie kecil diserahkankan ke-sekolah opera Peking dibimbing guru Yu Jim Yuen. Awalnya, Jackie gembira sekali, namun kemudian dia sadar betapa keras kehidupan harus dihadapinya.
Di-Sekolah Opera Peking, ia harus bangun & siap pada jam 5 pagi, lari keliling sekolah, latihan keras 6 jam, istirahat tanpa makan siang, latihan lagi, mandi, makan malam, latihan lagi & tidur jam 9 malam. Ia juga sering dihajar habis2an oleh gurunya, dipukuli, dijambak, ditampar, dsb saat melakukan kesalahan. Sering ia harus tidur jam 2 pagi karena salah gerakan & harus mengulang hingga berhasil. Bahkan bila satu murid saja membuat gurunya marah, maka semua murid dihajar habis. Kebrutalan ini membuat Jackie kecil & teman2nya berusaha saling melindungi satu sama lain & terikat persahabatan hingga sekarang dengan rekan2 seperguruan seperti Sammo Hung, Yuen Piao, Yuen Wah & Correy Yuen Kwai.(semua sama2 terjun ke dunia film)
Negeri China pada masa lalu bukanlah negeri yang kaya seperti saat ini. Pada saat itu, masih sangat banyak rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Sepotong kue bagi mereka bisa berarti sebuah nyawa. Inilah kisahnya:
Siu Lan, seorang janda miskin memiliki seorang putri kecil berumur 7 tahun, Lie Mei. Kemiskinan memaksanya untuk membuat sendiri kue-kue dan menjajakannya di pasar untuk biaya hidup berdua. Hidup penuh kekurangan membuat Lie Mei tidak pernah bermanja-manja pada ibunya, seperti anak kecil lain. Suatu ketika dimusim dingin, saat selesai membuat kue, Siu Lan melihat keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Dia berpesan agar Lie Mei menunggu di rumah karena dia akan membeli keranjang kue yang baru. Pulang dari membeli keranjang kue, Siu Lan menemukan pintu rumah tidak terkunci dan Lie Mei tidak ada di rumah. Marahlah Siu Lan.Putrinya benar-benar tidak tahu diri, sudah hidup susah masih juga pergi bermain dengan teman-temannya. Lie Mei tidak menunggu rumah seperti pesannya. Siu Lan menyusun kue kedalam keranjang, dan pergi keluar rumah untuk menjajakannya. Dinginnya salju yang memenuhi jalan tidak menyurutkan niatnya untuk menjual kue. Bagaimana lagi ? Mereka harus dapat uang untuk makan.